Nature vs Nurture During Pregnancy (And After)

I used to be so scared of having (another) children.

Buat yang belum tau sejarah saya—I used to suffer from Postpartum Depression. Perjalanan saya sejak menikah, punya anak, mengidap depresi… dan ditegur Allah melalui sebuah momen kaget di mana anak pertama saya didiagnosa Speech Delay, adalah serentetan perjalanan yang tidak mungkin saya lupakan salah satunya. Setiap hal di dalamnya memiliki arti, makna, dan hikmah yang memberi saya pelajaran untuk chapter berikutnya.

Untuk pertama kalinya semenjak saya melewati masa-masa menantang sebagai Ibu, tetiba rasa itu muncul; saya ingin punya bayi lagi. Sesuatu yang katanya takabur untuk diucapkan… tapi saya pikir, memang kepingin aja enggak boleh?

Bukan soal anak laki-laki atau perempuan… semenjak belum menikah saya memang ingin sekali punya 3 anak. Enggak tau ya, pendapat pribadi saja… 2 anak memang terbilang manageable bagi kebanyakan teman yang saya tanyakan pendapatnya—tapi saya sendiri datang dari keluarga dengan 3 saudara sekandung. Dan setiap kali ada apa-apa, berunding ‘kanan-kiri’ itu rasanya nyaman.

Percayalah, bertahun-tahun saya merasa sangat incapable. Rasanya sempat impossible untuk menambah anak. Saya merasa sangat jauh dari kata mampu. Namun untuk pertama kalinya saya merasa tenang dan lapang.

Salah satu hal yang membuat saya kembali merasa nyaman, adalah dengan memahami bahwa saya bisa berusaha menciptakan keadaan yang kondusif untuk saya dan anak-anak saya. Namanya juga usaha, yakan! Dan ya, inilah yang membuat saya membahas tentang kehamilan… juga Nature vs Nurture yang membentuk anak.

Nature secara kata berarti, inborn or hereditary characteristics as an influence on or determinant of personality (bawaan lahir). Sedangkan Nurture memiliki makna care for and encourage the growth or development of (hasil stimulasi).

Sejak lama para ilmuwan memperdebatkan antara seberapa berpengaruh kedua aspek ini dalam pembentukan karakter seorang anak. Namun pada akhirnya buku Infant and Toddler Development karya Kay Albretch / Linda G. Miller menyebutkan 4 bagian yang akan menjadi pembentuk utama kepribadian seorang anak. Keempat bagian itu adalah;

  • Temperament
  • Developmental Uniqueness
  • Biological Predispositions
  • Experience

Supaya mudah, akan saya jelaskan satu persatu, ya.

Yang dimaksud dengan temperament adalah animal nature atau bahasa mudahnya ‘insting bawaan’ yang dapat memberi efek dalam kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki seseorang. Contoh, seorang anak memiliki temper yang ‘slow to warm up’ atau lama beradaptasi. Bisa jadi ia perlu dipeluk oleh Ibunya selama setidaknya selama 30 menit sebelum masuk ke dalam lingkungan atau ruangan baru—dan kalau tidak? Ia mungkin saja menangis. Stres, bahkan tantrum. Kalau begini salahkan siapa? Tidak ada yang perlu disalahkan. Biasanya temper ini juga merupakan faktor keturunan—jadi setidaknya Ayah, Bunda, atau bahkan Nenek dan Kakek ada yang memiliki tendensi seperti ini. Yang bisa kita lakukan adalah memahami anak dan membantunya agar lebih adaptable, karena toh kita sendiri lho yang menurunkan ini kepada anak.

Yang menarik lagi bagi saya adalah Biological Predispositions, yang memiliki penjelasan sebagai berikut: it’s when a subject (human, animal, plant) possesses some internal quality that gives them an increased likelihood of having a condition. Bahasa gampangnya? Terdapat sebuah tendensi kualitas (baik positif maupun negatif) yang bersifat biologis atau berasal dari keturunan, yang tersimpan dalam diri seseorang. Tendensi biologis ini biasanya perlu diaktifkan dengan stimulus, namun bisa lebih mudah aktif dibanding sifat-sifat lainnya apabila terstimulasi. Contoh? Saya akan mengambil kasus anak laki-laki sahabat saya yang bernama Azzam. Azzam ini Daddy­-nya seorang atlet, makanya jauh lebih mudah melatih dia ikut triathlon daripada anaknya si X yang Ayahnya web developer, misalnya. Namun apakah Azzam memiliki stamina sekuat Daddy­-nya apabila tidak di stimulasi? Bisa jadi tidak! Jadi, predisposisi ini tentu tetap membutuhkan nurture atau pembiasaan untuk akhirnya bisa ‘aktif’.

Dua lainnya yaitu Developmental Uniqueness dan Experience, murni berasal dari bagaimana guru-guru pertama (Orang Tua, Guru Sekolah, dan Lingkungan) me-nurture anak. Berbicara Developmental Uniqueness tentu tak hanya soal akal dan mental, tapi juga fisik seperti kecukupan nutrisi yang diberikan oleh Orang Tua kepada anak. Mengapa disebut unik? Bayangkan saja… anak telah memiliki ‘bawaan lahir’ yang begitu banyak, ditambah dengan kebiasaan sang Ibu di kala hamil, dan kemudian ditambah lagi dengan pengalaman dan keunikan tahap perkembangan yang dihasilkan oleh semua ‘variabel’ tadi. Setujukah teman-teman apabila saya bilang anak adalah makhluk yang sangat one of a kind dan tidak ada yang bisa menyamainya.

Kalau sudah begini, masih bisa enggak kira-kira kita membandingkan anak kita dengan anak orang? 🙂

***

Setelah 5 menit belajar Biologi dan Psikologi, kita mulai ke bicara praktis, ya. Jadi piye toh Mba Priss??? HARUS CEMANA SAYAHHH????!

Oke. Bhaique ;D Waktu pertama kali punya anak, saya kira anak itu ya modal keberuntungan aja. Syukur-syukur dapet yang anteng, dapet yang easy going. Tapi kembali ke faktor Temperament dan Biological Predispositions, ada gen berisi 23 pasang kromosom yang diturunkan oleh Ayah dan Ibu. Hal ini membentuk ciri-ciri fisik, dan tentunya juga Temperament dan Biological Predispositions yang saya jelaskan tadi.

Bagaimana dengan sisi Nurture? Tentunya kita punya pola asuh, juga pengalaman-pengalaman yang diterima dari 3 guru utama yaitu Orang Tua, Guru di Sekolah, dan juga Lingkungan. Kalau secara 4 ‘godokan’ tadi, tentu ini adalah Developmental Uniqueness dan Experience yang diberikan guru-guru pertama anak.

Berikut beberapa contoh cerita, ya:

KASUS 1

NATURE: Si Ayah adalah tipe yang suka makan sabun sewaktu kecil. Tetiba anak si Ayah ada masanya suka colongan mencicipi busa sabun di kala mandi (ini true story ya, pemirsa—terjadi pada SUAMI SAYA dan ANAK PERTAMA SAYA BAIKLAH YES OKE).

NURTURE: Si Ibu dan Ayah mati-matian mencoba memberi pijakan kepada anak bahwa “Sabun adalah cairan pembersih tubuh.” Atau “Yang masuk mulut, makanan.” Serta memberi contoh bagaimana si Ayah tidak pernah memakan sabun tersebut. Hasilnya? Akhirnya si anak mampu sukses tidak makan sabun di usia 4,5 tahun.

KASUS 2

NATURE: Si Ibu rempong, ngambekan dan gengsian. Akhirnya nurun ke anak keduanya. Lebih tepatnya, si Ibu tengah PPD ketika hamil si Adek. Sedih ya pemirsa ;(

NURTURE: Si Adek disekolahkan oleh Sang Ibu sejak usia 1 tahun 4 bulan. Si Ibu mencari interupsi sejak dini dengan cara memperbaiki pola asuh si anak, dengan dipandu guru-guru sekolahnya. Saat ini si Adek tengah berusia 4,5 tahun dan meski masih suka rempong dan ngambekan, ia amat sangat peka dan sensitif pada perasaan Ibunya—persis sensitifnya seperti saat sang Ibu tengah PPD. Tapi setidaknya, sisi sensitif itu bisa dijadikan suatu sisi yang menjadi hal positif bagi si anak. Si Ibu tidak akan bisa menghilangkan sisi sensitif si anak sepenuhnya karena hal ini telah masuk ke dalam gen si anak, dan telah menjadi Biological Predisposition yang membuat si anak memiliki tendensi untuk satu atau lain sifat. Dengan peranan Experience dan Developmental Uniqueness, akhirnya si anak mampu mengontrol sifat sensitifnya menjadi sesuatu yang positif.

Pada akhirnya apabila bicara soal gen, saya sendiri mengambil kesimpulan untuk mencoba berusaha menjadi sebaik-baiknya manusia saat melakukan program hamil. Supaya apa? Supaya kebaikan-kebaikan yang saya kuatkan dalam diri itu menurun ke anak saya kelak. Dan enggak cuma saya doang ya, tentu suami juga harus ambil bagian! Satu lagi; gen itu bisa berubah, jadi tergantung bagaimana kondisi kita saat terjadi pembuahan.

Sampai momen saat si Bayi telah terbentuk dan berada di dalam kandungan. Kemarin ada yang bilang, “Didiklah bayi sejak dalam kandungan,” ini 100% bener. Kalau soal ngaruh apa enggaknya, kembali lagi ke kekuatan doa dan kuasa Allah Ta’ala, ya. Tapi kalau teman-teman sudah yakin mau menjalani kehamilan dengan mindful dan denggak hanya Netflix and chill seperti modelan saya di kehamilan pertama, you can start with three things: yaitu makan, lakukan, dan interaksi.

Makan, dalam arti cukup gizi, cukup nutrisi. Seberapa banyakpun ibadah, afirmasi, pendidikan verbal maupun nonverbal melalui kebiasaan, atau apapun namanya… tidak akan ‘masuk’ secara optimal ke badan bayi kalau kita cuma mau makan ayam geprek. Atau ngidamnya sambel terasi level 10 pake nasi. Atau cuma mau buah tapi ga suka makan protein. Paham sih, saya juga pernah mual-mual luar biasa saat kehamilan pertama (honestly, saya enggak bisa melihat matahari sampai hamil 3 bulan karena eneg). Jadi waktu itu saya disarankan oleh Dokter untuk makan dalam porsi kecil dengan frekuensi banyak. Saya waktu itu sangat enggak tahan MSG (believe me I can smell it in 5 miles and throw up. Nobody could lie to me about not using one :/). Lebih jelasnya lagi tentu bisa konsultasi ke obgyn masing-masing yah 😀

Yang kedua, Lakukan. Lakukan apa? Lakukan apa saja yang menurut teman-teman bisa dijadikan contoh untuk bayi. Kalau versi saya saat ini misalnya rutin baca dan tadabbur Al-Qur’an, makan sayur buah (karena anak pertama dan kedua saya cukup picky terhadap hal ini), juga banyak membaca dengan mengurangi screen time dan televisi. Paham, enggak semudah itu melawan bawaan hamil, tapi inget lho—kita mau ‘menabung’ buat ‘investasi-jangka-panjang-sekali’.

Ketiga, Lingkungan. Ibu Wismiarti Tamin, pendiri Sekolah Al-Falah Jakarta Timur sempat berkata, interaksi Ibu & Ayah dan Ibu & Lingkungan juga memberi peran besar dalam pembentukan pribadi anak. Apabila si Ayah dan Ibu mesra banget selama hamil, ngaruh dong? Ya ngaruh lah. Gimana kalau Ibu sering stres ngurusin kerjaan? Ya ngaruh juga, lah.

Balik lagi, tak hanya soal temperamen (ya, temper ini jelas-jelas diturunkan, lho), kebiasaan dan kepribadian sang Ibu pada saat pembuahan terjadi mungkin saja terbawa dalam 23 kromosom yang menjadi hasil pembuahan dari Ayah dan Ibu. Seberapa banyak yang baik, dan seberapa banyak yang kurang baik? Nah kalau ini, kembali ke Sang Pencipta, ya. Meski balik lagi (balik lagi mulu!) tidak tertutup kemungkinan hal ini dapat terinterupsi oleh kebiasaan berbeda yang Ibu lakukan selama hamil si anak (nurture).

Kesimpulan mudahnya aku ingetin lagi; kalau belum hamil dan ingin program hamil, jadilah sebaik-baiknya manusia—bukan hanya pencitraan doang, ya, kalo gitu nanti pencitraannya loh yang nurun loh HAHA. Kalau sudah hamil; kuncinya ada di Makan, Lakukan, Lingkungan.

Bicara mindfulness—ingatlah… semua hal yang kita lakukan ada tujuannya. Bersikap mindful saat hamil dan memahami bahwa setiap hal yang kita lakukan dalam 9 bulan mengandung akan menjadi bekal yang more or less bisa mempengaruhi pribadi or better membekali anak dengan hal bermanfaat, tentu bisa jadi merubah sudut pandang kita terhadap waktu yang kita miliki. Dan satu lagi… banyak-banyak berdoa. Karena seberapapun kita berusaha, pada akhirnya ada Yang Maha Menentukan 🙂

Satu lagi ya kata-kata mutiaranya…sebelum udahan.

Bila kita tak bisa merubah keadaan, cobalah untuk merubah sudut pandang. Karena masa konsepsi dan hamil terlalu berharga untuk kita lewati dengan hal-hal yang membuat kita drop atau enggak nyaman.

 

Demikian sekilas info, semoga tulisan dari seorang Ibu yang demen baca sambil mikir ini bermanfaat. Dan satu lagi; I never ask for this before.. but do share this article pada siapa saja yang menurut mentemen membutuhkan. For a better generation.

I love you guys!

  

Cheers,

img_7568

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s