Stimulasi, Mom’s Guilt, dan Pencerahan Seorang Ahli Tumbuh Kembang Anak

Sesuai janji saya di Instastory, saya akan mengulas tuntas ilmu dan terutama lagi pencerahan yang saya dapatkan saat hadir di acara Parenting Club Indonesia beberapa waktu lalu. Percayalah, saya jarang sekali mau datang ke event di kala weekend—kecuali benar-benar berfaedah dan tentunya; bisa membawa anak.

Mam pasti pernah ‘kan bertanya pada diri sendiri; “Sudahkah tahap tumbuh kembang si kecil sesuai dengan usianya?” Nah, Parenting Club Indonesia membuat suatu terobosan yang bernama Kalkulator Akal, Fisik, dan Sosial; yang dapat membantu Orang Tua mengevaluasi apakah kecerdasan anak mereka sudah sesuai dengan usia kronologisnya atau belum.Kalkulator Akal Fisik Sosial ini bisa teman-teman coba di www.parentingclub.co.id atau shortcut-nya di bit.ly/Kalkulator-AFS. Selain mengkalkulasi kemampuan anak dalam tahap tumbuh kembang, ada pula berbagai macam ilmu dan insight membangun kecerdasan anak yang dapat kita persiapkan sebelum anak mencapai tahap usia tertentu. Jadi enggak ngeraba-raba lagi, deh!

Seperti teman-teman ketahui, sudah sekitar 6 bulan terakhir saya sangat getol membahas soal mindful parenting dan juga tumbuh kembang anak. Dan lebih kuatnya lagi; pada bagaimana kita menangani wellness diri kita sebagai Orang Tua atau Ibu, yang ternyata sangat berpengaruh pada perkembangan akal, fisik, dan sosial anak-anak kita.

Tak butuh waktu lama bagi Bhamas untuk engaged dengan playground dan tempat mandi bola yang terpampang di antara cantiknya unsur kayu dan rumput sintetis di Miniapolis Playground Plaza Indonesia. Saya pun segera menempati tempat duduk saya dan bersiap mendengarkan Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA(K) atau yang akrab disapa Dokter Wawan.

“Tolong saya minta jangan sibuk mencatat, Bu Ibu… karena kadang Ibu-Ibu ini suka sibuk sama teori sampai tidak dapat esensi dan pengertian yang sebenarnya,” ujar Dokter Wawan.

Jujur, awalnya saya tidak terlalu berminat menulis sesuatu. Namun tetiba saya merasa ada yang istimewa dari apa yang akan disampaikan dokter ini.

***

Saya adalah seorang Ibu yang pernah mengalami jatuh-bangun karena anak saya mengidap status ‘temporary special needs’. Atharyahya lebih tepatnya, anak pertama saya yang telat ngomong dan juga memiliki emosi yang sangat fluktuatif. Tiga tahun saya membenahi keterlambatan tahap tumbuh kembangnya itu terasa seperti selamanya bagi saya—dan sungguh tak terbayangkan juga tak percaya, mengetahui bahwa Athar telah melewati masa tersebut. Jujur, saya tak pernah mendatangi dokter khusus tumbuh kembang anak meski beberapa DSA pernah menyarankan saya… tapi pada saat itu, insting dasar saya pun sudah mengerti bahwa hanya saya yang dapat membenahi ini semua.

Dan di hari Sabtu cerah bersama Parenting Club itu—no matter how cliché it might sound—saya mendapatkan sudut pandang seorang DSA yang telah bertemu dengan ribuan Orang Tua dengan pengalaman seperti saya. Yang sebelumnya saya tak pernah paham sudut pandang luar; Dokter Wawan memberinya dan mengungkapkannya secara gamblang.

“Saya kalau ketemu Orang Tua yang anaknya telat ngomong, maunya siang ketemu saya; sorenya udah bisa ngomong. Mana bisa?”

Haha.

“Yang kadang para Orang Tua ini lupa, meski saya ini DSA Spesialis Tumbuh Kembang Anak, tapi hanya Orang Tua yang paling paham apa yang dapat diterima dan dibutuhkan anak-anaknya.”

*emoticon nangis bombay*

“Stimulasi harus dilakukan secara dini, rutin, dan konsisten. Sejak anak baru lahir, Orang Tuanya gila senyum, gila ngomong. Tiga bulan kemudian apa yang akan terjadi? Anaknya senyum. Anaknya bersuara. Lalu apa lagi? Lanjutkan terus. Tambahkan dengan stimulus-stimulus fisik. Terus apa lagi? Begitu seterusnya—lakukan terus menerus. Karena memang begitu hakekatnya membangun otak anak Anda.”

“Pada saat melakukan stimulasi, artinya interaksinya bersifat interaktif dan timbal balik. Kalau anak melakukan sebuah gerakan atau percobaan, kita tanggapi dan beri arahan. Jangan didiamkan!”

Dan dengan semudah itu, saya kembali mempertanyakan apakah saya sudah cukup berperan baik untuk anak-anak saya.

***

Yang paling saya sukai dari Dokter Wawan adalah bagaimana beliau dengan berani menyibak realita yang terjadi di balik Ibu dengan anak-anak yang memiliki keterlambatan tahap tumbuh kembang. Adalah di baliknya… Ibu-Ibu yang pernah saya cicipi keadaannya. Ibu yang insecure, yang merasa tak yakin bahwa mereka telah melakukan yang terbaik. Ibu yang masih memiliki paham bahwa ‘teori’ atau ‘bacaan’ yang mereka dapatkan dari luar sana dapat diaplikasikan secara langsung tanpa mengenal anak kita.

Pertanyaannya, kalau kita enggak kenal anak kita; gimana?

Dokter Wawan juga mengatakan bahwa otak anak kita terbentuk hampir 90% di usia 6 tahun… yang juga memberi fakta monohok bahwa setelah itu semua dilalui tanpa stimulus maksimal, artinya kita kehilangan kesempatan untuk ‘membangun’ anak kita selayaknya mereka berhak dibangun.

Dan ini bukanlah akhir dari cerita yang saya sampaikan.

Sesungguhnya, saya memiliki sebuah pertanyaan besar… a huge question mark in my heart—yang selama ini ingin saya lontarkan namun belum tau pada siapa saya bisa bertanya… karena saya paham, siapapun yang saya lontarkan soal ini; mereka harus, dan benar-benar harus paham dengan apa yang saya maksud.

Seharusnya saya tidak bisa mendapat kesempatan bertanya di hari itu, namun Allah berkata lain—saya mendapat kesempatan melontarkan sebuah pertanyaan yang terbilang (harus) singkat.

Saya akhirnya bertanya tentang mengapa anak saya bisa (pernah) mengalami speech delay—meski saya telah memberinya semua yang ia butuhkan.

Terlepas dari kondisi saya yang pernah mengalami Postpartum Depression, harusnya ia sudah mendapatkan semua yang ia butuhkan. Betul, kan? Tapi bukannya langsung menjawab pertanyaan saya, Dokter Wawan malah bertanya mengapa saya menanyakan pertanyaan tersebut dan akhirnya berkata, “Ibu merasa bersalah.”

*and yes, it was not a question. It was a statement that left me nodding… menyetujui pernyataan beliau.

Mungkin saya memang merasa bersalah. Mungkin jungkir balik mengatasi speech delay yang pernah dialami oleh anak saya itu begitu traumatis adanya bagi saya. Mungkin saya memang berpikir masih ingin punya anak… tapi di sisi lain, siapa yang bisa menjamin semua akan baik-baik saja? Dan bukan, bukan karena saya—rasanya saya mah udah gede; insya Allah bisa lah menghadapi semua. Tapi anak-anak saya?

“Jadi, Bu. Pada saat Ibu depresi di kala hamil, ada banyak hormon-hormon yang Ibu alirkan ke anak Ibu. Dan itu bisa mengakibatkan banyak hal. Dan perlu dipahami bahwa setiap anak berbeda—kita tidak dapat menyamakan anak yang satu dengan yang lain.” ujar Dokter Wawan melanjutkan.

Harusnya saya malu… tapi untungnya tidak.

Karena jawaban Dokter Wawan berikutnya benar-benar apa yang selama ini saya butuhkan.

Mungkin selama ini saya berusaha menyemangati teman-teman di luar sana karena begitu beratnya being-in-an-insecure-Mother stage. Tapi apakah saya sudah sepenuhnya secure? Menjadi Ibu itu constant battle. Selalu ada tantangan setiap harinya. Dan saat kita merasa tak mampu berperan dengan cukup baik, di sanalah rasa bersalah kadang kala muncul.

“Ini tidak hanya untuk Ibu, tapi untuk semua Ibu di sini yang mungkin sebenarnya memiliki perasaan yang sama… karena tingkat depresi pada Ibu itu saat ini cukup tinggi.

Ibu, berhentilah merasa bersalah.

Tidak apa-apa… semua akan baik-baik saja.

Lanjutkan saja hari-hari bersama anak. Yang kemarin terjadi, biarlah menjadi pengalaman. Pelajaran. Tapi cukup… tidak perlu merasa bersalah. Tidak perlu merasa tak mampu. Karena yang paling paham anak Anda hanya Anda sendiri. Positiflah… hadapi semua dengan lapang dan tenang.”

Masya Allah.

Dan inilah yang membuat saya yakin… bahwa pengalaman saya di hari itu sangat patut saya abadikan dalam tulisan. Mungkin rasanya kata-kata itu sederhana—dan sudah banyak yang bicara demikian kepada saya sebelumnya. Tetapi pada saat yang bicara pada saya adalah seorang Ahli Tumbuh Kembang Anak yang sangat berpengalaman? Rasanya tentu berbeda.

And yes, that day I found another puzzle piece that completes my vision even more.

***

Di hari itu juga bersama teman-teman yang datang, kami bersama-sama mencoba Kalkulator AFS. Kalkulator ini adalah alat bantu yang dibuat oleh Dokter Wawan bersama Parenting Club Indonesia untuk membantu Mams melakukan observasi sederhana terhadap tumbuh kembang Si Kecil yang mudah diakses dengan hasil yang memberikan saran stimulasi yang perlu dilakukan secara rutin. Parenting Club ingin membantu Orang Tua yang ingin mengetahui kondisi tumbuh kembang Si Kecil dan stimulasi tepat apa yang bisa dilakukan dengan mudah di rumah.

Caranya gampang banget; tinggal register di www.parentingclub.co.id dan kemudian isi Kalkulator Akal Fisik Sosial melalui link berikut: bit.ly/kalkulator-AFS.  Kalau sudah mencoba fitur ini, Mam juga bisa mengikuti review kontes Kalkulator Akal Fisik Sosialyang berlangsung dari 7 Januari – 28 Februari lho…. Info kompetisi ini dapat Mam lihat dihttp://bit.ly/kalkulatorafsreview.

Dan meski tidak semua bagian mencetak skor 100% untuk Bhamas, saya menerima hasilnya sambil mensyukuri pengalaman dan pembelajaran yang pernah saya lalui sebagai seorang Ibu… dan bersemangat ingin sekali segera mempraktekkan stimulasi yang dibutuhkan untuk anak-anak saya demi meningkatkan hasil evaluasi Akal, Fisik, dan Sosialnya.

Terima kasih untuk Dokter Wawan, Parenting Club Indonesia dan juga Clozette Indonesia yang telah membuat saya merasa amat beruntung bisa hadir di acara ini.

 

Love,

img_7568

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s