Baca Tulisan Ini Sebelum Mempelajari Mindful Parenting

Jujur, semenjak saya melakukan socmed detox beberapa waktu silam—mood saya menulis rasanya perlu ‘digebas-gebas’ dulu baru mau muncul.

Tapi suatu hal membuat saya amat sangat gerah… dan membuat saya merasa harus kembali mengeluarkan kata-kata mutiara penuh dinamika dan tekanan makna yang memberi realita—kan kan kan mulai lagi, tapi ya beginilah; sesederhana karena saya merasa ada sesuatu yang perlu diingat.

Belakangan ini, saya melihat hampir semua portal membahas mindful parenting. Seperti bisa kita baca dalam portal-portal tersebut, mindful parenting adalah sebuah ‘paham’ membesarkan dan mengasuh anak dengan mindful, dengan menggunakan awareness kita secara penuh—dan tak hanya melalui waktu sebagai obligasi dan memenuhi to-do list semata.

Sesungguhnya, kita amat beruntung hidup dalam sebuah era di mana informasi dan pengetahuan bisa ditemui dengan begitu mudahnya. Kita dikelilingi oleh berbagai komunitas yang begitu concern dengan masa depan anak bangsa.

Namun berikut akan saya jabarkan, satu dan lain hal yang perlu dipahami sebelum melangkah dan membiasakan diri menjadi orang tua yang mindful; karena aplikasinya tidak semudah membaca di atas kertas. Memahami emosi anak dan memiliki awareness seutuhnya, tak akan bisa dicapai sebelum kita memahami diri sendiri dan sebelum kita aware serta mindful terhadap diri kita sendiri.

Dan belum lagi bagi yang—maaf—sudah terbiasa ngomel dan kelepasan sama anak; percayalah… rasanya seperti berputar-putar di dalam lingkaran setan. Antara memahami yang seharusnya dilakukan dan rasa bersalah yang mengejar-ngejar di belakang. Antara cita-cita ingin menjadi manusia yang lebih baik di esok hari, versus realita yang mengungkapkan bahwa Ibu A baru saja membanting piring makan anaknya yang sedang GTM meski dilakukannya di dapur dan ngumpet-ngumpet agar tak sepenuhnya didengar oleh anak.

Kasar, tapi terjadi.

Dan masih banyak contoh lainnya. Karena semua tak semudah kelihatannya.

***

Saya menulis artikel ini bukan untuk mencibir, atau bersikap sinis… hanya ingin mengingatkan satu-dua hal yang perlu dikuatkan sebelum kita berangkat menuju aplikasi mindful parenting seperti yang telah cita-citakan sebelumnya. Agar mudah, saya akan membuat poin agar teman-teman dapat me-recall tulisan-tulisan saya sebelumnya untuk menyatukannya sebagai satu rangkaian mindful parenting yang diharapkan bisa dipahami (lebih banyak) di akhir tulisan ini.

PERTAMA – Mohon dibaca terlebih dahulu highlight saya yang Motherhood Wellness, ya. Akan ada beberapa insight di sana yang berhubungan pada tulisan saya selanjutnya.

Seperti yang telah saya tuliskan, seorang Ibu perlu meningkatkan kualitas self-esteem dan self-concept yang mereka miliki sebagai seorang wanita, Istri, dan juga Ibu sebelum berangkat pada konsep parenting tersebut. Kita perlu menguatkan purpose dan paham betul arti kehadiran kita sebagai seorang Ibu. Kita perlu memberi makan hati dan jiwa kita—bangga dan ikhlas dengan apa yang kita jalani—meski rasanya masak, nyapu, ngepel, dan kemana-mana dingintilin anak itu enggak papa. Dan bahwasanya status Ibu saja sudah cukup bagi seorang wanita. Nah… untuk poin yang ini mohon dibaca tulisan kedua yang perlu di-recall, yaitu…

KEDUA – Tulisan di blog saya—“Memahami Mother First, Others Second

Apa yang saya tulis di sini mudah-mudahan akan membuat teman-teman memahami betapa akar kita yang mumpuni sebagai seorang Ibu akan menciptakan pondasi keibuan yang hakiki; yang akhirnya membuat kita mampu berkarya dan pada akhirnya menjalani semua dengan ikhlas dan tenang—tanpa dikejar setoran ‘achievement’ atau apapun namanya.

Mungkin tak semua Ibu setuju… tapi saya pernah menulis sebuah kejadian nyata di mana saya benar-benar tampil ‘apa adanya’ di hadapan kedua anak yang saya asuh di kala lelah luar biasa datang menghampiri.

KETIGA – Tulisan saya yang ini saya harap dapat membantu Mamah-Mamah paham, bahwa membiarkan diri kita menjadi ‘manusia’ di depan anak itu sangat enggak papa… asal tidak melanggar hak asasi manusia!

Sudah baca?

Sekarang, saya akan berbagi cerita sesungguhnya yang baru saja saya alami. Yang membuat saya merasa sangat krusial untuk berbagi—karena anak perlu belajar dihargai dan dihormati.

***

Beberapa waktu lalu, saya yang pernah mengajar dan pernah ditatar (meski hanya 3 bulan) untuk menjadi 100% sabar menghadapi anak ini tetiba snap out.

Saya enggak mau cerita bagaimana kronologinya… tetapi pada akhirnya, itu semua terasa painful. Terasa sakit dan monohok. Kasarnya, saya relapse. Relapse seperti sewaktu belum paham caranya menjadi Ibu dahulu di tahun-tahun pertama, seperti di hari-hari saya masih mengalami Postpartum Depression. Rasanya tentu sesak, seakan telah melihat pintu ruang lemah emosi yang pernah saya tempati dulu—tapi saya paksakan diri untuk tidak kembali masuk ke dalam sana.

Namun, kejadian yang sempat terjadi di tulisan nomor 3 di atas itu terulang lagi baru-baru ini. Di hadapan kedua anak saya yang telah berusia 4 dan 6 tahun. Sesuatu yang saya kira tak mungkin terjadi lagi karena sudah ‘sedemikian kuatnya’ saya.

Namun ternyata balik lagi, it’s a constant battle.

Memahami mindful parenting perlu latihan.

Amat, sangat, banyak, latihan.

Berproses. Berproses. Berproses.

Dan di dalam setiap bagian proses tersebut, kita perlu menerima. Mengizinkan. Mengikhlaskan setiap hambatan hadir dalam hidup kita.

Terkadang, di kala ada masalah lain mampir dalam hari-hari kita yang seharusnya adem, pasti ada saja imbasnya ke anak. Tak mudah, tapi inilah yang perlu kita hindari.

Terkadang, kita lebih mementingkan pekerjaan lain dibanding tahapan tumbuh kembang anak kita yang memang perlu mereka lewati secara proper (tantrum, misalnya?)—dan di sanalah fokus kita hanya membuat mereka tenang, agar kita bisa fokus menyelesaikan hal tersebut; apapun itu.

Yang perlu digarisbawahi pula—terkadang, kita memang belum bisa berdamai dengan diri. Belum bisa menerima beberapa hal secara bawah sadar, yang membuat kita sangat mudah ‘tersulut’ satu dan lain hal. Untuk saya pribadi, misalnya; saya amat sangat sensitif apabila anak saya ada yang berteriak hingga melengking—entah apa sebabnya—dan mudah sekali merasa gusar apabila salah satu dari mereka sudah melakukannya. Bukan, bukan menangis—tetapi melengking. Kadang kita memiliki kelemahan-kelemahan seperti ini, sesuatu yang sudah menjadi bawaan atau yang seperti tadi saya bilang; jejak masa lalu.

Dan ya, hanya awareness yang mampu membuat kita mengenalnya. Hanya awareness yang mampu membuat kita mengenal diri dan paham langkah apa yang perlu kita lakukan.

Sekali lagi, kenapa awareness?

Karena pada akhirnya… setelah saya menulis panjang lebar seperti ini pun, hanya kita sendiri—masing-masing, yang mampu menemukan benang merahnya dan kemudian merangkai pola yang kita perlukan… satu demi satu… tahap demi tahap… untuk akhirnya menciptakan apa yang kita inginkan.

Ketika saya tersadar, saya menyampaikannya kepada kedua anak saya.

I don’t know apakah ini mungkin terjadi karena mereka sudah cukup besar, namun pada akhirnya saya menyampaikan kelemahan yang baru saya temukan itu pada mereka.

“Athar, Bhamas, bantu Bunda ya… Bunda sangat tidak nyaman dengan teriakan tadi. Bunda minta tolong, kita saling jaga ya.” Dan saya menunjukkan betapa lemahnya diri saya di hadapan mereka pada saat itu.

Tak mudah bagi mereka untuk paham, tapi mereka berusaha. Saya perlu menyampaikannya pada mereka… demi kemaslahatan bersama. Seperti kaset rusak, saya mengulang-ulang permintaan saya tersebut… karena namanya juga anak-anak ya, semua perlu dilakukan berulang-ulang.

I don’t know whether it’s right or not—tapi setidaknya mereka dapat melihat bahwa saya amat sangat berusaha. Meski saya tidak sempurna—saya terus mendorong diri saya untuk menjadi lebih baik.

Kadang kesempurnaan itu memang mustahil adanya… namun yang bisa kita lakukan adalah terus berusaha. Mengikhlaskan diri kita untuk berserah diri kepada-Nya, kepada segala ketetapan-Nya, dan bagaimana kita memang ditakdirkan untuk berproses agar menjadi manusia yang lebih dan lebih baik lagi. Karena tantangan hidup takkan menjadi lebih mudah… karena didampingi masalah itu wajar adanya.

Ya, wajar adanya.

Ada yang percaya hukum karma. Tapi kalau saya, saya percaya bahwa anak adalah titipan-Nya yang perlu saya jaga. Ibarat dititipin bolpen sama David Beckham; dijagain baik-baik ‘kan? Nah ini… dititipin anak sama Allah. Masa lebih dijaga bolpennya David Beckham..?

Dan satu lagi…

Apabila kita terbiasa berkomunikasi anak dengan hentakan, seruan yang mengagetkan, kata-kata yang menekan, dan ironi atau sarkasme yang sesungguhnya kita harapkan membangun tapi sesungguhnya membuat mereka tak nyaman…

Sadarkah kita, pada akhirnya kita sedang membiasakan hati mereka untuk tidak dihormati?

Untuk diperlakukan dengan disrespect?

Tanpa rasa hormat… tanpa rasa percaya bahwa mereka mampu menjadi lebih baik dengan kasih sayang?

Meski rasanya mustahil, tapi percayalah… selalu ada cara.

***

Pada akhirnya, saya memilih untuk menggunakan nada rendah untuk menggantikan nada tinggi. Kemudian? If it doesn’t work, saya mendatangi mereka dan menyentuh mereka (dengan lembut, ya!). I say—“I’m sorry I have to touch you. But you have to listen to what I say.”

*Untuk anak usia 2 tahun yang sedang tantrum, mungkin butuh usaha ekstra. Bisa cek tulisan yang ini kalau mau baca yang lebih komprehensif soal usia 2 tahun, ya.

Sebelum saya sudahi tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan (juga untuk diri saya sendiri) bahwa orang tua tak perlu segan meminta maaf kepada anak setiap kali mereka merasa bersalah. Namun di saat yang sama, perlu ditekankan kepada diri sendiri—semoga besok saya tak perlu minta maaf lagi. Terus menerus seperti itu. Sambil mengucap Bismillah… dan berharap hari esok lebih baik.

Dan satu hal lagi…

Di antara berbagai ilmu parenting yang membahana dimana-mana pada saat ini, ingatlah bahwa kita perlu memberi ruang untuk bertumbuh.

Ya, ruang bertumbuh tak hanya untuk anak—tetapi juga untuk kita sendiri. Karena memang tak mudah.

Tapi pasti bisa.

Semoga tulisan ini bermanfaat; selamat mempelajari mindful parenting. Hope this writing could help you find that solid foundation of inner peace sebelum belajar menjalani parenthood dengan mindful, dan juga sebelum mempelajari ilmu parenting apapun yang bisa didapat dari berbagai sumber di sekitar kita.

 

Warm regards,

img_7568

2 Comments

  1. @uruuchan

    Terima kasih sudah menulis ini, Teh. Saya sebenernya masih 20-an, tapi entah kenapa pas baca judul postingan ini, berasa ada sesuatu yang harus saya tahu. :”) Saya ingin bisa jadi Ibu yang baik suatu hari nanti :”)

    Saya jadinya ngefollow blog Teteh juga hahaha;; Senang bisa belajar suatu hal di sini ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s