Memahami ‘Mother First, Others Second’

Bagi saya, kelas Baby House itu indah sekali.

Datang di pagi hari, tepatnya di pukul 07:00—meski ya, kadang masih saja terlambat. Saya selalu masuk ke ruangan itu dengan hati senang dan mata berbinar. Deretan mainan dan alat main yang tersusun rapi di rak-rak dengan dominasi warna primer, suhu udara pagi yang kerap mengaliri ruangan, hingga ucapan salam dan juga jabat tangan sesama guru yang saling menyapa di pagi hari… semua adalah sesuatu yang selalu amat saya syukuri sebagai pengawal pagi saya.

Waktu saya pertama kali memutuskan untuk menjadi Guru Full-time, tidak ada hal yang saya paksakan. Pernah memiliki label dan konveksi selama 5 tahun lamanya, saya memang terbiasa bekerja. Lahir dari Ayah dan Ibu yang keduanya ‘pekerja’, saya tidak pernah membayangkan diri saya menjadi Ibu Rumah Tangga ‘saja’.

Dan ya, sebelum teman-teman berkomentar apapun tentang topik Ibu Rumah Tangga ini—mohon baca dulu tulisan saya sampai habis 🙂

flatlay 1

Alasan utama saya menutup label dan konveksi saya itu sederhana saja sesungguhnya; karena saya ternyata, meski hampir 6 tahun berselang pada waktu itu semenjak saya melahirkan anak pertama, ternyata, saya belum paham bagaimana caranya menjadi Ibu. Belum paham apa artinya peran saya sebagai Ibu untuk anak-anak saya. Belum paham posisi saya di dalam hidup mereka selain sebagai caretaker dan juga seorang wanita yang ‘kebetulan’ melahirkan mereka. I mean, don’t get me wrong. Saya sangat… sangat mencintai kedua anak saya. Namun seperti saya pernah ceritakan sebelumnya; mungkin I was simply not done with myself. Ada banyak sekali hal dalam diri saya yang belum ‘dibenahi’. Mimpi saya, mungkin? Cita-cita saya yang begitu tinggi namun belum benar-benar tercapai?

Di usia 9 tahun, saya pernah diundang ke El Segundo – Amerika Serikat karena memenangkan kompetisi desain busana Barbie di Toys R Us Jakarta. Mattel Incorporated membiayai saya dan keluarga untuk semua hal yang bahkan tidak pernah saya bayangkan. Saya melihat pabrik Barbie, melihat proses kreatif dan juga produksi, serta diberi pula insight tentang distribusi. Yang tak saya sadari… pencapaian itu mungkin begitu besarnya; bahkan bagi saya di saat ini. Sesuatu yang menjadi benchmark saya, yang membuat saya rasanya belum berhasil kalau belum mampu meraih pencapaian yang sebesar itu lagi.

prisya 1

Mungkin itulah alasan saya tak pernah berhenti bekerja… karena saya constantly dihantui oleh cita-cita. Rasanya belum lengkap apabila saya belum mencapai sesuatu di usia saya dewasa.

Fast forward pada momen di mana saya memilih untuk menutup konveksi saya—sesuatu yang dianggap begitu impulsif dan tidak konsisten bagi sebagian besar orang yang mendengarnya; namun terasa begitu tepat bagi saya—saya memilih untuk memperdalam ilmu Early Childhood Education di tempat anak saya bersekolah. Mereka memiliki sebuah training berjudul ‘Pendidikan dan Pelatihan Orang Tua dan Guru’, sesuatu yang diperuntukkan untuk guru yang hendak mengajar; namun dapat pula diikuti oleh Orang Tua yang ingin memperdalam ilmu pendidikan anak dan membuat program di sekolah dan di rumah menjadi lebih sejalan. Dan pada momen itu, pemilik sekolah saya—seseorang yang tak bisa saya sebutkan namanya, menawari saya untuk mengajar.

Saya itu orangnya… yang penting nyemplung aja dulu. Soal basah dan gimana keringnya nanti mah, urusan ntar.

Jadi ya, itulah momen pertama yang membuat hati saya yakin. Meski honestly saya pun tak memiliki bayangan akan sampai kapan; tapi saya yakin, itulah yang saya butuhkan. Allah menempatkan saya di sana karena sebuah alasan, dan saya pun menjalaninya.

Seperti teman-teman ketahui, mengajar sangat memberi saya inspirasi setiap harinya. Saya belajar, belajar, dan belajar. Banyak hal yang terlalu padat nilainya untuk sekedar dituangkan ke dalam buku—dan merubah saya 180’ sebagai Orang Tua. Tak pernah saya ketahui sebelumnya bahwa saya begitu mencintai anak-anak. Saya begitu ingin memahami dan menaungi mereka, tanpa peduli asal muasal mereka dan siapa Orang Tua mereka. Ada sesuatu yang membuat hati saya begitu damai dan tentram setiap kali bersama mereka; meski hingga momen-momen ‘terspesial’ sekalipun. Sebut saja, saat mereka perlu bersih-bersih karena buang air besar hingga tantrum yang bertahan dari jam 8 pagi hingga jam 14 siang karena belum terbiasa terpisah dengan orang tuanya.

Saya sangat menikmatinya.

Belum lagi banyaknya literatul akademis dan resmi dari jurnal-jurnal dan penelitian dunia; yang membuat diri saya merasa begitu ‘kaya’ akan ilmu. Diskusi dan sharing yang kerap dilakukan setiap minggu bahkan hari. Pelatihan-pelatihan yang tak henti diberikan. Dan yang paling krusial dari semuanya adalah… bagaimana semua dapat saya praktekkan langsung kepada anak.

Tapi…?

Apa tapinya…?

Ya, sayangnya… ada tapinya.

theadids 2Pekerjaan, apalagi yang full-time, akan tetap disebut pekerjaan; tak peduli seberapa child-friendly pekerjaan tersebut. Dan bisa dibilang, pekerjaan menjadi Guru membutuhkan komitmen lebih besar dari pekerjaan lain—even yang kantoran, yang pernah saya jalani sebelumnya.

Mendapat bagian kerja sebagai Guru Bantu di Baby House, murid-muridnya adalah anak usia 1 hingga 3 tahun. Anak di usia ini masih memerlukan segala sesuatu yang bersifat konkret – atau bahasa mudahnya, ‘kasat mata’ – di kala belajar. Dan memiliki guru yang izin 1 hari saja dalam beberapa waktu tertentu, akan bersifat kontradiktif dengan program pendidikan yang tengah dijalankan untuk mereka.

Dan saya? Saya, si Ibu tanpa pengasuh, yang tidak memiliki kemewahan untuk menitipkan anak kepada Ibu saya atau Ibu Mertua di kala mereka sakit—misalnya. Sebagai Guru Bantu pun, saya bertugas sejak jam 7 pagi hingga jam 4 sore, di mana kedua anak saya ikut serta (kebetulan di sekolah ada program extended yang bisa membantu menjaga anak hingga saya selesai bertugas). Kadang saya ikut pelatihan hingga jam 5 sore, dan mereka pun ikut serta.

Actually, my kids are being truly supportive—namun mungkin yang biasanya mereka pulang jam 2 setiap harinya dan kini harus ikut saya mengajar hingga jam 4 bahkan jam 5… sempat beberapa kali mereka sakit di kala saya bertugas beberapa bulan di sana.

Dan ada kalanya saya benar-benar tidak bisa meninggalkan mereka. Bisa ditebak, it was unacceptable for the school.

Bukan hal yang mudah untuk mengumumkan hal ini kepada dunia—apalagi mengetahui bahwa saya takkan lagi berdekatan dengan anak-anak yang sangat saya sayangi; tak ada lagi suapan ilmu dan suplai pencerahan yang saya dapatkan on a daily basis. Dan yang paling saya takuti… apakah saya akan tetap terinspirasi untuk menulis apabila saya tak lagi menjadi seorang Guru—meski hanya Guru Bantu?

For a moment, I was pushed to decide between my career and achievement, and my kids—once again.

Dan akhirnya saya memilih untuk sadar akan kapasitas saya yang belum mampu menjalani hari-hari sebagai pekerja full-time dan kembali fokus kepada anak-anak.

Processed with VSCO with e5 preset
Atharyahya & Bhamaskaja

I quit.

***

Moral of the story?

Sayangnya, saya memang hanya seorang Ibu Rumah Tangga. Sayangnya, saat ini saya memang begitu helpless dan tak berdaya tanpa ‘memegang’ kedua anak saya, Sayangnya saya memang begitu mellow-nya… dan ditambah lagi, dunia memang belum memberikan saya bala bantuan untuk menjaga anak-anak on a daily basis.

Lalu salah seorang sahabat saya, Ayla Dimitri, mengatakan sesuatu yang sangat menampar sekaligus menyadarkan saya saat saya menceritakan kronologi ini kepadanya, “Yaudasi, Pi. Mungkin kamu memang harus jadi Ibu Rumah Tangga dulu aja. Mungkin itu yang beneran kamu banget. Kerjaan atau kesibukan lain akan datang sendiri, kalau memang sudah jalannya.”

“Kalau memang sudah jalannya.”

5 tahun menjalani label dan konveksi, 3 bulan menjadi Guru Bantu; 6 tahun saya menjadi Ibu—akhirnya saya baru benar-benar memahami apa artinya “Mother first, others second”.

Dan kali ini, saya mengucapkannya dengan mindful. Dengan penuh pemahaman. Dengan sepenuh hati. Dengan ikhlas kalau mungkin saya memang belum mampu dan belum waktunya meraih kembali pencapaian atau apapun itu—seperti yang pernah saya dapatkan sewaktu diundang ke Amerika Serikat oleh Mattel Incorporated.

Saya tersadar; status saya yang lainnya, apapun itu—pernah menjadi sebuah kamuflase akan self-esteem saya yang begitu rendah sebagai seorang Ibu. And I thought, my every other ‘so-called entrepreneur or whatever that is status‘ would work… dan ternyata tidak. Mungkin, kita memang harus menguatkan dahulu solid ground kita sebelum merambah ke apapun hal lain yang ingin kita jalani.

Saya, adalah Ibu Rumah Tangga. Dan untuk saat ini, saya merasa amat sangat cukup. Sangat cukup. Dan bagi saya, memiliki kepercayaan diri serta keyakinan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga saja adalah suatu kemewahan—sekali lagi, don’t get me wrong. I adore all of you too, full-time or part-time working Mommies! Tapi mungkin, memang di sinilah tempat saya saat ini. Mungkin, memang ini waktunya saya untuk membangun ‘solid ground’ saya yang seharusnya saya bangun di awal, bertahun-tahun lalu.

theadids 1

Ingat, kita semua memiliki journey yang berbeda. Setiap bagian dari perjalanan, memiliki peran—sesedikit apapun itu. Tidak ada yang mampu melihat apa yang kita jalani selain kita sendiri. Kita yang menjalani. Ibu Rumah Tangga, Full-time Worker, Part-time Worker, sampai Entrepreneur… kita semua sama. Kita semua hanya berusaha menjadi Ibu terbaik versi kita.

Dan sekali lagi… hanya kita yang mampu memahami apa yang kita jalani.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

 

Love,

img_7568

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s