The Majestic 2-Year-Old

Saya kira akan mudah bagi saya untuk menulis tahap perkembangan anak usia 2 hingga 3 tahun.

Tapi setelah sekian lama menulis draft—membuangnya; lalu mencoba mengulangnya lagi hingga berkali-kali, akhirnya saya mampu dan berani menyimpulkan bahwa ternyata saya memang masih memiliki sisi luka lama yang perlu diobati soal ini. Sebuah kenangan tentang bagaimana saya memperlakukan anak pertama saya di usia 2 tahun 3 bulan—di mana saya masih sangat buta ilmu parenting, lalu anak saya melakukan hal-hal yang pada hakekatnya ternyata memang perlu dilalui oleh anak berusia 2 tahun… and I did so many wrong moves. Dan biasanya setelah ini, saya akan mencoba ‘menyelamatkan’ diri, mencari excuse bahwa saat itu saya baru saja melahirkan adiknya beberapa minggu, dan kebetulan juga ditinggal oleh nanny yang sempat mengasuh anak pertama saya selama 2 tahun atau sejak ia lahir.

Oke, cukup sudah curcolnya, ya.

Tapi saya harap, dengan saya menulis ini; apa yang saya bagi dapat pula membuat teman-teman paham bahwa saya pun manusia biasa. Bukan Ibu sempurna. Hanya seorang PPD Survivor yang (saat ini) memiliki kecintaan pada pendidikan anak usia dini dan juga menulis sebagai salah satu proses dari self-healing yang tak henti-hentinya dilakukan.

Dan ya—meski saya kira menulis sebagian tahap perkembangan 2 sampai 3 tahun biasa-biasa saja bagi saya; ternyata tidak juga. Ternyata, ini sekaligus mengorek luka terdalam yang pernah saya torehkan selama saya mengidap Postpartum Depression… namun ya, rasanya pertanyaan dan DM dari teman-teman yang terus menunggu, juga sounding pada saya betapa pentingnya peran usia ini selama berminggu-minggu sudah cukup memberi saya kekuatan untuk akhirnya membuka ‘perban hati’ yang sebelumnya asal-asalan… dan kini siap untuk terjahit rapi dan diobati seluruh wound di dalamnya.

***

D74F3105-0CB3-4E98-89E5-F27D756D2142

“Ibu, anak Ibu memiliki kemampuan kognisi, bahasa, dan emosi selayaknya anak usia 1 tahun.”

Bulan Mei, tahun 2015. Saya membeku hari itu. Di sebuah kursi kecil, saya duduk dan berusaha membuka pikiran saya; mencoba dengan ikhlas memahami dan menerima apa yang diucapkan guru anak saya yang pertama di sekolah tempat saya mengajar saat ini. Sebuah sekolah yang pada waktu itu menjadi harapan terbaik saya, di mana mereka dapat melakukan penguatan-penguatan yang membantu anak saya menuju ke kemampuan usianya sebenarnya.

“Maksud Ibu 1 tahun…?”

“Ya Bu, di sini anak Ibu menunjukkan mirroring pada saat diajak bicara—untuk usia 3 tahun, tahap bicaranya seharusnya sudah bisa berkomunikasi secara timbal balik. Untuk kognisi, rentang fokusnya masih sangat pendek, juga ditandai dengan belum adanya kontak mata dan masih perlu effort besar untuk bisa joined-connection pada saat berkomunikasi pada Ananda.”

3 tahun lalu, di sekolah anak saya. Saya yang waktu itu bahkan belum menyadari bahwa saya masih mengidap PPD, mencoba menelaah lapis demi lapis perkataan guru anak saya. Di kala saya menulis—saat ini lebih tepatnya—saya menghela nafas panjang. Mengingat langkah-langkah yang telah saya lalui untuk sampai pada saat ini. Sebelum menulis tadi, saya sempat tidur bersama kedua anak saya di kamar mereka. Allah SWT membantu saya malam ini; yang biasanya tertidur pulas hingga pagi, hari ini saya terbangun untuk menulis. Menambah es pada Es Kopi Susu Tetangga yang saya Go-Food siang tadi, dan membayangkan wajah anak pertama saya sekarang—yang telah berusia 6 tahun.

Atharyahya pernah berada dalam sebuah posisi Temporary Special Needs. Itulah hal pertama yang membuat saya berani berbicara soal hal yang dianggap tabu tersebut… mungkin malah lebih tabu dibandingkan Postpartum Depression. Namun menurut buku Innovations: Infant & Toddler Development, memang ada beberapa hal yang dianggap dapat memperlambat perkembangan kecerdasan anak usia dini; dan dua di antaranya adalah coercive parenting atau ‘gaya pengasuhan yang memaksa’ dan juga depresi pada Ibu tentunya.

prisya_arristy_ratnasuri-tokyo-s1_117

Dan setelah intro yang cukup panjang—in fact, I totally thank you for still reading—mari kita mulai membahas The Majestic Two Year-Old atau anak usia 2 tahun… yang biasa disebut Terrible Two… tapi lebih saya pilih untuk disebut Majestic; karena begitu banyaknya peran dari usia ini pada kecerdasan anak secara menyeluruh, apabila kita dapat melewatinya dengan baik.

***

Bukan berarti usia lain tidak penting, ya.

Namun usia dini disebut ‘usia dini’ karena suatu alasan. Menurut pandangan agama Islam, usia dini adalah usia sebelum anak tersebut akil baligh, di mana orang tua perlu memberikan pendampingan penuh pada anak. Usia setelahnya? Bukan berarti tak perlu pendampingan, namun ibarat sudah mulai abege, kita sudah perlu paham caranya ‘tarik-ulur’ agar anak kita dapat percaya pada Orang Tuanya dan di sisi lain merasa dipercaya untuk menjalani dan mempelajari hidupnya. Namun selayaknya sebuah rumah, kunci kekuatan dan kekohan yang sebenarnya ada pada pondasinya—dan ini juga yang berlaku pada anak kita yang pondasinya berada di usia 0 hingga 2 tahun.

2E786B7D-1B49-449E-90F1-0225E48688D0

Terdapat sebuah teori dasar kecerdasan anak yang dicetuskan oleh Jean Piaget, yang meneliti anaknya sendiri secara konstan selama 18 tahun lamanya. Teori yang berjudul Jean Piaget’s Theory of Cognitive Development. Dan meski berbunyi ‘kognisi’, perlu diketahui bahwa setiap kecerdasan anak memiliki peran untuk saling mendukung satu sama lainnya. Dan sebelum kita berangkat ke teori Piaget, let me tell you 6 domain kecerdasan dasar anak yang perlu kita ketahui, ya—sebetulnya secara teoritis ada 8 (Multiple Intelligences oleh Howard Gardner), tapi untuk sekolah tempat saya mengajar ada 6 yang digunakan untuk usia prasekolah.

  1. Aesthetics: The branch of philosophy that deals with principles of beauty and artistic taste.
  2. Cognition: The mental action or process of acquiring knowledge and understanding through thought, experience, and the senses.
  3. Affection: A gentle feeling of fondness and liking.
  4. Language: The method of human communication, either spoken or written, consisting of the use of words in a structured and conventional way.
  5. Psychomotor: Relating to the origination of movement in conscious mental activity.
  6. Social: Relating to society or its organization.

Biasanya, pada saat seorang anak memiliki delay di Language, akan sangat berpengaruh ke Affection dan juga Social-nya. Ibaratnya, bahasanya saja kurang—bagaimana mau berkomunikasi dan memahami orang lain? Dan sebetulnya pasti ada domain lain yang tersentuh, apabila ada satu saja titik kecerdasan yang kurang terstimulasi. Begitupun sebaliknya – apabila ada gangguan pada Afeksi dan Sosial, tentu akan menghambat perkembangan domain yang lain pula.

8DD2C6B6-0C3E-49A8-92D7-5688F4E5E90F

Sekarang, berangkat ke teori dari Jean Piaget; anak usia 0 hingga 2 tahun berada dalam tahap Sensorimotor, yang artinya anak membutuhkan stimulasi utama yang melibatkan ‘sensori’ atau penggunaan dari indera-inderanya, dan juga motorik atau gerakannya yang beralih dari gerak refleks menjadi movement yang lebih terkontrol. Pada usia 0 hingga 2 tahun, anak masih bergantung pada ‘objek permanen’ – ia belum mampu membayangkan benda-benda yang tidak muncul di pandangannya. Baginya apabila Orang Tuanya tidak ada di pandangan, artinya Orang Tuanya memang tidak ada di pandangan—meskipun sebenarnya ada, namun hanya pergi ke ruangan lain atau pergi sebentar. Inilah sebabnya mengapa sangat krusial untuk berpamitan kepada anak pada usia ini apabila kita hendak bepergian, meski hanya sebentar—kita membantunya untuk meraih sebuah kecerdasan dasar yang bernama Mental Representation; atau representasi yang berada dalam ‘mentalnya’ meski tak terlihat di hadapan. Bermain cilukba juga membantu anak untuk mengenal dan membuat mental representation di kepalanya. Dengan berpamitan dan say hello kembali padanya saat kembali, anak pun belajar bahwa yang tidak ada di hadapan belum tentu tidak ada secara konkret.

Pada tahap ini juga sangat krusial bagi kita untuk menstimulasi indera anak (penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapan) sebanyak mungkin—messy play is a must!—dan juga membiarkan anak bereksplorasi dengan kemampuan motorik kasarnya dengan hanya menggendong anak seperlunya. Sepertinya perlu satu tulisan tersendiri soal stimulasi anak dalam tahap sensorimotor untuk membahas lengkap soal ini, ya 😀

Kelanjutan dari tahap Sensorimotor adalah tahap Pre-Operational yang berlangsung dari 2 hingga 7 tahun, di mana otak anak sudah mulai mampu mengenal dan menghubungkan benda yang satu dengan benda yang lain. Mental Representation-nya mulai terbangun—ia mulai bisa membayangkan hal-hal yang telah ia kenali meski tak ada di hadapan. Anak juga sudah mulai bersikap egosentris—yang sesungguhnya baik untuk membuatnya mengawali kemandirian; sesuatu yang sesungguhnya sangat diinginkan oleh Orang Tua.

Namun kembali lagi menurut Kay Albretch dan Linda Miller dalam bukunya Innovations: Infant & Toddler Development, tahap krusial di usia 2 tahun yang seharusnya dirayakan oleh Orang Tua sebagai awal mula dari kemandirian anak ini malah cenderung dijadikan sebuah fase repot yang bikin pusing kepala! Dan pada akhirnya, Orang Tua sendiri yang akan menunda kemandirian dan kematangan anaknya.

Sedih, enggak?

493D0BCA-2137-4B98-938C-A7310A147935-1

Bisa dibayangkan, bayi yang baru lahir menganggap dirinya merupakan satu kesatuan dengan pengasuhnya. Intermezo: Hingga berusia 4 bulan, bayi belum ‘memilih’ ingin diasuh dengan siapa—rasanya Allah sebetulnya sudah mengizinkan kita para Ibu untuk beradaptasi, ya—jadi belum ada preferensi bayi; apabila ia menangis karena dipegang oleh si A atau si B dan mudah tidur apabila dipegang oleh si C dan si D, itu sebetulnya lebih kepada bagaimana mereka membuat si bayi nyaman saja. Bayi baru mulai membangun attachment dengan pengasuh spesifiknya di usia 4-7 bulan—itulah mengapa separation anxiety mulai sering terjadi di usia 7 bulan.

Kembali pada ‘kesatuan dengan pengasuh’ tadi, lama kelamaan kepercayaan diri bayi akan terbangun apabila Trust pada lingkungannya sudah didapatkan—ya, rasa percaya oleh bayi adalah goal utama kita saat mengasuhnya di tahun-tahun pertama. Percayalah, bayi yang percaya pada lingkungannya akan jauh lebih mudah ‘dipegang’ daripada yang tidak! Dan setelah mendapatkan trust pada lingkungannya, pada saat usia 2 tahun, kepercayaan diri bayi untuk ‘berpisah’ dengan pengasuhnya akhirnya muncul. Dari yang awalnya bergantung pada pengasuh untuk semua hal—decision making, terutama—akhirnya ia mampu bersuara, akhirnya ia mampu menyampaikan pendapatnya dan menolak hampir semua hal; mulai dari yang ia benar-benar ingin tolak hingga hal yang sebenarnya tidak ingin ia tolak namun hanya senang ‘sensasi’ menolaknya saja.

Dan di saat ia memiliki ego inilah… semuanya yang kita khawatirkan muncul. Sebut saja semuanya! Picky eater; melepeh makanan yang sudah masuk ke mulutnya, menolak hampir semua hal yang kita tawarkan kepadanya, tantrum, dan yang paling sering membuat Mamah-Mamah gigit jari sampai merasa enggak becus jadi Ibu adalah… agresi fisik.

Sounds familiar?

IMG_6854

Ya, tulisan panjang yang saya buat ini memang enggak bisa disingkat-singkatin; it all comes down to this. Anak usia 2 tahun seperti sedang euphoria memiliki tubuh dan pikirannya sendiri. Mereka akhirnya mampu take charge of their own body setelah sekian lama bergantung kepada orang lain.

Dan ya, I wish I’ve known this earlier as well!!!!!!

Namun, saya sangat paham bahwa meski informasi ini sudah diketahui sekalipun; tak semudah ini bisa memahami dan bersabar menghadapi milestone mereka yang luar biasa ini.

But still, we all should give our EVERYTHING… kita semua perlu mengerahkan segala kekuata kita untuk bersabar dan bertindak dengan tepat. Mengapa? Karena apabila kita berhasil melewatinya dengan proper, Insya Allah… niscaya… anak kita akan mampu menjadi figur mandiri dengan self-esteem dan self-concept yang kuat.

So how? Bagaimana caranya?

Saya enggak akan menutup-nutupi… sebagai Orang Tua yang kebingungan dan masih menganut paham ‘kalau salah ya dimarahin’ seperti Orang Tua zaman baheula, dulu kalau anak saya tantrum ya saya ngomel. Emosi saya naik turun luar biasa—marah, kemudian menyesal luar biasa sampai nangis-nangis minta maaf. Sesuatu yang amat saya sesali, dan ternyata dampaknya panjang sekali dalam perkembangannya. Dulu saya tak pernah mencoba untuk memahami anak saya, hingga akhirnya milestone-nya lah yang ‘kena’.

Dan ya, kalau saya tahu butuh 3 tahun selanjutnya (and counting) untuk memperbaiki tidak adanya attachment selama 3 tahun pertama tersebut, rasanya saya bisa saja nyetok semua sabar di dunia ini. Rasanya sabar menghadapi anak tantrum menjadi enggak ada apa-apanya dibanding semua nangis bombay yang saya hadapi dalam mengejar ketinggalan si Kakak dari ia berusia 3 hingga 6 tahun.

Namun, enggak ada yang mustahil bagi Allah. Allah itu Maha Baik. Setelah Ia mengizinkan saya memperbaiki kesalahan di masa lalu—Ia menggiring saya ke sebuah karir baru yang luar biasa. Enggak tanggung-tanggung, hidup saya dirombak-Nya hingga akhirnya saya berkutat dengan anak usia dini setiap hari… dan tak henti-hentinya diberikan ilmu. Ilmu yang akhirnya saya rasa terlalu sayang untuk hanya dipendam sendiri, dan sangat perlu saya bagi pada sesama Ibu. Dan akhirnya saya mencoba untuk merangkum bagaimana caranya menghadapi anak usia 2 tahun dan segala milestone-nya yang membuat kita bersedia bayar berapa aja untuk asupan stok sabar yang mumpuni.

D77035A9-76D7-4A41-A109-2FD12597D539

Persiapkan Usia 2 Tahun

  • Earn Their Trust

Bagi teman-teman yang masih berkesempatan mempersiapkan anak sebelum mencapai usia 2 tahun, good for you! Yang pertama harus dilakukan sebelum anak mencapai usia 2 tahun adalah seperti tadi saya bilang, earn their trust! Jawab tangisannya—ingatlah bahwa tangis bukanlah tanda bahwa kita salah, apalagi pada bayi. Memang bisanya hanya nangis, kok, terus mau gimana?

  • Stay Predictable

Buat keadaan predictable baginya; pastikan kita berbicara semua aksi yang akan, sedang, dan telah kita lakukan kepadanya. Verbalkan semuanya dengan bahasa SPOK, “Bunda mau ganti popok Adek, yaa.. 10 menit lagi Bunda kembali. Okee.. Bunda sudah kembali. Sekarang kita ganti popok, yaa. Bunda sedang buka popoknya. Yaa… sekarang Bunda mau basuh. Kita perlu basuh supaya bersih. Ada baunya ya? Iyaa… kita pakai hidungnya untuk kenali bau… oke, sekarang kamu sudah selesai. Bunda mau gendong yaa… okee, sekarang Bunda gendong, ya. Hap!”

Mungkin sekarang kelihatannya kurang kerjaan, but trust me—you’ll thank me later.

  • Kenalkan Aturan dan Rutinitas

Meski bersikap egosentris, anak berusia 2 tahun yang telah terbiasa dengan aturan dan rutinitas sehari-hari akan jauh, jauh, jauuuuuh lebih manageable dibanding yang tidak. Dan percayalah, kalau mau tegas dengan aturan—bukan galak, ya. Tegas. Konsisten!—waktunya adalah sebelum ia 2 tahun. Anak sebelum 2 tahun itu ibaratnya masih bisa ‘digiring’ dengan sayang. Dan dengan membiasakannya pada sebuah rutinitas harian yang bersifat regular dan predictable, akan membuat kepercayaannya pada kita semakin besar. Kita menanamkan bahwa aturan dan batasan dibuat untuk membuatnya nyaman, dan bukan sebaliknya. Apabila konsep ini telah didapat, ia akan mengingatnya bahkan saat egonya telah muncul.

IMG_7325

Sudah 2 tahun? Stay positive!

  • Pahami Kebutuhannya

Anak sudah berusia 2 tahun, bukan berarti enggak ada harapan—ingat kasus anak saya ya, Buibu. Kalau saya saja bisa survive, yang lebih kecil harusnya juga bisaa! Tetap kenalkan pada regulasi dan aturan, dan pastikan untuk selalu membaca kebutuhan anak. Anak tantrum itu sebetulnya sebab utamanya palingan hanya 2; lapar atau mengantuk. Jadi, pastikan kita memahami kebutuhannya dan mampu membaca gestur sebelum ia mulai ‘bersuara’ untuk mengekspresikan ketidaknyamanannya. Ingat, tantrum bisa dicegah. Dengan memahami kebutuhan, anak akan semakin percaya dengan kita dan paham bahwa petunjuk atau guidance yang kita berikan akan membuatnya nyaman.

  • Terima Dulu, Baru Sebut Aturannya

Percayalah, menghindari konflik dengan anak usia ini sangatlah penting. Lebih baik atur bahasa dan ekspresi daripada harus sabar di waktu kemudian, kan?

“Aku mau es krim!!!!”

“Boleh… nanti ya, habis makan.”

“Aku mau pakai minyak telon!!!” – padahal sedang dipakaikan minyak telon.

“Boleh… ini sedang dipakaikan. Nyaman, kan?”

“Aku enggak mauuuuu!!! Aku maunya pakai mainan yang ituuu!!!” – padahal temannya sudah ambil duluan.

“Bunda mengerti Adek maunya yang itu, tapi temannya sudah ambil. Kita tunggu giliran, ya.”

“Oeeeekkk…” – nangis karena jatuh.

“Ooo.. kaget, ya. Oke, kita kalau jalan hati-hati. Ada yang sakit? Perlu dipeluk? Mau minum?”

Gimana? Kebayang, enggak?

  • Pastikan Ia Merasa Memiliki Tempat Bersandar – Namun tetap ajak dia belajar meregulasi dirinya

Anak usia 2 tahun perlu memahami bahwa Ibu yang ia percaya akan membantunya melewati masa sulit ini; ini sulit lho, buat mereka! Dan dengan keyakinan bahwa kita akan tetap ada untuk mereka, dapat meningkatkan self-esteem  mereka sehingga mampu mengontrol diri dengan lebih baik.

“hi3xyyc3r7ywcuyro83yot4yc3489ytcqp98c4yp9qty” – kata X sambil meronta-ronta.

“Kalau seperti itu Bunda tidak mengerti, kita bicara.”

“eixqu3zukqgxbq3ixbirxy389px83bpyxr”

“Oke, Bunda mengerti rasanya enggak nyaman. Perlu dipeluk?”

“HJLNIEY3IXEYBAIZUYHKIUXYKIRXY”

“Oke, tidak apa-apa. Bunda ada disini kalau X perlu Bunda, ya.”

Kita perlu nurture anak saat tantrum, tapi perlu kita pahami kapan kita perlu make a distance dan tidak menjadi penonton tantrum-nya. Namun, tetap informasikan pada anak bahwa kita ada untuknya.

  • Bicara Yang Positif Saja

Berbicara hal-hal negatif hanya akan mengenalkan mereka pada hal-hal negatif yang kemudian akan dilakukan di kemudian hari.

Misal, anak memukul Bunda saat marah.

“Kita sayang, De. Bundanya disayang. Caranya seperti ini kalau sayang (sambil tunjukkan sentuhan sayang. Kalau ada masalah, bicara.”

Anak tiba-tiba memukul teman.

“Oo.. ada yang mau sapa temannya, ya. Ada caranya. Panggil saja namanya.”

  • Leave for a Moment

When everything else fails? Pergilah sebentar. Trust me, you don’t wanna get mad. Bilang saja pada anak, “Bunda perlu minum sebentar, ya.” – lalu pergilah ambil minum dan do what ever you can to feel more content. Kalau saya kadang suka browsing foto nya So Ji-Sub.

4B78E6CC-1B17-440E-8FD6-10039C42B89F

Okay, it’s been 6 pages dan tulisan ini sudah panjang sekali! Terima kasih sudah membaca—terima kasih sudah meminta tulisan ini dibuat. Karena akhirnya, akhirnya, saya lebih mampu lagi menerima masa lalu saya… dan mampu belajar lebih paham lagi bidang yang saya geluti. Dan apabila ada yang bertanya, bagaimana kabar Athar sekarang?

Alhamdulillah di usia 6 tahun, he has turned into my best friend. Salah satu teman mengobrol dan juga liburan terbaik yang pernah saya miliki. Ini adalah sebuah bukti… bahwa bagi Allah, tidak ada yang mustahil.

Do let me know your thoughts—I’m not an expert here. Kita belajar sama-sama 🙂

Lots of love,

img_7568 

8 Comments

  1. Raisa

    Barakallahu fikii tulisannya mbaaa prisya. Aku lagi mengalami skg anakku yg tantrum dan suka mukul. Karena ya memang belum lancar bicara. Usianya sudah 22bulan, kosa kata yg keluar baru 20an kata. Mba apakah ini speech delay? Kalau aku boleh tau sekolah mba ngajar dimana? Jazakillah khoir mba

    Like

    1. Raden Prisya

      Halo Mba.. terima kasih sudah komentar 🙂 mohon maaf saya menjaga nama sekolah tempat saya mengajar tetap privat untuk menghindari kesan saya menjadi representatif sekolah tersebut, Mba. Saya sendiri tidak bisa menilai dari jauh – mungkin yang bisa saya rekomendasikan adalah mengunjungi Rumah Dandelion atau Klinik Liliput di Cipete. Semangat ya Mom 🙂

      Like

  2. Aca

    Makasih banget udah nulis ini. Siap diresapi dan dibagi, khususnya ke orang-orang terdekat. Suka baca tulisan-tulisannya di blog ini maupun instagramnya. Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya.

    Like

  3. sabrinanajib

    Mom prisyaa.. seperti biasa tulisannya eye opener bgt utk aku! Barakallah ya mom, smoga bisa terus berbagi ilmu dgn kita terutama kita mamak2 yg mesti dan memang harus belajar terus setiap hari 😊 mom ssungguhnya ku tu soal teori kurleb udah pernah ngerti sih sblm anakku umur 2 thn tp pd prakteknya wktu anakku umur 2 thn kadang aku inget kadang aku kalah sm emosi aku sndiri, mirip bgt kyk mompris nih, wktu si sulung umur 2 thn aku baru melahirkan si bungsu. Trus anakku sering tantrum dan aku nanggepinnya kurang pas dan kurang baik 😔 ngomel2 all the time dan sering marah sm dia.. any tips on how to ‘fix’ her? I mean, she talks very good, dia sama skali ga speech delay.. milestone yg lain jg oke secara KPSP. tp kadang aku merasa dia EQ nya kurang matang utk umur 3 thn.. msh suka emosian dan masih suka rebut2 dan kadang suka agresi fisik dgn adeknya yg umur 1 thn skrg.. ada saran ga mom? Hehe maap panjang bgt. Makasih sebelumnya yaa.. sehat2 slalu ya momprischan (mom prisya chantique) dan keluarga ❤️😊

    Like

    1. Raden Prisya

      Hahahaha namaku jadi banyak 🤣 makasih udah baca ya, dan memang itu jg pernah jadi kendalaku – udah paham teori tp pas praktek buyar semua. Ini memang ada kaitannya dengan temper kita – atau lebih parah lagi ke inner child atau masa lalu kita yg bikin kita jadi susah mengontrol diri. Di IG aku lagi ngebahas soal kontrol emosi, mungkin bisa ditengok yaa ❤️❤️

      Like

  4. Galuh

    Hi Mba Prisya, terima kasih telah menulis ini. Anak bungsu saya sebentar lagi 2 tahun. Membaca tulisan ini bikin saya nangis, bukan nangis krn sedih, tp nangis terharu membayangkan betapa bahagianya seorg anak bila orgtuanya memahami mrk sepenuhnya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s