Terpikir Khitan Anak Laki-Laki? Baca Dulu Tulisan Ini!

Sebetulnya kami tidak pernah memburu-buru Athar untuk khitan. Dia baru saja berulang tahun ke 6 bulan Mei lalu, dan sesuai keinginan suami saya, kami ingin menunggu saja hingga ia benar-benar ‘minta’ dan siap untuk khitan.

Namun kenyataan berkata lain.

Sekitar satu bulan lalu, saya melihat anak saya ini memegang kemaluannya di kala bermain. Dan bukan hanya sekali atau dua kali – berkali-kali. Saya sangat yakin fase anak ini baru mengenal kemaluannya sudah lewat, so there must be something wrong.

Saya pun bertanya padanya, “Ada apa Kak? Ada yang dirasakan?”

Mungkin karena memang sudah cukup besar dan ‘ngerti’, ia langsung menjawab, “Kemaluannya gatal, Bun. Panas.”

Khawatir, tak butuh lama bagi saya untuk membawanya ke dokter. Di sana, posisi Athar sempat infeksi karena ada suhu tinggi di badannya. Sempat ada bercak pun di pakaian dalamnya, menandakan adanya bakteri. Dokter saya, Waldi Nurhamzah S.PA telah sounding kalau kemungkinan anak ini harus segera dikhitan – “Tapi kita lihat saja perkembangannya, Bu.”

Meski sempat membaik setelah direndam air hangat dan juga minum antibiotik, Athar kembali memegang kemaluannya di kala bermain atau beraktivitas. Meski ia tidak bicara, selalu saya tanyakan padanya – “Ada apa, Mas?”, yang kemudian kembali dijawab dengan cerita perasaannya yang tidak nyaman karena panas dan gatal di bagian tersebut.

Suatu hari, suami saya mengambil inisiatif untuk membersihkan kemaluannya. Betapa terkejutnya kami, ternyata sudah banyak sekali smegma (semacam kotoran putih yang lazim ditemukan di balik – maaf – kulup penis yang tidak dikhitan). Pada saat itu smegmanya sudah cukup banyak, dan Athar selalu mengeluh sakit setiap kali suami saya mencoba membersihkannya.

Akhirnya, kami kembali membawa Athar ke Dokter Spesialis Anak. Kali ini di Rumah Sakit Pondok Indah – karena kami perlu berjaga-jaga apabila ia harus dikhitan segera. Benar saja, menurut Dr. Hinky Satari, Athar harus segera dikhitan karena bentuk kemaluannya pun sudah agak menggembung karena smegma yang tersembunyi di dalamnya. Kondisi ini disebut Fimosis.

Untungnya, kami memiliki asuransi kesehatan dan hal-hal darurat seperti ini tercakup di dalamnya. Dr. Hinky segera me-refer kami ke Dr. Ahmad Yani, Spesialis Bedah Anak yang banyak direkomendasikan untuk melakukan tindakan bedah khitan anak. Dr. Ahmad kemudian meminta Athar untuk melakukan cek darah untuk memastikan kondisinya cukup baik untuk tindakan. Tahap selanjutnya adalah cek ke Dokter Anestesi; kami di-refer ke Dr. Agus Sutjipto. Last but not least, Athar diminta untuk datang dalam keadaan sehat di hari H setelah berpuasa selama 4 jam.

Terkait anestesi, ada 2 jenis yang bisa dipilih yaitu Anestesi Lokal dan Anestesi Total. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, saya akan jabarkan di sini, ya:

Anestesi Lokal

  • Anak akan sadar sepenuhnya saat dilakukan tindakan, perlu keberanian dan ketenangan agar dokter dapat melakukan tugasnya dengan baik.
  • Tidak perlu berpuasa, anak tinggal datang dan menjalani tindakan.
  • Anestesi harus disuntik di bagian sekitar kemaluan – possibly they won’t feel comfortable.

Anestesi Total

  • Anak tidak sadar, sewaktu dilakukan tindakan. Dokter lebih certain untuk dapat melakukan tugasnya dengan tenang hingga selesai – terutama untuk anak yang belum sepenuhnya berani.
  • Anak perlu berpuasa selama 4 jam sebelum tindakan – untuk Athar, ini lumayan peer karena dia doyan makan banget. Yang biasanya enggak pernah atau jarang banget kena TV, akhirnya jadi kena.
  • Anestesi hanya berupa inhalasi. Tapi side effect-nya, anak bisa merasa mual hebat dan muntah saat sadar pasca operasi.

Setelah menceritakan semua plus dan minus kedua anestesi tadi, Athar memilih Anestesi Total dan kami sepakat untuk bekerjasama. Saya dan suami sama sekali tak menyembunyikan prosedur apapun yang dilakukan padanya untuk membuat keadaan menjadi predictable – ini akan membuatnya jauh lebih nyaman meski awalnya merasa takut.

Satu hal lagi yang perlu diingat sebelum melakukan operasi apapun dengan ditanggung asuransi; booking-lah kamar segera setelah operasi disetujui oleh Dokter. Dalam kasus saya, 2 hari sebelum tindakan. Hal ini memungkinkan rumah sakit untuk me-reserve kamar dan menghubungi pihak asuransi untuk mengecek coverage tindakan.

***

Jumat, 7 September 2018. Kami datang pukul 18:00, bersiap untuk masuk kamar rawat. Meski biasanya khitan tidak dirawat dan boleh langsung pulang, dokter memilih untuk observasi semalam setelah tindakan karena adanya kondisi Fimosis.

Hanya satu orang yang diperbolehkan untuk masuk menemani Athar menginhalasi obat anestesinya, dan ia memilih Ayahnya. Sejak awal, Adid sudah bercerita bahwa ia pernah mengalami khitan di kala kecil – dan ini membuat Athar sangat percaya pada Ayahnya untuk menemani dan merawatnya. Tak lupa, sebelum kami melakukan doa bersama sebelum masuk kamar operasi.

Enggak usah ngomongin mellow dulu, ya. Sekarang ke klinis dulu – nanti enggak abis-abis ceritanya kalau dibawa mellow lagi ;D Tapi saya enggak bisa bohong – saya menangis waktu mengantarnya masuk ke kamar operasi. Masya Allah… anak ini sudah begitu besar. Ia dengan sukarela masuk ke kamar operasi karena mengerti kebutuhannya.

Ini pun rasanya perlu saya ingatkan pada teman-teman sekalian… selalu bicara jujur akan tindakan APAPUN yang akan dia temui, tentu dengan bahasa sopan dan enggak mengerikan.

Dalam kasus saya, misalnya; saya berkata, “Athar akan dibersihkan kemaluannya, ingat ‘kan apa yang Athar rasakan sampai kita beberapa kali ke dokter? Nanti Athar boleh ajak satu orang ke kamar khitannya, setelah itu Athar hisap obat anestesinya dengan cara tiup balon. Sesudahnya nanti akan sakit dan mual ya, Kak. Kakak perlu siap-siap. Tapi insya Allah kotoran kemaluannya sudah bersih semua, nanti Athar akan nyaman setelah sembuh total.”

***

Tak sampai 30 menit kami menunggu, operasi khitan Athar pun selesai. Anyway… sejak awal, Dr. Hinky menyarankan untuk melakukan operasi clean cut biasa instead of laser, karena tetap dirasa lebih rapi dan aman. Kami juga tak lupa menyiapkan ‘celana sunat’, sebuah celana dalam yang dilengkapi semacam ‘helm’ untuk melindungi penis pasca-khitan – celana ini bisa didapat di apotik-apotik.

Melihat anak saya tidur di sana, masih setengah sadar – naluri keibuan saya segera mengusap kepalanya… membisikkan kata-kata yang membuatnya nyaman, dan melakukan apa saja yang bisa membantunya merasa lebih tenang.

Namun semua itu buyar ketika saya melihat lukanya.

Belum pernah ada yang cerita pada saya betapa HORORNYA luka khitan itu! Dan seketika itu juga, darah saya seakan hilang dari badan. Saya pusing, pucat, mau pingsan. Sementara anak saya menggenggam tangan saya karena perlu dukungan, saya hampir-hampir nyusruk ke lantai karena lemasssssss!

Mungkin suami saya feeling kali, ya – dia tetiba ngintip-ngintip ke dalam ruang pemulihan untuk melihat saya. Segera, saya minta dia untuk standby menggantikan saya di dalam, karena saya hampir pingsan.

Sesampai di luar Bhamas sempat kaget melihat saya… namun dengan sok tua-nya dia malah bilang, “Enggak apa-apa Bun, ada aku.” Duileeeeee….

***

Kalau kata suami saya dulu, khitan itu menggunakan perban untuk ‘menampung’ darah yang biasanya tidak berhenti hingga 2-3 hari setelah khitan berlangsung. Dan setiap kali mau melepas perban, ia perlu ‘berendam’ untuk membuat perbannya basah sehingga tidak sakit saat dilepas.

Untuk saat ini, kasusnya tidak demikian. Dokter lebih memilih penis dalam posisi terbuka saja agar luka bisa kering dalam 2 hingga 3 hari. Kalau dulu, luka khitan bisa kering dalam waktu sekitar 1 minggu – ya mungkin karena diperbannya itu.

Tapi lagi-lagi, peer-nya adalah bagaimana kita menjaga agar si rembesan itu enggak kemana-mana. Serem banget enggak sih, Buibu? Kedengerannya? Tapi honestly emang seperti ini sih cara kita merawat anak yang baru di-khitan. Saya yang tadinya pingsan melihat lukanya pun, akhirnya jadi biasa-biasa aja! Rembesan itu beda dengan pendarahan ya, lebih seperti noda di perban apabila kita menutup luka anak dengan plester.

Selain hampir selalu dalam kondisi tidur di hari pertama (ini untuk mencegah darah mengalir terus menerus ke bawah), saya selalu meletakkan handuk yang dilipat agak tebal di bagian bawah bokongnya untuk agar darah tidak tembus ke kasur.

Belum lagi di hari kedua, Athar sempat ngotot mau jalan-jalan dan membuat jahitannya sempat meregang karena banyak bergerak. Tak dapat dihindari, pendarahan pun terjadi – total ia sempat 2x pendarahan. Ibunya? Alhamdulillah udah enggak pingsan lagi, meski sempat was-was karena si anak hanya mau ditunggui Sang Ibu di kala panik di pendarahan kedua. Untungnya, Dr. Ahmad Yani sangat kooperatif dan bersedia kembali visit saat Athar mengalami pendarahan.

***

Saat ini, alhamdulillah kami semua sudah kembali ke rumah – safe and sound. Hari Minggu; hari ketiga semenjak khitan dilakukan, dan darah Athar baru benar-benar berhenti total. I thought this isn’t normal, tapi ternyata memang seheboh itu perjuangan anak laki-laki yang melalui proses khitan.

Dokter membekali kami dengan sebuah solution untuk luka yang sepertinya sangat perih ketika disiramkan – yang akhirnya saya pakai hanya 2x karena tidak tega – dan saya ganti dengan NaCL saja. Athar juga diberikan salep Xendoxitrol 1% untuk bagian lukanya, serta antibiotik Starcef untuk mencegah infeksi dan Tempra untuk menghilangkan nyeri.

Besok di hari ke-4, Athar akan kembali kontrol ke dokter untuk memastikan kondisi lukanya dalam keadaan baik. In the mean time, let me conclude some points of my story apabila teman-teman juga mau melakukan khitan, ya!

  • Meski terdengar horor, proses ini harus dilalui oleh setiap anak laki-laki – so most importantly, yang penting anak merasa benar-benar siap dikhitan dan benar-benar diinformasikan apa saja yang akan ia lalui.
  • Izinkan anak memilih proses khitan seperti apa yang ingin ia jalani – Athar sendiri memang memilih Anestesi Total karena lebih memilih tidur saat tindakan dilakukan. Dia juga totally aware dengan semua efek samping atau kontra-nya.
  • Secara prosedural, selalu ingat untuk reservasi kamar segera setelah ada persetujuan untuk tindakan. Ingatkan petugas Rumah Sakit untuk mengecek coverage asuransi saat reservasi tersebut (bila menggunakan asuransi).
  • Siapkan ‘celana sunat’ dengan ukuran yang pas – kelonggaran atau kesempitan tidak akan bisa menutup penis anak dengan baik.

Demikian cerita saya tentang khitanan Atharyahya – may this story help make the process more predictable!

Cheers,

img_7568

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s