Sebuah Renungan Setelah Melalui Proses Sirkumsisi

Saya masih ingat pertama kali berjumpa anak pertama saya, Atharyahya. 5 Mei 2012 – sekitar pukul 03:30 dini hari. Melalui kehamilan dengan sangat nyaman; saya biasa olahraga 3x seminggu dan melakukan ritual hypnobirthing bersama suami di rumah – saya begitu yakin semua akan baik-baik saja. Namun seperti saya pernah tuangkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, perjalanan saya menjadi Ibu tidak sebegitu mulusnya.

c0ea3548-05ce-47b5-9cc2-29e7d67a39ea

Ya, setidaknya 4 tahun pertama saya berjuang; mencari identitas sekaligus berputar dalam lingkaran yang tak kunjung bertemu ujung. Singkat cerita, sebuah titik balik pun saya temukan dan 2 tahun kemudian dipenuhi dengan pencarian jati diri.

Sekarang? 6 tahun lebih saya menjadi Ibu. Dan seperti selalu saya sampaikan sebelumnya; being a Mom needs constant learning, and being a PPD survivor – it needs constant healing. Inilah yang membuat saya terus.. dan terus berusaha memahami dan membaca keadaan, semakin dan semakin dalam lagi.

Menemani Athar yang tengah melewati proses khitan malam tadi, saya banyak merenung. Merenung tentang bagaimana anak yang tadinya memberi saya begitu banyak tantangan ini tumbuh menjadi anak yang begitu tenang, pengertian, dan juga penuh pertanyaan di waktu yang sama. Bekerja dan tengah menjalani pelatihan sebagai Early Childhood Educator, saya melihat bagaimana para guru di sekolah bersikap begitu sabar dan tenang menghadapi anak, bebas ekspresi lebay dan mengerti sepenuhnya bahwa setiap anak adalah sosok yang unik. Dan dari mereka, saya belajar untuk memandang positif setiap hal yang muncul dari Atharyahya.

Saya masih ingat saat-saat pertama saya menjadi Ibu, satu-dua tahun pertama dimana saya masih penuh dengan ledakan emosi. Ditambah karena faktor PPD yang saya alami, rasanya semakin sulit bersikap sabar dan pengertian terhadap anak saya.

Namun seiring waktu berjalan, saya mulai belajar dan terus belajar memandang positif setiap hal; mementingkan proses instead of hasil, serta percaya bahwa setiap hal yang ditunjukkan oleh anak (bahkan yang terlihat negatif sekalipun) adalah bagian dari keseluruhan proses tumbuh kembangnya.

Ada pula sebuah momen yang membuat saya semakin mampu melihat anak saya secara positif. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah playdate yang diadakan oleh Googaga, Rumah Dandelion, dan juga Yummy Dairy Yoghurt. Acara tersebut terdiri dari sharing session dan juga kegiatan bermain yang bertujuan meningkatkan bonding antara orang tua dan anak.

Apabila teman-teman sudah bertemu Athar, pasti akan mengerti bagaimana dia senang berbicara, sangat aktif, dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap berbagai hal. Di antara sedikit rasa malu karena anak saya terus menerus berbicara, salah seorang teman sekaligus founder dari Rumah Dandelion yang merupakan Kakak kelas saya, Nadya Pramesrani, berkata, “Lucu banget sih, Pris, dia.”

Saya tertegun, “Iya, ya? Masa, sih?”

“Pede banget dia, enjoy. Aktif diajak main.”, katanya melanjutkan.

Dan di sana, saya singkirkan rasa malu serta jaim yang masih tersisa. Saya sisakan hati saya dengan pandangan positif yang suportif. Dan seketika, saya melihat anak saya yang begitu antusias ketika datang; melihat setiap bagian ruangan dan melakukan touring sendiri, menyapa orang-orang, dan mengambil serta membuka sendiri Yummy Dairy Yoghurt yang tersedia – ini memang salah satu snack kesukaannya. Waktu itu, kegiatan mainnya adalah membuat yoghurt parfait dengan aneka buah dan granola, juga berlomba sebagai tim dan membuat karya bersama orang tua. Ia dapat memulai permainan atas motivasi dirinya sendiri, serta menikmati setiap detik permainan dan berinisiatif melakukan kontribusi apa saja dalam permainan yang ditawarkan oleh Kakak-Kakak dari Rumah Dandelion.

Padahal ya, apabila melihatnya secara negatif, bisa saja saya bilang begini;

Anak saya lasak. Enggak bisa diam. Setiap kali pergi-pergi, pasti udah kelayapan ninggalin saya. Boro-boro anteng. Semua barang dipegang, brisik banget dan susah dengerin Kakak-Kakaknya ngomong.

Sounds familiar?

Saya bisa saja menyesali diri dan meratap karena baru bisa benar-benar memandang positif anak saya di tahun ke 5-6 menjadi Ibu, tapi arti dari gratitude adalah memahami arti dan mensyukuri apa saja yang kita dapatkan – karena senegatif-negatifnya hal tersebut, pasti ada maknanya untuk kita.

***

Dan di malam itu, 23:30 di sebuah kamar rawat di Rumah Sakit Pondok Indah. Saya memandang anak sulung saya itu dengan perasaan begitu ringan – ya, rasa nyaman yang beberapa tahun sebelumnya terasa hampir mustahil. Atharyahya tak lagi balita yang dahulu saya pandangi dengan penuh kebingungan, yang kerap saya jaga dengan penuh pertanyaan. Ia kini telah menjadi lelaki kecil yang mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri… dan menghadirkan dirinya sebagai sosok sahabat bagi saya.

Anyway… Punya anak yang aktif dan constantly moving seperti Athar? ;D Salah satu saran lain yang saya miliki selain selalu memandangnya secara positif agar terus dapat membantu membangun curiousity, selalu pilih snack sehat yang minim gula, ya! Sebetulnya memang paling ideal berikan mereka buah-buahan, tapi tau sendiri kan gimana anak-anak seringkali moody dengan buah-buahan ;D Salah satu solusi terbaik saya adalah yoghurtand in my case – favorit Athar adalah Yummy Dairy. Selain kaya protein, Yummy Dairy juga mengandung vitamin, asam folat, dan juga bakteri baik yang dapat menyehatkan pencernaannya. Varian rasanya pun, banyak!

Selanjutnya, saya akan cerita tentang proses sirkumsisi Athar, ya! May you all have a nice, happy, blessed weekend with your family

Cheers,

img_7568

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s