#3: Mempelajari Early Childhood Education, Bukan Berarti Saya Ibu Sempurna

Journey saya sebagai seorang Ibu barulah 6 tahun, dan anak saya pun baru 2. Tapi sungguh… rasanya perjuangan saya kok panjang sekali, ya? Ular naga panjangnya, bukan kepalang…

Saya kira dengan sembuh dari PPD, semua obstacle saya selesai sudah. Apalagi setelah saya memilih untuk menjadi guru pre-school dan mendapat asupan ilmu Early Childhood Education setiap harinya, saya kira masalah-masalah tumbuh kembang takkan lagi muncul. Pun saya kira dengan terbiasa bersabar dengan berbagai sifat dan temperamen anak di sekolah, saya akan jadi Ibu tersabar di dunia—tapi ternyata saya salah.

Meski telah meng-apply berbagai ilmu di sekolah, tak semua ‘masukan’ yang saya terima—bahkan dari berbagai hasil riset dan juga penelitian yang telah mendunia—dapat mengatasi obstacle-obstacle yang saya temui dalam keseharian saya di rumah. Tak semua pengalaman yang saya lakukan pada anak-anak didik saya menjamin kemudahan saat menangani anak sendiri. Tak semua diskusi dengan para ahli-ahli tumbuh kembang anak yang kerap saya lakukan hampir setiap hari, mampu memberikan saya 100% kepercayaan diri dalam mendidik anak-anak saya sendiri.

Kok bisa, sih?

E289BE96-5901-4A9D-AAFE-2B7807DBACA8

Terdapat sebuah argumen yang telah lama diperdebatkan para ahli, disebut sebagai kontroversi ‘nature vs nurture’ (Tucker-Drob, Briley, & Harden, 2013). Para peneliti ini memperdebatkan apakah nature (faktor alami seperti genetik dan keturunan) atau nurture (pola asuh keluarga, sekolah, dan lingkungan) yang lebih memberi andil pada sifat-sifat fisik dan psikologis anak.

Contoh perdebatan ini misalnya; nature adalah anak yang memiliki tubuh tinggi besar karena memiliki kedua orang tua yang juga bertubuh demikian—namun di satu sisi, suami saya sendiri memiliki tubuh tinggi dan besar meskipun kedua orang tuanya tergolong mungil, salah satunya karena ia rutin renang di masa-masa pertumbuhannya (ini adalah peranan nurture). Tapiii… selidik punya selidik, Kakeknya ternyata juga bertubuh tinggi besar seperti dirinya—sifat fisik yang tidak diturunkan langsung namun terstimulasi oleh kebiasaan renangnya yang intens, mungkin?

Bagaimana dengan psikologis anak? Ini lebih sulit—namun menurut saya, anak yang cenderung emosional karena si Ibu sering ngomel di kala hamil itu ada benarnya. Dan anak saya yang suka makan sabun karena suami saya juga demikian pun, adalah peranan genetik yang terjadi begitu saja (YA MASAK SUAMI SAYA NGAJAK ANAK MAKAN SABUN?).

E5E94269-6442-4B44-9E70-C7BB9F94A51C

Each of the approximately 266 days of prenatal development (from conception to birth) is critical to producing a healthy newborn. Genes inherited from the baby’s biological mother and father determine all physical characteristics, as well as many abnormalities. Studies have suggested that temperament may have a biological basis as well.” – Kandler et al., 2012.

Setelah satu bulan menjalani training sebagai guru, saya semakin memahami bahwa menjadi Ibu dan segala proses di dalamnya memang bisa dipermudah, tapi tidak sepenuhnya. But lucky us… Tuhan Yang Maha Esa memberikan kita, para Ibu, sebuah anugerah yang menjadi amunisi luar biasa… yang mampu menjalankan semua ‘mesin’ yang mampu melakukan setiap obligasi yang diwajibkan kepadanya; mengatasi segala halang rintang dan juga melalui semua tahap dengan hati ikhlas dan lapang meski beratnya terkadang bukan kepalang.

Dan anugerah itu adalah, cinta. Cinta Ibu, yang memang tidak ada tandingannya. Karena setiap anak membutuhkan ‘perlakuan’ berbeda, dan hanya dengan cinta kita dapat menemukannya.

Pernah suatu kali saya melakukan semua prosedur yang pernah saya lakukan untuk menenangkan anak yang tantrum di sekolah, kepada anak saya sendiri. Dan hasilnya? Ternyata sangat tidak sama. Saya perlu mengeluarkan kesabaran super ekstra untuk bisa membuatnya bisa bersikap seperti anak-anak yang pernah saya hadapi di sekolah. Pikiran saya pun kusut–tetiba begitu banyak pertanyaan di kepala, “Kenapa begitu banget, ya, anak gue? Kayaknya gue enggak pernah kasih contoh kayak gitu?” Dan biasanya di sanalah rasa bersalah, enggak becus, yang disusul ‘ketakutan kita pada anak sendiri’ akan dimulai.

Namun pertanyaan utamanya adalah, “Apa sih, yang salah?”

Sebelum kita bisa menjawabnya dengan precise, yang bisa kita lakukan adalah terus berpikir positif; a progress is still a progress… tidak hanya untuk anak saya, tetapi juga saya sendiri as a parent. Setidaknya, saya yang dulu kerap bersikap emosional kepada anak-anak saat merasa kesal atau putus asa, sekarang lebih memilih untuk menangis apabila kemarahan benar-benar sudah tidak terbendung. Mostly, saya keluarkan uneg-uneg pada suami saat ia punya waktu untuk bicara serius (dan ya, sekarang semakin sulit mencari waktu berdua setelah saya training dari hari Senin hingga Sabtu). Atau, saya ulik pendaman hati saya menjadi sebuah inspirasi baru untuk menulis seperti saat ini.

B7626D40-ACF0-4A6C-8EE9-346785F06996

Karena ya, kadang berpikir positif adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan sebelum kita menemukan jawaban.

Melanjutkan jawaban atas pertanyaan tadi, sebenarnya kita cukup beruntung—di buku Developmental Profiles karya Lynn R. Marotz dan K. Eileen Allen, ada semua referensi yang kita butuhkan untuk mendampingi anak menjalani proses tumbuh kembangnya. Mulai dari peranan genetik, kebiasaan saat hamil, peranan nutrisi, hingga apa saja yang ‘harus’ ia lewati dan bagaimana mengatasinya—agar ia bisa menemui milestone tumbuh kembang berikutnya. What if I say, ternyata tantrum itu sendiri adalah sebuah pencapaian yang harus dilewati di usia 18-36 bulan?

Mengetahui tahap tumbuh kembang anak di setiap usia (setidaknya hingga usia 18 tahun) adalah PONDASI yang sangat perlu diketahui setiap orang tua. Namun yang membuat ‘cinta’ di sini menjadi begitu penting adalah bagaimana setiap anak memiliki temperamen yang berbeda-beda, yang membuat kita perlu ‘mengaduk’ sedemikian rupa segala informasi yang kita temukan… dan kemudian meramunya menjadi sebuah formula terbaik untuk mendampingi anak-anak kita menjadi versi terbaik mereka.

Karena meski secara ‘SOP’ semuanya sudah tepat, belum tentu juga itu yang 100% dibutuhkan anak-anak kita. Selalu ada masa trial and error yang akhirnya membuat kita mampu menemukan cara bersikap yang paling ampuh untuk segala situasi dan kondisi.

8A447BA8-68D9-4D9D-8F2C-A9EC51DAD1ED
Bertemu sesama Ibu, salah satu ritual krusial yang wajib disempatkan!

Jadi tenanglah… sekali lagi—mungkin kita hanya perlu memandang positif diri kita sendiri sebagai orang tua. Menghargai setiap kehendak Allah yang menciptakan setiap bagian kromosom gen anak kita yang bisa saja ternyata ‘membawa’ bawaan suka makan sabun seperti suami saya menurunkannya ke anak laki-laki saya. Bukan… bukan semata-mata karena kita salah lagi menjadi Ibu! Bukan!

Pada saat kita mengerti bahwa cara mereka marah adalah sebuah bagian dari apa yang pernah kita turunkan secara genetik, trust me; kita akan mampu melihat diri kita sebagai seorang pembimbing yang mampu membuat anak mengerti cara mengekspresikan emosi-emosi yang terluap di dalam dirinya secara lebih positif… karena itu adalah sesuatu yang anak kita belum mengerti. You will all see it differently.

Hope you can fully understand my message—because I think, this is my most ‘useful’ writing so far 🙂

Cheers,

img_7568

2 Comments

  1. Avia

    Thankyou prisya. Aku ibu anak 2 (5 dan 3 tahun). Baru aja ngerasa ibu yg gagal dalam mendidik anak. Aku rutin ikut workhop training dll bahkan terjun lgsg di dunia pendidikan anak usia dini.. tp rasanya ga bisa praktekin satu metode pun utk anak sendiri. Baca postingan kmu buat aku sadar, ada faktor lain diluar sana yg gabisa kita paksain even udh melakukan smua langkah dan tips parenting dari pakar sekalipun.. yaahh, kita cm ibu yg terus menanam cinta dan sayang tanpa pamrih 😊😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s