#2: Jawaban Berharga di Hari Pertama

Menjadi guru itu surprisingly enjoyable buat saya. Sesuatu yang dahulu saya kira mustahil dan most likely akan mengekang gerak-gerik saya yang biasanya kelayapan dan bekerja dengan bebas dari satu tempat ke tempat lain setiap harinya. Sampai minggu kedua, I really thought I will never really reach my comfort zone as a teacher—tapi ternyata saya salah.

Hari pertama menjadi Guru di sekolah anak saya, tentu rasanya asing. Uneasy. Biasanya saya ada di pintu kelas, mengantar anak saya dan disambut para Guru yang bagi saya adalah malaikat penyelamat—ya, segitunya—karena membuat saya akhirnya bisa berkarya dan mencapai titik terbaik saya di Matroishka pada waktu itu. Yang mengisi hari-hari Athar dan Bhamas dengan kegiatan dan pijakan berkualitas hingga selama-lamanya di jam 4 sore setiap harinya. Namun di hari pertama itu, saya membiasakan diri memulas rias sesederhana mungkin. Berpakaian semudah dan senyaman mungkin. Memakai jilbab dengan menutup dada selayaknya seragam guru yang lain, dan memulas perhiasan terbaik saya dari hati terdalam; senyum.

Belum sampai tiga jam saya berada di sana, menikmati sekaligus menerka-nerka kegiatan saya. Menjalani tiap detiknya dengan rasa ikhlas dan juga keinginan untuk belajar—sungguh, modalnya itu saja—namun jujur saja, di hari pertama… saya menemukan sebuah pencerahan yang saya harap bisa datang pada saya dari berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun sebelumnya.

IMG_5025

Jangan harap saya bisa membaca routine… yang ada di beberapa jam pertama itu saya dibuat malu. Ya, dibuat malu tentang bagaimana saya pernah ada di posisi seorang Ibu yang berbangga hati karena berbagai so-called pencapaian saya sebagai seorang Ibu, mulai dari ‘berhasil’ memberi ASI dan juga melakukan Baby-Led Weaning. Dan meskipun saya pada akhirnya mencoba mengajak para Ibu untuk aware dengan adanya fenomena Mom-shaming dan selalu bersikap suportif pada sesama Ibu setelah sembuh dari Postpartum Depression, tetap saja saya malu.

Malu karena ternyata cara melahirkan, ritual penyapihan, pemberian makan, atau apapun itu yang biasanya selalu kita ributkan… ternyata tidak ada apa-apanya dari samudera besar pengetahuan yang seharusnya kita miliki saat kita pertama kali memiliki anak. Ibaratnya… belum dapat esensi atau bahkan PONDASI parenting seutuhnya aja kok masih saling ngeributin satu sama lain? Dan lebih tepatnya lagi, karena saya pernah ada di posisi itu.

Saya teringat akan kelas-kelas parenting yang pernah saya ikuti; mulai dari postnatal class hingga bagaimana mendisiplinkan anak dengan cinta kasih. Still, semua itu tidak menyembuhkan saya dari PPD, yang membuat saya akhirnya menjadikan momen menjadi guru ini last resort saya untuk menemukan ketenangan atas pertanyaan-pertanyaan saya yang selama ini tak pernah terjawab.

IMG_5024

“If parenting was made of true love, kenapa kita tidak bisa bersabar?”

“Kenapa kedua anak saya masih saja tidak mendengarkan saya?”

“Sampai kapan saya harus belajar? Sekian tahun saya berjuang agar anak-anak bisa mencapai titik yang lebih baik… namun hingga kini masih gini-gini aja.

A Mother’s love should be infinite… tapi saya? Sejujurnya saya sendiri tak yakin dengan ‘performa’ saya sebagai Ibu.”

Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang tak mungkin saya jabarkan satu-persatu… entah yang saya alami sendiri, maupun saya dengar dari society.

***

Fast forward hingga hari ini, menjelang selesainya bulan pertama training saya. Akhirnya jawaban yang saya cari-cari itu saya temukan juga.

Beberapa waktu lalu dalam training, saya mendapat 3 materi besar yang mencakup Diapering Routine, Infant-Toddler Temperament Tool, dan juga The Principles of Play. Meski tidak sepenuhnya berhubungan satu sama lain, ketiganya mampu memberikan saya life-changing insights yang dapat menghilangkan sebagian besar beban di hati yang selama ini saya emban; terkait peran saya sebagai seorang Ibu. Karena bisa jadi sangat panjang, saya akan mendedikasikan tulisan ini untuk pembahasan saya tentang approach Emmi Pickler tentang Diapering Routine dulu, ya.

IMG_5027

Di sebuah sesi sharing pada hari Sabtu oleh mentor saya, kami membahas prinsip-prinsip dasar yang perlu dijalani untuk membuat sesi mengganti popok menjadi lebih berfaedah. Mungkin tak hanya berfaedah… namun juga bersifat esensial untuk menciptakan ‘join connection’ yang erat antara kita dengan anak. Seharusnya saya akan mengantuk dan malas—well it was 11 AM on Saturday, where I should be crawling on my couch watching Peppa Pig with my kids on the previous weeks—namun hati saya tersentak mendengar dua kata tersebut; ‘join connection’.

Saya selalu bilang bahwa hal utama yang paling ‘hilang’ antara saya dan Atharjahja sewaktu saya terkena PPD adalah koneksi. It was like I was there but I was not there… dan pada akhirnya kami terlihat seperti dua robot yang melakukan kegiatan namun tak benar-benar terkoneksi satu sama lainnya pada tahun-tahun pertama.

Dan di sana, mentor saya menjelaskan empat tahap yang harus kita perhatikan setiap kali ingin ‘terkoneksi dengan anak’. Dan semua ini dimulai semenjak mereka baru lahir, terutama di saat Diapering Routine seperti berikut:

  • Bicara: Datang, sentuh dan cobalah membuat kontak mata dan bicara, “Hallo Athar, sebentar lagi sudah waktunya ganti popok. Sekarang main dulu sebentar, ya. Nanti Bunda kembali lagi untuk ganti popokmu.”
  • Berikan mereka waktu untuk memproses pesan verbal maupun nonverbal kita, kemudian kembali: Datang, sentuh, dan kembali temukan ‘kontak mata’, you will know when they are fully focused on you, “Oke, Bunda sudah kembali. Kita waktunya ganti popok. Sekarang, Bunda angkat, ya.”
  • Jelaskan lebih lanjut: “Sekarang kita mau ke kamar, Bunda berjalan ke kamar sambil gendong Athar, lihat… kita sudah di kamar. Sekarang Bunda letakkan kamu di Baby Tafel, ya. Sekarang kita buka popoknya.”
  • Dengarkan dan observe pesan atau reaksi nonverbal mereka: Bisa saja mereka diam saja sambil melihat mata kita saat kita tengah membuka popok, atau mulai membuat suara-suara. Either way, kita lanjutkan untuk kembali…
  • Kembali jelaskan lebih lanjut: “Sekarang Bunda ambil tisu basah, Bunda basuh ya… Kita perlu basuh supaya bersih.”
  • Kembali dengarkan dan observe pesan atau reaksi nonverbal mereka: Misal dia mulai menangis, kita bisa tetap tersenyum dan berkata, “Ooo… tidak nyaman yaaa… sebentar lagi selesai, kita perlu bersihkan agar Athar nyaman. Nah, sekarang sudah selesai. Bunda angkat Athar lagi, ya. Kita minum susu.”

Sekarang, I hope you can read those points again, dan renungkan. Karena saat ini pun saya tengah melakukannya. Ya, melakukannya dan mengingat-ingat tentang apa yang saya lakukan pada anak saya sewaktu ia masih bayi.

IMG_5031

Jakarta, Mei 2012

Dengan payudara yang luka dan sakit luar biasa, air mata saya mengalir ketika anak saya menangis. Saya tak siap untuk menyusui lagi. Rasanya saya tak mampu menghadapi rasa sakitnya… rasanya saya ingin lari saja dan berharap seseorang bisa menyusui anak saya hari itu, namun saya tak mampu. Suami saya pun tengah berada di kantor, berjanji untuk segera pulang seperti biasa… namun saat ini, anak saya bersama saya. Dan saya tak punya pilihan lain kecuali mengganti popoknya.

So there I was, mengangkat Athar yang tengah menangis tanpa senyum. Melihatnya dengan rasa takut karena rasa sakit yang sudah terbayang-bayang di kepala. Mencoba untuk berbicara tapi tak mampu, dan akhirnya hanya bisa mencium dan memeluknya untuk membuatnya sekedar tahu betapa saya sangat sayang dan mencintainya, dan saya berusaha untuk melakukan yang terbaik. Lalu saya mengganti popoknya tanpa bicara, hanya menyanyi. Menyanyi lagu yang saya harap bisa membuatnya mengerti betapa saya berusaha.

 

Itulah yang terjadi di hari-hari pertama saya menjadi Ibu. Bukan… bukan sesuatu yang ideal. Dan itu tak hanya terjadi di saat ia masih infantjoin connection itu tak juga terbentuk dengan ideal saat ia sudah 2 tahun.

Mei 2014

Saya waktu itu tengah hamil besar, dan Athar sudah waktunya ganti popok. Kami tengah bermain waktu itu; atau lebih tepatnya, saya berusaha menemaninya bermain namun tanpa kontak yang berarti; bermain dan saya juga bermain. Saya hanya bicara, tanpa tahu apakah ia mengerti apa yang saya informasikan atau tidak. Pikir saya, anak dua tahun apakah sudah bisa mengerti benar?

Singkat cerita, saya langsung saja mengangkatnya sambil berkata “Athar, ganti popok, ya!” saat ingin mengganti popoknya. Tanpa menunggu ia merespon. Tanpa memerhatikan apakah ia mendengar saya atau tidak. Tanpa melihat terlebih dahulu apakah ia sudah siap diganti popok, atau belum. Ia menangis meminta mainan yang tengah dipegangnya—tentunya. Dan di sana saya malah membawa mainan tersebut untuk dibawa ke tempat mengganti popok.

 

Kembali di siang hari itu, saya memandangi wajah mentor saya sambil mengawang-ngawang. Meski yang ia jelaskan hanyalah persoalan mengganti popok, saya merasa ada filosofi yang sangat mendalam apabila kita bersedia menggali lebih lagi. Bagaimana kita seharusnya memperlakukan anak-anak kita dengan rasa hormat selayaknya pada orang dewasa sejak ia lahir, dan bukan menjadikan mereka seperti ‘bawahan’ yang bisa kita bentuk sesuai keinginan kita. Yang bisa kita marahi begitu saja saat ada hal-hal yang tidak kita sukai, meski rasanya itu pun demi kebaikan mereka.

Kunci utamanya ternyata ada pada predictability. Masih ingat rasanya bekerja di kantor baru? Tempat baru, rutinitas baru, teman baru… dan rasanya kita ingin bertanya saja pada siapapun yang sekiranya bisa ditanya, “Itu siapa? Toilet di mana? Musholla-nya di mana? Jam makannya fleksibel, enggak?”

Sekarang, kita bayangkan anak-anak kita yang lahir ke dunia, tanpa kemampuan bertanya, dan tanpa seorangpun yang dapat menjelaskan padanya apa dan siapa yang akan dia temui setiap harinya.

***

IMG_4913Sepulangnya dari sana, tak banyak yang tahu bahwa air mata saya ngembeng di mobil. Seperti yang telah saya bahas di story saya kemarin, bagaimana presence of maternal depression dan juga coercive parenting dapat mempengaruhi tumbuh kembang emosional anak. Sejak tiga tahun silam, saya telah mengetahui delay-delay yang dialami anak saya dan sudah banyak belajar. Namun kali ini, saya memperoleh dalil yang saya butuhkan secara jelas dan gamblang—and that was really something. Rasanya memang tak mungkin semua ilmu-ilmu parenting yang pernah saya dapatkan bisa saya aplikasikan apabila saya dan anak saya tak pernah memiliki join connection at the first place.  

Jadi hari itu, sesampainya di rumah, saya mengucapkan salam dan mencari anak-anak saya dengan hati berbunga-bunga. Bersyukur akan apa yang saya dapatkan… hambatan dan juga jawaban dari Allah SWT yang begitu baik dan maha penyayang. Yang masih memberi saya kesempatan untuk belajar meski 6 tahun sudah berselang semenjak awal kali saya melahirkan.

***

IMG_5023

Dari buku “Innovations: Infant & Toddler Development” yang ditulis oleh Kay Albretch dan Linda G. Miller, saya mendapat statement yang juga luar biasa monohok;

“Apabila Orang Tua melihat perkembangan anak sebagai sebuah usaha untuk mencapai sebuah tujuan, achievement, atau certain goal, parenting akan menjadi sebuah rutinitas yang stressfull dan frustrating. Ini dapat membuat Orang Tua bersikap penuh emosi, memaksa dan bahkan memberi tekanan terus-menerus pada anak yang akhirnya malah akan menghambat proses tumbuh kembangnya. Orang Tua perlu melihat perkembangan anak sebagai sebuah proses yang terus berjalan, dan memperkuat hubungan mereka satu sama lainnya dari waktu ke waktu.”

So instead of saying, “Anak gue belum bisa ngomong!you can as well say, “Anak gue kemarin baru ngomong, A A A A… Alhamdulillah sekarang udah Ba Ba Ba Ba…”

Or instead of saying, “Capek banget bersihin pipis anak toilet training berceceran dimana-mana!” we can as well say, “Alhamdulillah, kemarin belum minta pipis di toilet, sekarang sudah bisa bicara meskipun masih terlambat buka celananya,”

Like really, how beautiful our lives would be if we see them as the treasure we’ve been looking everywhere instead of a burden that weighs our everyday routines?

Dan ya, selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik 🙂

Cheers,

img_7568

4 Comments

  1. Annisa morinda

    Thankyou for sharing mba prisya. Salam kenal. Aku menemukan mba prisya saat aku sedang browsing about PPD karena aku merasa mungkin aku salah satunya. Tapi belum ke psikolog atau psikiater jadi aku gak tau. Tapi membaca blog mba prisya dari awal sampai akhir membuatku merasa ini aku banget. Lalu, banyak yang mencerahkan setelah membacanya. Terimakasih ya mba. It really help me so much dan aku yakin ibu ibu lainnya juga. Semoga kita semua semakin baik yaaa. Amiin. Terus semangat berbagi cerita ya mba. Tulusan mba bagus sekali, bahkan setiap pemilihan katanya sangat menarik.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s