Pertama Kalinya Membaca Puisi di Sebuah Sesi Open Mic

Saya datang dari background keluarga yang cukup unik – mungkin tidak perlu diceritakan secara gamblang disini. Tapi sebut saja, unik. Pernah mengalami pula depresi sepanjang 4 tahun lamanya; mungkin saya memang tumbuh menjadi manusia yang ringkih.. dan memiliki berlapis-lapis sisi hati yang tak mungkin ditelaah satu persatu.

Tapi sungguh, menulis amat sangat membantu saya.

Saat bisa menulis kapan saja – asalkan ada amunisi yang tepat. Dalam konteks ini, bagi saya, satu-satunya amunisi yang tak pernah gagal adalah musik. Musik yang tepat selalu bisa membangkitkan pikiran saya, memancing emosi terpendam dan mengeluarkan segala macam hal yang perlu ‘dibuang’ dari benak saya.

Karena ada kalanya.. kita menemui masalah yang tidak ada akhirnya.

Karena ada kalanya.. kita menapaki situasi yang tak memiliki solusi – dan hanya bisa dijalani.

Dan ada kalanya pula.. sabar saja tak cukup untuk membekali diri dan menjaga agar hati tetap mumpuni.

Dua tahun memiliki manuskrip buku Menggali Hati yang tak pernah tersentuh sebelumnya, malam pertama saya di acara Paviliun Puisi kemarin sungguh berkesan. Rasanya… akan kerap ada sesi-sesi berikutnya.

Sungguh, rasanya apa yang selama ini terpendam – bisa terlepaskan hampir seluruhnya. Dan memberikan waktu pertama ini untuk Ayah… rasanya luar biasa.

Hope you enjoy my performance of letting go.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s