Confessions of a Postpartum Depression Survivor – Part 1: How It Felt Like

Tulisan ini datang di saat saya tengah menerima bertubi-tubi E-mail dan cerita personal mengenai depresi pasca-melahirkan. Cerita-cerita dari Ibu-Ibu yang sebelumnya tidak saya kenal, yang entah mengapa percaya saja untuk mendatangi saya dan mengeluarkan isi hati mereka, bertumpah-ruah. Ya, sesuatu yang sepertinya mungkin pernah dikeluarkan sebelumnya pada orang-orang terdekat; namun belum pernah menerima feedback yang bisa membuat nyaman atau merasa benar-benar lebih baik.

Sebelumnya saya ucapkan dulu terima kasih, bagi semua yang sudah bercerita. Yang sudah DM maupun E-mail. Yang sudah percaya, me-repost, ikut membantu saya memberikan tips, hingga yang mendukung dan support saya untuk terus melakukan yang sedang saya lakukan. Dan apabila ada yang bertanya, “Why I am doing this?“––ada dua alasan: karena PPD survival is a constant work, dan saya perlu terus merasa bersyukur. Jujur saja, Buibu, mendengar cerita kalian… seringkali saya merasa, apa yang saya pernah alami tidak ada apa-apanya.

Processed with VSCO with g3 preset
Saya dan Bhamaskaja

But still… belum. Saya belum membalas E-mail yang saya baca weekend kemarin satu persatu. Maaf… bukannya saya tidak mau, tapi mungkin karena hati saya telah menerima inspirasi. Akal saya seakan mengembang karena menerima secercah cahaya–yang seperti bertambah terang karena adanya pelangi. Rasanya akan lebih berfaedah apabila teman-teman membaca dahulu blog post saya kali ini.

Mungkin sudah waktunya saya bercerita apa yang sesungguhnya saya alami, dan lakukan pada saat saya menyadari bahwa saya mengalami Postpartum Depression.

***

Sebelumnya, silakan tonton dulu video di bawah ini, yesss.

Ya, sebuah video yang dibuat sebagai kolaborasi Hari Ibu tahun lalu, antara Matroishka, Babyloania, dan juga Why Moments.

Tidak banyak yang tahu bahwa cerita yang kami tampilkan dan kata-kata yang saya susun… adalah apa yang sungguh-sungguh saya alami. Ya. Ngumpet di kamar mandi, mogok menyusui anak, sakit hati saat melihat media sosial… semuanya. Dan saya tidak pernah tidak menangis saat menontonnya. Tidak pernah bisa. Tak hanya betapa menyentuhnya adegan yang ditampilkan Marcia Adinda waktu itu, namun juga karena akibat yang telah terjadi. Bagaimana perkembangan Atharyahya dalam tumbuh kembangnya, hingga bagaimana saya berusaha mencari pribadi baru setelah saya menjadi Ibu.

Menyambung kembali pada apa yang telah saya alami… saya akan kembali pada E-mail yang masuk dan sebuah pertanyaan yang berkali-kali dilontarkan pada saya.

“Apa yang kamu lakukan saat akhirnya menyadari bahwa kamu terkena Postpartum Depression?”

Bersiaplah untuk sebuah tulisan panjang, yang rasanya tak mungkin bisa saya selesaikan dalam satu waktu. Rasanya seperti melihat kembali sebuah bekas luka yang tersembunyi, yang membuat saya terlahir menjadi manusia baru yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

***

Waktu Ibu saya mengajak saya pergi ke Spanyol selama 12 hari di tahun 2016 silam, saya nge-blank. Apabila saya menyanggupi, itu akan menjadi pertama kalinya saya pergi tanpa anak-anak dalam durasi yang cukup lama. Kok bisa? Well honestly, she’s always been a true traveler. Sebelumnya Ibu seringkali pergi dengan mendiang Ayah, yang akhirnya berpulang di tahun 2015. Dan karena sudah menginjak usia 60, memang sudah waktunya Ibu saya tak lagi mengangkat koper-koper besarnya sendiri. Di satu sisi saya khawatir dengan anak-anak; namun di sisi lain, saya menyadari betapa lamanya saya sempat ‘terlupa’ betapa Ibu saya pun butuh perhatian… apalagi setelah Ayah meninggal dunia.

2016-07-14 01.47.41 2
Saya dan Mamah Ida.

Dii tahun 2012, saya melahirkan anak pertama saya Atharyahya, dan berlanjut dengan Bhamaskaja di tahun 2014. Saya menyusui 2 anak selama 4 tahun berturut-turut masing-masing sepanjang 2 tahun, yang artinya sempat dilalui tandem nursing selama 6 bulan (saya hamil Bhamas saat Athar berusia 1 tahun 6 bulan). Waktu itu, saya sangat kekeuh menyusui Athar hingga awal trimester ketiga. Perjuangan saya di awal menyusui Athar yang begitu berat––ia tounge tie dan postur tubuhnya terbilang sulit gemuk––membuat saya begitu persistent untuk menyapihnya tepat saat ia menginjak 2 tahun, meski akhirnya harus tandem nursing.

Awalnya, saya menolak menemani Ibu saya––namun suami saya memaksa. Ia insist saya harus berangkat. Dia bilang, “Anak-anak bisa sama aku, kok. Mereka sudah cukup besar, kan?”––sesuatu yang tidak saya terima begitu saja. Akhirnya setelah mencapai kata sepakat, saya memastikan terlebih dahulu bahwa ada infal yang bisa standby membantunya di rumah selama saya menemani Ibu saya.

Waktu berangkat, saya bahkan belum sadar akan Postpartum Depression yang tengah saya alami. Menyadari bahwa selama 4 tahun itu saya seperti mayat hidup; yang menjalani hari demi hari dengan autopilot mode. Berusaha tersenyum dan tertawa meski tak benar-benar mengalami bahagia, dan menangis constantly saat tengah berada di guyuran shower tanpa tahu sebabnya. Saat Athar lahir, saya merasakan sakitnya latch on hingga ia berusia 4 bulan. Dilanjutkan dengan rasa takut berkepanjangan yang membuat saya sering kabur-kaburan mengasuhnya meski tidak bekerja. Saya banyak melakukan pelarian pada Matroishka, bekerja sambil ngopi atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk brainstorming, dan memilih untuk pulang saat suami sudah pulang. Baru saya sadari sekarang, betapa takutnya saya pada Athar waktu itu.

2015-07-25 04.50.14
Bhamaskaja, around 8 months, and Atharyahya around 2.

Bukan, bukan takut tak bisa menghadapinya; tapi lebih pada takut saya tak bisa menjadi Ibu yang sempurna.

Bhamaskaja pun bukannya datang tanpa diundang—kedatangannya benar-benar kami rencanakan. Mengapa? Jujur, pikiran saya waktu itu; “Apabila memang tahun-tahun pertama rasanya seperti ini (menjadi mayat hidup—red), ya sudah, kita lanjutkan saja sampai anak kedua supaya Athar punya teman. Setidaknya saya hanya akan menjadi mayat hidup selama 4 tahun.”

Serem, ya. Iyalah. Serem banget.

Singkat cerita, saya berangkat.

Pergi ke Spanyol selama 12 hari; sayalah satu-satunya yang sudah menikah di antara teman-teman saya (anak-anak dari tim kerja Ibu saya yang akhirnya sudah seperti keluarga). Bersama mereka, saya seakan teringat lagi diri saya yang dulu. Yang sebelumnya sempat hilang. Yang sempat tak saya kenal bahkan saya lupakan keberadaannya. Saya kembali bermain dress-up seperti saat belum menikah dulu, foto-foto cantik dan mengunggahnya tanpa peduli likes ataupun comments. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri waktu itu. Dan ya, cara itu berhasil.

2016-07-11-02-27-45-1
Saya dan teman-teman di Cordoba, Spanyol.

Setiap hari, saya menjadwalkan waktu video call bersama anak-anak dan suami. Dan ini pula yang menjadi perhatian saya waktu itu… yang membuat saya sangat sadar, bahwa ternyata ada yang sangat tidak beres pada saya selama ini.

Bersama Ayahnya, anak-anak terlihat begitu bahagia.

Sebuah kenyataan yang menusuk, namun tepat nan akurat. Mereka begitu bahagia dengan suami saya. Mereka bahkan tidak mencari saya. Tidak kehilangan ataupun menanyakan. Mereka hanya perlu diberikan pijakan bahwa saya akan pergi selama 2 minggu lamanya, dan selesai sudah. Sisanya? Aman damai sentosa. Saya tidak melihat kekhawatiran… yang ada malah mengerti betapa suami saya jauh lebih baik daripada saya.

Di sana, saya menyadari betapa saya dan anak-anak tak memiliki bonding. Betapa kedekatan kami hanyalah sebuah formalitas: karena saya adalah Ibu dan mereka adalah anak. Karena sayalah si pengemban tanggung jawab, dan mereka semata-mata keluar dari perut saya. Done. Selesai. The end. Yuk, lanjut bertugasnya.

Ya, rasanya seperti orang kerja. Ditambah lagi, saya selalu mencuri-curi waktu untuk kabur dari pekerjaan tersebut.

Ditambah lagi bagaimana saya merasa bahwa constantly crying in showers itu ‘baik-baik saja’. Betapa merasa bahwa bercermin dan melihat bahwa apa yang saya lihat begitu pathetic dan sama sekali tidak saya kenal itu ‘biasa-biasa saja’. Betapa self esteem yang begitu rendah dan menganggap diri saya wajar untuk dipandang sebelah mata itu wajar, karena saya sudah menjadi Ibu yang enggak keren lagi seperti waktu jadi stylist zaman dahulu kala. And no, that was not the saddest part.

Processed with VSCOcam with c1 preset
My Loves. For real. My bestfriends for life.

Bagi saya, yang paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa saya pernah melihat anak-anak saya sebagai sesuatu yang membatasi langkah saya. Mengganggu keseharian saya. Dan betapa pada akhirnya saya bersedia menerima posisi dan peran mereka, saya memilih untuk menjadi robot tanpa nyawa yang menjalani semua seperti layaknya program yang telah terpasang sebelumnya. Tanpa perasaan. Tanpa pernah menyadari betapa indahnya makhluk-makhluk kecil di hadapan saya waktu itu. Atharyahya dengan kulitnya yang seputih salju dan pampers-nya yang selalu menonjol diantara kaki-kakinya yang gemuk… atau Bhamaskaja yang bermata sipit seakan-akan berebut spasi dengan pipinya yang begitu menggemaskan! Dan bagaimana mereka selalu membangunkan saya dengan ocehan dan juga senyum. Mengeluarkan gelak tawa segar tanpa saya pernah memintanya. Betapa mereka tak hanya menginginkan saya sebagai penjaga, tetapi juga karena mereka memiliki begitu banyak cinta untuk saya. Mereka yang terus menangis, sesederhana karena hanya itulah yang mampu mereka lakukan. Dan saya…? Why couldn’t I see it all?

 

I might be ashamed on telling you this pada saat itu semua terjadi. Tapi sekarang? Tidak lagi. Itu adalah sebuah masa lalu bagi saya. Yang sangat kuat tertutup rapat saat saya tengah menulis ini. Yang saya lawan dan yakini takkan pernah kembali lagi. Karena saya? Saya kini sekuat baja. Saya mampu membakar semua hambatan dan rasa takut saya dahulu kala. Kini hanya ada udara segar… pelangi… rasa sejuk dan damai yang selalu saya rasakan saat saya melihat anak-anak saya memanggil nama dan memeluk saya setiap kali kami bertemu—tak peduli seberapa seringpun kami bertemu.

Sounds familiar? Those times will pass, Ibu.

***

Menjawab pertanyaan kedua: “Apa yang kamu rasakan pada waktu merasakan Postpartum Depression?”

This isn’t very easy to answer, honestly. Dan sebelumnya, saya belum pernah betul-betul mendeskripsikannya.

Mungkin… rasanya seperti mayat hidup. Saya bangun, dan menjalani semua seperti robot. Saya makan tanpa benar-benar merasakan enaknya. Saya berdandan tanpa pernah merasa cantik. Bahkan saya bercermin, sambil bertanya-tanya siapa perempuan di hadapan yang tengah saya lihat.

Saya menjalani hari-hari penuh rasa takut… rasa takut pada anak saya dan pada diri saya sendiri. Saya hidup sambil menuntut diri saya agar menjadi Ibu yang sempurna—dan di satu sisi tahu persis bahwa ‘saya yang sempurna’ itu takkan pernah terwujud. Rasa takut dan perih seperti menjadi sesuatu yang begitu constant dan tak lagi mengagetkan, dan membuat diri saya sangat terbiasa mengalaminya. It was what I felt everyday.

Sedihnya adalah… saya tahu persis bahwa poros hidup saya adalah anak saya, dan saya terus berputar-putar menghindarinya. Dengan cara apapun yang saya bisa. Membuat orbit kehidupan saya kacau balau. Dan meteor serta bintang bertabrakan dimana-mana. Dimana saat harusnya terjadi panas, planet-planet malah membeku… dan di saat harusnya bumi berputar dalam lintasan, ia malah tertelan lubang hitam.

IMG_5873_2
Bhamaskaja, 6 months old.

Anak saya adalah Matahari saya, dan saya adalah Bumi yang terus menerus kabur dari orbitnya. Membuatnya kocar-kacir dan tertabrak asteroid… bahkan tersesat di sana sini. Kebayang, kan?

Oke, saya bangga sekali pada kata-kata saya barusan. Akhirnya saya mampu menggambarkan apa yang sesungguhnya dirasakan para Ibu yang terkena PPD. Meski hanya menulis, saya merinding. Sungguh tidak mudah untuk mengungkapkannya dalam kata-kata, Pemirsa! Maybe this is the right time to take a gap for now.

 

Do share your comments in the fields below. Let us hold hands together, dearests. Bila ada yang ingin menanggapi di comments field, silakan. Anonymously or not, monggo banget. Let’s share our stories together. I would deeply appreciate if you make your comments here instead of DM or Instagram Comments, agar bisa menginspirasi Ibu-Ibu lainnya yang membaca.

Selanjutnya, saya akan bercerita apa yang saya lakukan saat saya aware dengan kondisi saya, ya.

 

Cheers, and to be continued.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s