The Story Behind: Graduating Matroishka

Jadi, sebenarnya kenapa sih?

Untuk pertama kalinya semenjak mulai menulis di kala SMP belasan tahun lalu, saya membuang draft tulisan saya. Berkali-kali. Berkali-kali. Memulainya dari sudut pandang histori, kemudian bingung bagaimana harus melanjutkannya dan memilih untuk menulis yang baru. Saya telah mengalami sebuah journey panjang yang mengizinkan saya melihat, mengamati, mengenal, diri saya sendiri—yang dilanjutkan dengan memutarbalik semua rencana dan memilih jalan yang sebelumnya tak sama sekali terpikirkan.

PPD/A is generally defined as depression or anxiety arising within the first 4-6 weeks after having a baby. But recent research is suggesting that this timeframe is unrealistic. PPD/A can begin before a baby is born and arise at any time within the first year after having a baby and possibly many years after that. – Postpartum.org

Banyak yang tidak percaya saya menderita PPD selama 4 tahun. Namun itulah kenyataannya. Dan melahirkan Matroishka sebagai salah satu momen survival, ada momen dimana lini baju hamil dan menyusui itu terasa benar. Saya mengajak sesama Ibu untuk menemukan dirinya yang hilang (sama seperti yang saya alami), melahirkan kembali dirinya sebagai seorang wanita baru setelah ia menjadi Ibu; inilah yang menjadi filosofi Matroishka membuat acara bertema Mothers in Bloom di Anniversary ke-4-nya.

 

Mereka bilang, pasar baju menyusui itu terlalu kecil dan tidak prospektif. Namun Matroishka telah beberapa tahun terakhir ikut andil dalam menyekolahkan anak-anak saya. Membawa saya berlibur. Membantu menata rumah. Membiarkan saya jajan dengan membeli tas dan sepatu yang saya taksir saat berpelesir. Matroishka adalah ‘anak’ ketiga, sekaligus sahabat yang sungguh-sungguh saya cintai.

For once, I believe that I was living the life I designed—and loving it.

Namun mulai ada yang berubah semenjak hari ulang tahun saya di tahun 2017 silam. Saya sakit. Drop. Tifus sekaligus asam lambung naik—sebuah akibat dari sulitnya tidur di malam hari dan juga pikiran di kepala yang tak henti-henti. Cerita lengkapnya ada disini.

 

Dan di pukul dua dini hari di hari ulang tahun saya, dimana infus sempat mampet dan harus diganti dengan jarum baru, saya menangis dan berpikir—merenung apakah hidup saya waktu itu benar-benar yang saya inginkan. Saya bertanya, berkonsultasi dan bercerita kepada sahabat-sahabat; mencoba mencari lembaran baru dalam hidup saya. Rasanya diri ini meyakini bahwa ada yang salah—namun lembar selanjutnya di buku perjalanan hidup saya nampak kosong. Saya yang dahulu selalu hidup dengan rencana, untuk pertama kalinya merasa blank.

Sesuatu membuat hati tersadar—bahwa ternyata saya belum kenal diri saya. Saya belum tahu siapa saya.

Kenapa? Kenapa setelah bertahun-tahun lamanya baru ini terasa?

Mungkin karena setelah semua yang saya rencanakan bertahun-tahun lalu akhirnya terwujud, di saat semua mimpi dan cita-cita ada di depan mata, di saat semua terasa sempurna dan tak ada kekurangan, saya malah tidak bahagia.

Adalah sebuah momen di saat Matroishka mengalami peningkatan penjualan yang cukup signifikan, dan atelier baru saja berjalan untuk satu-dua pelanggan pertama—I was putting a lot of smile in my face. Rasanya penuh kebanggaan, bukan di mata orang lain; tapi lebih pada diri saya sendiri. Saya seakan bicara pada Postpartum Depression yang dahulu sempat menghantui saya dan membuat anak saya speech delay, “Makan nih! Gue bisa sukses! Gue bisa menyelamatkan diri gue, kok!” …

…dan di waktu yang sama, rasanya lebih kosong dari kapanpun dalam hidup saya.

Processed with VSCO with e4 preset
Saya dan Yoni yang memakai Cassie dari Matroishka

Kalau dihitung-hitung, sudah 7 bulan berjalan semenjak momen saya dirawat di rumah sakit. Dan waktu itu hanya ada tiga hal yang benar-benar membekas di hati selain momen infus mampet pukul dua malam, sendirian, di hari ulang tahun saya…

Pertama, saat ketiga sahabat – Ashtra (Dymach), Fithri (Widanarty), dan Mega (Novelia) mengirimkan balon dan mengingatkan saya bahwa mereka akan selalu ada meskipun tidak selalu dekat.

Kedua, suami yang tanpa kenal lelah menjaga anak saya karena saya tengah sakit dan harus beristirahat total.

Ketiga, Andra (Alodita) yang waktu itu membesuk saya dan berkata, “Pris… lo kenapa, sih? Evolve aja, lah, kalau ini memang bukan elo lagi.”

Dan ya, menutup Matroishka Nursingwear akhirnya menjadi salah satu aksi terbesar, terdrastis, dan ter-radikal dalam hidup saya. Meski ada—banyak, lebih tepatnya—pikiran yang mengatakan, akan jadi apa ya, saya, tanpa Matroishka? Apakah saya tetap bisa menjadi saya yang ‘utuh’ seperti dulu? 

Processed with VSCO with e4 preset

Percayalah, ini terlihat begitu mudah saat saya menuangkannya dalam bentuk tulisan. Namun saya sempat mengalami batuk berkepanjangan karena asam lambung yang naik hingga tenggorokan, kecanduan kopi yang sangat tidak sehat (saya sempat minum hingga 3 gelas sehari), tidur hanya 4 jam hampir setiap malam, hingga puncaknya… ganti kulit.

Saya sangat tidak rentan terhadap sunburn. Namun saat saya tengah getol-getol-nya istikharah dan menuju kemantapan bahwa Matroishka Nursingwear harus usai, saya ganti kulit. Wajah dan bibir saya mendadak kering kerontang. Saya sampai parno, apakah fungsi ginjal saya terganggu karena terlalu banyak kopi? Tidak juga rupanya, karena yang kering hanya wajah. Dan di saat itu, saya mengalami banyak gejala yang aneh dalam tubuh saya. Di belakang leher saya tiba-tiba muncul pula beruntusan yang entah dari mana asalnya, juga kepala yang sering terasa pusing tanpa sebab meski saya sudah minum air putih sangat banyak.

They say winners never quit and quitters never win—namun saya tersadar, ini bukan lagi tentang saya.

Ini adalah tentang Tuhan saya, Allah ya Rabb, yang telah begitu lama memberi saya pertanda. Sinyal. Menginginkan saya untuk berhenti sejenak dan mengenal lagi diri saya. Membiarkan otak saya beristirahat hingga akhirnya ia benar-benar mengerti siapa dirinya dan apa yang ia inginkan.

Processed with VSCO with e4 preset
🙂

For once in my life, I feel certain with the future—meski saya tahu manusia hanya bisa berencana. Dulu, saya selalu berorientasi pada mimpi—namun kini, saya memilih untuk melakukan apa yang saya mau kini, dan membiarkan doa dan konsistensi membawa saya pada cita-cita terbaik.

Dan hal inilah yang akhirnya mengizinkan saya tidak sekedar tahu, namun benar-benar mengerti siapa itu Raden Prisya. Apa passion saya dan apa yang sesungguhnya membuat hati saya tergerak. Setelah memberi announcement pada akun Matroishka, saya memilih untuk mendekat pada anak-anak saya dan mengikuti pelatihan edukasi anak yang mumpuni. Ya, setelah saya mengenal diri saya, ternyata saya ingin kenal lagi anak-anak saya. Well, mungkin juga, anak-anak pada umumnya. Saya tetap ingin bermanfaat dan meng-empower para Ibu, namun mungkin dengan cara lain yang akan datang di hari-hari menjelang.

Apakah artinya saya mau membuka daycare? Atau membuat parenting platform? Membuat portal baby activity? Sejujurnya, saya sudah memiliki cita-cita baru terpampang di kepala. Tapi kayaknya lebih seru kalau jadi kejutan saat akhirnya rencana saya selanjutnya sudah benar-benar berjalan ya ;D

 

Saya tahu, teman-teman pasti akan bilang… sayang banget dong, Matroishka-nya?

Kalau ditanya sekarang, honestly, saya akan bilang: Enggak. Sama sekali enggak. Karena Matroishka, saya mengenal #matroishkateam yang passionate dan mendapat gambaran tentang arti kerja keras. Saya bertemu teman-teman yang menginspirasi. Saya mengenal banyak sekali #matroishkamoms dengan cerita-cerita perjuangan menjadi Ibu yang luar biasa. Jadi, apakah kami akan kembali? Maybe at the right time, Mommies. I honestly don’t know when.

Tapi janji saya adalah… pada saat kami sungguh kembali, kami akan lebih menguatkan kalian lagi, para Ibu-Ibu hebat. Kami akan memberi lebih banyak lagi cinta. Kami akan lebih dekat lagi—jauh lebih dari sebelumnya.

 

Untuk teman-teman yang merasa belum menemukan diri sendiri, tenanglah—kamu tidak sendiri. Dan ya, meski terdengar sepele, saya sangat mengerti bahwa ini bukanlah perkara yang mudah. Namun bila kita memberanikan diri untuk mencari, niscaya, jalan itu akan terbuka. Ingin mencoba sesuatu yang baru? Cobalah! Commit yourself and give your all—dan bila ternyata hal itu dirasa kurang cocok, congratulate yourself for trying; dan coba lagi yang lain saat tenaga sudah kembali terkumpul. Karena ada banyak cara, ada banyak tahap yang perlu dilalui sebelum kita menemukan diri kita yang terbaik.

Percaya? Setelah membaca ini, I really hope you do.

 

Cheers,

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s