How I Found My True Happiness As a Mother

Pagi ini, anak-anak saya kembali masuk sekolah, setelah 3 minggu bersama saya hampir 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.

Processed with VSCO with g3 preset

Dulu saat masih memakai nanny, saya kerap menghitung hari setiap kali anak-anak libur. Rasanya ingin cepat-cepat kembali merasakan setidaknya 5 jam dalam sehari cukup milik saya saja, untuk bekerja dan berkarya, bertemu teman-teman yang produktif, dan sebagainya. Namun kali ini rasanya berbeda.

Saat masih 2 minggu menjelang, rasanya tenang saja. Saya percaya semua baik-baik saja. Anak-anak saya bukanlah tipe yang anteng—believe me, they’re just like the other boys out there—dan hari-hari yang rempong menjadi makanan saya sehari-hari.

Tapi kali ini, saya nggak pusing kepala.

Ada sesuatu yang membuat saya tetap tenang, tetap merasa saya masih bisa menjadi diri sendiri meski mereka seliweran dan jumpalitan di sekitar saya. Dan ini pun membuat saya heran, karena sejak kecil pun, saya hidup di tangan nanny. Kedua orang tua saya bekerja, dan ni membuat nanny terlihat sangat lumrah di mata saya. Tapi kini semua berubah; saya memilih untuk bertiga saja dengan Athar dan Bhamas—sama Bapaknya juga ya, tentunya! Dengan kondisi saya yang pernah Post-partum Depression, ditambah merintis startup yang kerap bikin setres, juga delay yang dialami anak saya di tahun-tahun pertama; honestly, saya pun merasa heran.

Processed with VSCO with g3 preset

Sampai akhirnya saya menilik-nilik isi hati saya sendiri. Bukan, bukan mau jumawa—bukan juga mau ngajarin bagaimana caranya menjadi Ibu tanpa nanny. Ini adalah soal kebahagiaan, ketenangan hati kita sebagai seorang Ibu. Dan saya menemukan jawabannya, juga membaginya. Karena ini bukan karena saya Ibu hebat atau Ibu istimewa. Ini cuma karena pola pikir yang berubah 180 derajat, dan mengakibatkan motherhood menjadi surga bagi saya saat ini.

 

I stopped picturing the perfect mother.

Dulu saat saya hamil, saya telah ‘merancang’ sosok Ibu sempurna yang saya rasa tepat dan tentunya sempurna pula untuk anak saya. Entah darimana saya mendapatkan sosok tersebut; film? Sinetron? Buku panduan parenting? Entahlah. Yang jelas, gambar ini menjadi hantu buat saya. Yang awalnya secantik Princess Elsa, lama-lama jadi kuntilanak.

Ya, karena saya tahu persis bagaimana saya tidak bisa menjadi dia. Dia yang saya rencanakan. Yang nggak pernah main HP saat jagain anak. Yang nggak pernah marah atau yang rasanya pengen kabur saat si kakak dan adik sudah rebutan mainan. Saat menyadari bahwa anak saya mulai bisa ngomel dan itu tak lain dan tak bukan adalah hasil dari mencontoh Ibunya.

Processed with VSCO with g3 preset

Saya pun menghapus sosok perempuan sempurna itu dari pikiran saya.

 

I stopped channeling myself to that perfect mother picture.

Setelah menyingkirkan sosok Ibu sempurna itu—otomatis keinginan saya untuk menjadi dia pun berangsur menghilang. Saya mulai melihat diri saya sendiri, dan apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan saya. Disinilah akhirnya saya kembali mencoba mengenal diri saya sendiri; apa yang saya sukai, apa yang saya tidak sukai, yang akhirnya membuat saya mengerti apa hal terbaik yang bisa saya lakukan saat bersama dengan anak dan juga saat melakukan me-time sehingga berkualitas. Pasti pernah kan, melakukan me-time dan kemudian kembali ke rumah dan penatnya kembali lagi dengan begitu cepat? Mengenal diri sendiri, bisa membantu agar ini tak lagi terjadi.

Processed with VSCO with g3 preset

I stopped crying on failures and judging myself about how I should’ve been a perfect mother.

Saya akui, salah satu hal tersulit adalah memaafkan diri sendiri dan let go apa yang terjadi di masa lalu. Menilik-nilik sejarah saya sebagai Ibu, tentu satu hal yang ingin sekali saya hapuskan adalah saat mengalami Post-partum Depression. Apabila teman-teman tidak mengalaminya, beruntunglah kalian. Bersyukurlah kalian. Karena entah bagaimana sebabnya dan dari mana asalnya, PPD DOES EXIST. Dan apa yang saya alami ini membuat saya terdiskoneksi dengan anak pertama saya, Atharjahja (cerita lengkapnya ada disini). Ini membuat kami berdua bekerja keras untuk menemukan bonding, hingga akhirnya bisa terus bersama-sama hampir tanpa jeda seperti sekarang.

 

I stopped constantly taking things’ temperature.

Saat saya berhasil memaafkan diri sendiri, akhirnya dirasa tak perlu lagi menerka-nerka dan menilai semua yang terjadi. Kemarin lancar, hari ini heboh, besok kayaknya lebih heboh, apalagi minggu depan. Kemarin ngomel, hari ini enggak. Pasti besok ngomel lagi deh… duh apalagi mau keluar kota, eh mau vaksin, aduh pasti ribet. Tapi mudah-mudahan aja engak deh… dan seterusnya dan seterusnya.

Processed with VSCO with g3 preset

Saran saya, cobalah untuk berpikir lebih mindful. Berkonsentrasilah dengan apa yang terjadi saat ini. Berhenti menilai apa yang telah terjadi, dan meski teman-teman senang membuat semuanya well-planned, cobalah untuk tidak menerka-nerka apa yang akan dilalui dan go with the flow saja.

I forgave everything in the past, and finally accepted who I really am.

Semua tahapan yang telah saya lalui diatas, akhirnya berujung pada mimpi terindah saya sebagai seorang Ibu.

Saya. Memaafkan. Diri saya sendiri. Dan saya sangat mengerti betapa saya tidak sempurna—sebagai perempuan, dan sebagai Ibu. Saya masih suka ngomel, meski terus mencoba untuk mengendalikan diri. Namun saya tak pernah segan pula untuk meminta maaf kepada anak. Anak saya pun suka merajuk, bahkan salah satunya masih suka teriak-teriak menangis heboh dan susah sekali berhenti (tell me about it!)—tapi disinilah akhirnya kami sama-sama memiliki rasa untuk saling mendampingi. Saya nau’in anak saya, dan anak saya nau’in saya. Setiap kali ia tantrum, saya pun teringat kekurangan saya sebagai Ibu. Dan saya akan mendampinginya. Memeluknya. Menenangkannya seperti bagaimana anak saya mencoba mengerti saya setiap kali saya kurang bersabar akan apapun yang tengah dilakukannya.

Mungkin itulah kuncinya, saling mengerti dan mendampingi.

Processed with VSCO with g3 preset

Dan percayalah, kini saya jauh… jauh lebih bahagia dari sebelumnya. And I know everybody can be in my shoes too.

 

Cheers,

4 Comments

  1. Avina Anin Nasia

    Mbak Prisyaaa… Makasihhh bangeeet untuk sharing tentang PPD nyaa. Sungguh mencerahkan ku bangeet. Tulisan mbak yang ini juga mengingatkanku banyak hal; terutama untuk menerima diri apa adanya dengan segala ketidak sempurnaannyaa. Thank you Mbak!
    :”)

    Like

    1. Raden Prisya

      Hi Mbaa.. salam kenal ya 🙂 PPD itu masih banyak dianggap enteng kayanya di luar sana, padahal efeknya sungguh ruarr biasa nggak cuma buat kita tapi juga ke anak 😦 hope we all can be happier every day yaa, Mbak :*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s