Cerita Tentang Tantrum, Sayur-Buah, dan Ibu Tanpa Nanny

Tadi pagi, saya membaca sebuah infographic dari @tirtoid, yang mengatakan bahwa orang tua yang stres akan mengakibatkan anak turut meniru perilaku tantrum orang tua mereka tersebut.

Okay, here we go again.

Saya langsung berpikir bagaimana setiap peran kita sebagai orang tua dapat memberi efek terhadap anak – sekecil apapun itu. Dalam kasus saya, misalnya; mengalami postpartum depression selama 4 tahun, bisa dibilang sangat berpengaruh dengan proses bonding saya dengan Atharjahja. Kesulitan memiliki koneksi itulah yang memberi akibat dalam tumbuh kembangnya dahulu.

Namun… memang Allah tidak akan pernah memberikan cobaan yang lebih besar dari kekuatan hamba-Nya. Ingat tulisan tentang Perjuangan Atharjahja Mengejar Tahap Tumbuh Kembangnya? Saya sangat bersyukur, kini ia jauh lebih baik — you would not tell that he had some issues before. Meski saya masih mengumpulkan kompilasi momen yang tepat untuk melanjutkan ke tulisan ketiga, ada sesuatu yang perlu diketahui oleh setiap Ibu di dunia ini. Bukan karena saya ingin menghibur atau menggarami laut. Tapi karena memang beginilah adanya.

Processed with VSCO with g3 preset

Tidak sempurna sebagai seorang Ibu, bukan berarti kita (dan anak kita) menjadi tidak normal. Pada akhirnya dengan semua ilmu parenting yang tersaji di dunia untuk kita, komposisi kita lah yang akan menciptakan si anak. Anak kita. Kita, dengan semua kekurangan kita. Karena pada akhirnya pun, hidup tak hanya tentang flowers and rainbows.

Bukan berarti dengan fakta ini, kita bebaskeun aja mau berbuat apapun pada anak. Nggak dong! Setiap kesalahan yang kita perbuat akan menumbuhkan sebuah kondisi dan membentuk konsekuensi. Apalagi, neuron anak yang sudah terbentuk akan rusak apabila ia berada dalam kondisi tertekan.

Namun, back again, terus merasa guilty dan bersalah malah akan membuat keadaan lebih buruk. Orang tua yang merasa disorientasi saat mendidik atau berinteraksi dengan anak, is the worst thing ever. Mereka akan mudah marah dan cenderung sangat tegang karena insecure. Sekali lagi, bukannya jadi menghalalkan kesalahan dan ketidaksempurnaan kita sebagai orang tua, but I believe there will always be a blessing in disguise. Saya tahu ini sulit dijelaskan, that’s why akan saya jabarkan dengan penggambaran melalui dua cerita berikut.

 

3 Tahun Tanpa Sayur-Buah 

Apa rasanya memiliki anak yang tetiba mogok makan sayur dan buah semenjak ulang tahunnya yang kedua?

Satu kata. Matek.

Sewaktu kecil, Ayah saya kerap mencekoki dengan jus papaya setiap hari sebelum sekolah, dan kadang jus tersebut sudah dijus sekitar 30 menit sebelumnya dan tidak dimasukkan ke dalam kulkas, sehingga rasa dan bentuknya sudah seperti mimpi buruk. Tapi Ayah saya tidak mau tahu, beliau mau saya menghabiskannya sampai habis. Semenjak itu, saya membenci buah. Dan saya tidak suka buah dan sayur.

Entah apa yang akhirnya menyebabkan Athar juga ‘tertular’ kebiasaan tersebut. Padahal sejak lahir ia telah menganut paham BLW dan sudah bisa makan sendiri dengan lancar. Namun memang, menjelang 2 tahun ia kerap ‘meminggirkan’ semua sayur dan buah yang saya sediakan sampai akhirnya betul-betul mogok total. Dan karena saya takut apabila dipaksa ia akan trauma seperti saya, akhirnya saya hanya diam dan mencontohkan.

Processed with VSCO with g3 preset

Namun, diundang LivingLoving.net di acara Minute Maid Indonesia yang membahas tentang pentingnya nutrisi (speaking of fruits and vegetables, of course), mengubah segalanya – sungguh ini bukan pesan sponsor! Athar memang terlihat sangat kurus, meski makan protein dan dairy-nya sangat banyak. Dan pada saat dirawat di rumah sakit sekitar beberapa bulan lalu, kadar zat besi dalam tubuhnya memang borderline. Mas Jansen Ongko, narasumber di acara Minute Maid tersebut mengatakan bahwa tidak ada yang benar-benar bisa menggantikan peran buah dan sayuran untuk tubuh kita.

Saya khawatir. Luar biasa. Semenjak itu, I state to myself that I have to show my son how I love fruits and veggies. As much as I can. Mungkin teman-teman bisa lihat betapa seringnya saya membuat jus di instastory saya, sesungguhnya Atharjahja-lah tujuan utamanya.

Dan setelah beberapa minggu, saya mengatakan pada suami saya, “Athar is eating veggies and at least a portion of orange juice. Tonight.”

 Adid bingung. Dia hanya bertanya, “Does this mean we finally make him learn the hard way?

Lalu saya mengangguk.

***

Kali pertama Athar makan sayur, ia makan ikan salmon dengan nasi dan sayur taoge. Ia menangis gerung-gerung. Ia berteriak, “Aku nggak sukaaaa… aku nggak sukaaaaaaa…” dan saya terus berkata padanya, “Athar mungkin tidak suka, tapi badan Athar perlu

It was probably the longest 5 spoonful of rice in my life. 

Tapi setelahnya, Athar menyadari tanggung jawabnya terhadap tubuhnya. Mungkin ia merasakan sesuatu yang berbeda – sehingga akhirnya selalu makan setidaknya 5 suap sayuran dalam seporsi makanan. Ia minum jus jeruk peras setiap hari, juga apel potong setidaknya 2 iris. Not much, but pretty much a good start. Dan entah kenapa, sekarang ia kerap menanyakan jatah sayur dan buahnya setiap hari meski belum diberikan.

Processed with VSCO with g3 preset

Dan apabila teman-teman bertanya apakah saya menyesal pernah tantrum demi dia yang makan sayur? I will say no. Not at all.

 

Ibu Tanpa Nanny 

Cerita kedua adalah tentang saya, seorang Ibu tanpa Nanny yang kebetulan juga memiliki usaha. Merintis lebih tepatnya. Memiliki usaha bisa berarti tidak bisa tidur, atau tidak mampu melepaska diri dari laptop apabila pekerjaan belum selesai, dan ini adalah tantangan yang tidak ada tandingannya bagi saya. Bermain dengan anak dalam keadaan kepala penuh, atau mendengar anak mulai memasuki kantor dan memanggil saya di saat sedang hot hot-nya menggambar sebuah koleksi – nothing could beat that!

Processed with VSCO with g3 preset

Biasanya saya bisa tenang dan nyaman-nyaman saja meski harus mengerem ide atau ada urusan yang belum selesai. Namun kelelahan tubuh saya sewaktu seharian mengerjakan campaign #MatroishkaXHaloIbu beberapa waktu lalu, rasa capek yang saya alami betul-betul tidak bisa atasi – apalagi dengan anak-anak yang menyambut saya di rumah dan langsung ngotot ngajak main. Dan ya, saya harus main. Dan mengganti baju mereka. Dan mengajak mereka sikat gigi. Dan membacakan cerita sebelum tidur. Dan seterusnya dan seterusnya.

Processed with VSCO with g3 preset

Kalau mau ngikutin isi hati, rasanya cuma pengen nyalain diffuser Young Living, cuci muka, lalu pakai masker SK-II sampe ketiduran. Akhirnya… pada saat Bhamaskaja malah cari perhatian dengan melempar sikat gigi dengan begitu kencang ke kaca dan membuat bunyi luar biasa gaduh, saya pun tantrum.

Keduanya menangis… dan berujung pada saya yang ikut menangis di hadapan mereka. Saya menangis bukan karena marah, namun karena rasa bersalah. Karena telah marah –  what have I done?

I don’t even care about how much my leg hurts that day, saya hanya berharap bisa memutar waktu dan memeluk mereka erat-erat. I snapped out and I was wrong big time.

Processed with VSCO with g3 preset

So I tried to make up my mistake dengan cara berbicara apa yang ada di hati saya hari itu. Betapa saya pergi bukan hanya maen-maen tetapi betul-betul ada tujuan. Betapa saya bekerja untuk mereka dan masa depan mereka. Betapa semua yang saya lakukan adalah demi mereka. Pada akhirnya, semua pun hanya untuk mereka. Dan di sanalah terjadi sebuah percakapan yang menurut saya life-changing, dan amat sangat penting:

Me: “Athar & Bhamas mau pakai Mbak lagi seperti dulu, atau mau sama Bunda terus seperti sekarang?” (Baru sekitar 6 bulan terakhir saya tidak memakai jasa Nanny)

Them: “Mau sama Bunda terus,”

Me: “Kalau begitu kita harus saling mengerti. Karena Bunda sama seperti Mas Athar dan Bhamas – kadang Bunda capek, kadang Bunda lapar, kadang Bunda mengantuk, kadang Bunda tidak mau main.”

Them: “…”

Me:Maafin Bunda ya, tapi kali ini Bunda betul-betul capek. Bunda menemani Athar dan Bhamas melakukan semua ritual, dan tadi …”

Again, I burst into tears.

Lalu Bhamas tetiba mengambil tisu dari kotak dan memberikannya ke saya, “Maafin Bhamas ya, Bunda. Menangisnya sudah ya.”

Disusul si Kakak yang juga meminta maaf, saya yang kembali meminta maaf, lalu kami bertiga berpelukan. And we had our bedtime story session. And we slept together, hugging each other.

FYI, suami saya dinas di luar kota 😀

Processed with VSCO with g3 preset

Semenjak hari itu, hubungan kami bertiga jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya terus mencoba melakukan yang terbaik sebagai Ibu; lebih sabar, lebih tenang, lebih pengertian – namun saya merasa sangat bahagia karena kedua anak saya pun memberikan perhatian mereka yang luar biasa. Saat saya pulang dari bekerja dan membutuhkan 15 menit rebahan misalnya, mereka bersedia menunggu. Bahkan saat saya betul-betul lunglai setelah dipijat Raindrop Technique, Bhamas menghampiri saya dan mau main sambil saya tetap dalam posisi tidur. Pernah juga suatu hari, saya berbicara dari hati ke hati kepada Athar tentang bagaimana jungkir balik-nya saya menyiapkan berangkat ke sekolah setiap pagi – dan dalam keadaan tersebut pun, kadang ia masih juga ‘cari perhatian’ dengan berbagai cara. Tanggapannya? Ia tertawa dan berkata, “Maaf ya Bun, Athar sayang sekali sama Bunda!”

Kesimpulan saya, tantrums and anxieties akan selalu salah – namun kita dapat memperbaikinya, mengimbanginya, menjadikannya sesuatu yang membuat anak kita menjadi versi terbaik dirinya. Pada saat itu semua sudah terjadi, biarkanlah itu terjadi. Tak perlu berlarut-larut dan menyalahkan diri sendiri. Tanyakanlah pada diri kita apa yang kita butuhkan, karena Orang Tua yang merasa lengkap dan bahagia akan menjadi companion yang paling tepat bagi anak. Selalu berjanji pada diri sendiri bahwa cara sopan dan respectful akan selalu kita ambil, seburuk apapun keadaan yang ditampilkan anak kita.

Processed with VSCO with g3 presetProcessed with VSCO with g3 preset

Because after all, your kids should be your best-est friends of all 🙂

4 Comments

  1. Ayus Sarah

    Prisyaaa.. aku suka banget baca blog km, dan untuk yang ini aku terharu pas bagian bhamas kasih tissue lalu kamu dan anak2 berpelukan.. *mellowlangsung :’))
    Happy mother’s day Pris! :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s