Perjuangan Athar Mengejar Milestone Tumbuh Kembangnya – Part 2

After The Observation

Setelah melalui observasi selama satu bulan, Ibu Neni – wali kelas Athar, bercerita kepada saya secara gamblang tentang apa saja yang perlu ‘dikejar’ oleh bocah berusia 3 tahun itu. Berikut saya jelaskan beberapa tahap tumbuh kembang anak usia 3 tahun, dan kondisi Athar pada waktu itu.

  • Mampu mengucapkan lebih dari 3 kata – Disini, Athar belum mampu berbicara lebih dari dua kata saat berbicara atau meminta sesuatu.
  • Mampu menggenggam dan mengontrol gerakan tangan – Gerakan tangan Athar masih lack of control – contoh saat membubuhkan lem atau membuat lego. Ada kalanya ia juga melakukan gerakan mengibas-ngibas dengan tangan tanpa sebab.
  • Mengikuti 3 instruksi dalam kelompok secara tuntas – Biasanya Athar hanya mengikuti hingga 1 instruksi saja, kemudian keluar dari kelompok dan mencari kegiatan sendiri.
  • Bergerak lancar dari kegiatan yang satu ke kegiatan lainnya – Selalu ada satu dan lain hal yang membuat Athar kehilangan fokus dan kemudian melakukan kegiatan di luar kelompok teman-temannya.
  • Merespon perkataan orang lain dengan benar – Instead of merespon, Athar lebih banyak mirroring apa yang diucapkan orang lain terhadapnya. Seharusnya ini terjadi di usia 2-3 tahun.
  • Koordinasi tubuh yang lebih baik – Gerakan kaki Athar tidak tepat sasaran dan tidak memiliki ritme yang jelas. Koordinasi tubuh yang belum tercipta dengan baik membuat Athar masih sangat kesulitan melakukan kegiatan seperti menendang bola, melompat, atau mengayuh sepeda roda 3.
  • Bergerak lancar dalam lingkup ruangnya sendiri – Karena gerak tubuh yang belum terkontrol, akhirnya Athar kerap sering menabrak dan memasuki lingkup gerak orang lain di sekitarnya. Ia juga sering melakukan gerakan tangan mengibas-ngibas karena lack of awareness and self-control.

Processed with VSCO with hb1 preset

Selain hal-hal diatas, terdapat juga delay dalam beberapa aspek conflict management dan juga problem solving yang dialami oleh Athar. Di satu sisi, saya merasa PR saya mendadak sangat banyak – namun saya bersyukur memiliki guru-guru di Al-Falah yang dapat mendampingi dan memberi panduan lengkap bagi saya. Guru berjanji untuk bertemu dengan saya setiap akhir bulan, untuk membicarakan perkembangan Athar dan apa saja yang bisa dilakukan di rumah untuk membantunya mengejar skill tumbuh kembangnya yang tertinggal.

Saya ingat sekali, di tahun pertama, PR utama saya adalah membuat semua kegiatan memiliki start dan finish yang jelas. Selama ini, anak-anak kerap memainkan apa saja yang mereka inginkan tanpa memedulikan kapan mulai dan kapan selesai. Di Al-Falah, kami membiasakan untuk berdoa sebelum berkegiatan, memberi pijakan (penjelasan aturan, jangka waktu, dan urutan setiap kegiatan), berkegiatan, memberi warning saat waktu akan segera habis, dan beres-beres saat kegiatan selesai.

Selain itu, saya dibiasakan untuk berbicara pelan, dengan bahasa baku dan formasi kalimat SPOK, sebagai bentuk pembelajaran agar Athar mudah menangkap informasi dari bahasa yang saya berikan. Saya juga diminta untuk sebanyak mungkin mengobrol dengannya. Isi obrolan bisa terdiri dari sifat dan kegunaan suatu benda, atau membantunya mengekspresikan perasaan. Sebagai contoh: saat melihat truk besar di jalan tol, saya akan bertanya warna dan bentuk truk tersebut kepada Athar. Saat ia hanya mirroring perkataan saya, saya akan lanjutkan dengan jawaban dari pertanyaan saya tadi. Saya kemudian akan menjelaskan fungsi dari truk tersebut dengan bahasa yang tak lebih dari 4 kata. Saat ia menangis dan tantrum, saya akan menjelaskan apa yang ia rasakan. Misal, “Athar kesal ya? Bunda mengerti Athar kesal. Tapi Athar harus mandi. Badan Athar kotor.”

10628584_10152722245068728_5443644203282076668_n

Cara-cara diatas mungkin terlihat sederhana, namun sangat bisa memberikan progress saat dilakukan secara terus-menerus. Karena masih merintis Matroishka dan merasa belum mampu mengurus kedua anak saya tanpa bantuan, saya meng-hire seorang pengasuh yang betul-betul bisa menjadi perpanjangan tangan saya dalam men-‘terapi’ Athar di rumah apabila saya harus bekerja.

Bulan demi bulan berlalu, hingga waktu kenaikan kelas pun tiba. Saya tidak berani berharap banyak. Semua saya ikhlaskan kepada Allah SWT. Saya mengucap syukur ketika terjadi peningkatan sebagai berikut:

  • Athar telah lancar mengikuti runutan kegiatan selama satu hari di sekolah, meski dengan pengingatan.
  • Konsentrasi bermain yang awalnya hanya berkisar hingga 3 menit, meningkat hingga 10 menit pada kegiatan yang disukainya.
  • Kepercayaan dirinya mulai tumbuh, dan ia mulai berani menanyakan kegiatan apa yang telah disiapkan guru untuk dirinya.
  • Athar selalu berusaha keras merespon instruksi dan pijakan guru pada kegiatan main yang dimulainya, meski seringkali kesulitan menuntaskan pekerjaan.
  • Sudah bisa berkonsentrasi pada satu benda yang betul-betul disukainya, meski akhirnya benda tersebut hanya dibongkar dan ditinggalkan (belum dibereskan). Ia kemudian mengamati teman lain yang melakukan hal yang sama.
  • Athar mampu berbicara dengan lebih jelas, yang awalnya hanya 2 kata, kini bisa menjadi 4-5 kata dengan bimbingan.
  • Mulai aware dengan kegiatan yang dilakukannya dan mampu berkonsentrasi penuh, contohnya dalam kegiatan menggunting.

IMG_7335

Namun demikian, guru mengatakan bahwa Athar sebaiknya mengulang tingkat Kelompok Bermain demi kelancarannya dalam belajar di kemudian hari. Setidaknya setahun lagi dibutuhkan untuk membuat proses pengejaran tahap tumbuh kembangnya lebih optimal, agar ia tidak kesulitan dan memiliki kemampuan yang tidak sesuai dengan teman-teman seusianya.

Perasaan saya? Well, I just try to be fine. Sungguh setahun itu saja rasanya sudah lelah sekali. Namun saya mengerti bahwa tak ada hal yang instan, apalagi yang bertahan lama. Dan ada satu lagi yang membuat saya terus bersemangat.

Di antara perkembangan Athar yang sangat memerlukan kerja keras, saya melihat bagaimana anak ini berusaha. Bagaimana ia selalu mencoba untuk bangun pagi-pagi dan bersiap ke sekolah meski teman-teman sekompleknya masih bermain di taman. Bagaimana ia meminta saya untuk mengurut kakinya di malam hari karena lelah sebelum ia tidur, dan bagaimana ia selalu mencoba mengekspresikan rasa bahagianya di sekolah saat bertemu dan bermain dengan teman-temannya, meski dengan bahasa yang masih terbata-bata.

Di sana saya tersadar, bahwa bukan saya lah yang berjuang disini. Saya hanya mendampinginya – ialah sesungguhnya si pemeran utama. Atharjahja.

DSCF5561

Sambil saya sendiri terus mencoba untuk lebih sabar dan tenang dalam menjalani semua, tak pernah lupa saya panjatkan rasa syukur kepada Allah SWT. Terlepas dari apapun, saya merasa bahwa Ia tengah memberikan yang terbaik untuk Athar – and there is nothing better than that. Saya yakin, dengan usaha dan doa, tahun-tahun berikutnya akan lebih baik lagi.

Yuk, Nak, kita jalani lagi kelas Kelompok Bermainmu. Kita belajar lebih banyak lagi. I will always be here, no matter what.

 

To be continued: Tahun Kedua di Kelompok Bermain

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s