Perjuangan Atharjahja Mengejar Milestone Tumbuh Kembangnya – Part 1

A Little History

Saya nggak tahu apakah ini karena saya lagi PMS atau tidak,–tapi yang jelas, air mata saya ngembeng saat memulai tulisan ini. I’ll try to make this story as short-and-sweet as possible biar nggak kepanjangan, but I guess some history just had to be told.

Saat hamil Atharjahja, saya dan suami melakukan segalanya; riset gentle-birthing terbaik, olah raga 3 kali seminggu untuk melunakkan mulut rahim, afirmasi dan dialog dengan janin… you name it. Dan sepertinya dalam hal ini Tuhan memberi jalan, hanya butuh waktu 2 jam mulas sebelum akhirnya ia lahir ke dunia. Namun di saat saya kira perjuangan saya telah usai, isu sesungguhnya datang. Motherhood sungguh jauh lebih tough dari yang saya kira. Diawali dengan masa awal menyusui yang luar biasa sakit (Athar mengalami tounge-tied dan di insisi di hari ke-7, yang sesungguhnya sudah agak terlambat karena luka saya baru sembuh 4 bulan kemudian. But better late than never, kan? Ia bisa menyusui hingga 2 tahun J), dan dilanjutkan dengan saya yang mengalami post-partum depression (PPD) selama 4 tahun.

athar

Mungkin karena PPD yang saya alami itu, rasanya seperti tersesat. I always tried to be the best for him, mencoba untuk selalu dekat dan bicara, dan sebagainya.. yah senormal-normalnya jadi Ibu aja. Namun tidak dapat dihindari, PPD bisa membuat emosi seorang Ibu sangat tak terkendali. Dan saat masa-masa emosional itu datang, saya memilih untuk kabur dan menitipkannya kepada orang lain. Emosi yang seringkali sangat meledak-ledak, membuat saya tidak percaya – bahkan takut pada diri saya sendiri. Saya tidak percaya bahwa diri saya mampu bisa menjadi Ibu yang baik. Dan saat akhirnya saya sembuh, saya sadar bahwa anak saya sangat lack of attachment dengan saya.

Untungnya, tidak perlu menunggu hingga ia berusia 4 tahun untuk akhirnya saya dan suami menyadari bahwa ada yang salah. Saat kenaikan kelas tahun pertamanya di Playgroup (usianya sekitar 3 tahun saat itu), psikolog sekolah menyurati saya dan mengatakan bahwa ada delay pada proses tumbuh kembang Athar. Kecurigaan utama ada pada speech delay, yang akhirnya membuat Athar menjadi lack of focus dan tidak mampu menerima instruksi.

Waktu itu saya seperti gagap karena bingung – mencoba untuk see things clearly namun masih meraba-raba. Masih mencoba mencari tahu apa yang salah, dan apa langkah yang perlu saya ambil. Di satu sisi, saya merasa sekolah tempat ia belajar itu memang belum benar-benar sesuai dengan apa yang saya inginkan. Athar terlihat belum bisa ‘lepas’ dan ‘all out’ saat berada di sekolah. Entah benar demikian, atau karena saya memang butuh sesuatu untuk disalahkan. Dan karena kecewa, saya memindahkan Athar dari sekolah tersebut. Mungkin saya memang denial.. tidak mau menerima kenyataan.

 

The Beginning of His Struggle

Singkat cerita, saya dan suami sepakat untuk mencari sekolah baru untuk Athar di usianya yang ke-3. Sungguh saya bersyukur kepada Allah, tidak membutuhkan waktu lama setelah surat dari psikolog itu datang, hingga akhirnya kami mendengar cerita tentang sekolah Al-Falah dari sahabat saya, Audy Antawijaya. Saya bahkan baru menjadwalkan Athar ke sebuah klinik tumbuh kembang, ketika tetiba kesempatan untuk datang ke Al-Falah itu tiba. Penjelasan Audy pada saat itu, Al-Falah menggunakan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Contoh: menurut ilmu psikologi, anak dinilai belum bisa duduk diam sepanjang hari dan menghadap ke papan tulis hingga mereka kelas 5 SD – dan inilah yang diterapkan di Al-Falah, dimana mereka masih belajar dengan cara mobile hingga usia tersebut. Metode Al-Falah juga tidak menggunakan cara melarang, menyuruh, dan memarahi anak – sesuatu yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Namun yang paling membuat saya tertarik adalah, Al-Falah dinilai bisa membantu anak mencapai milestone yang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya. Dan tak lupa, setiap orang tua murid di Al-Falah diwajibkan untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Orang Tua selama 2 minggu penuh, segera setelah anak terdaftar sebagai murid. Tujuannya? Karena program yang dijalankan pada setiap anak berbeda-beda, sekolah membutuhkan orang tua untuk betul-betul bekerjasama dan mengintegrasi cara didik yang mereka lakukan terhadap anak.

FYI, rumah saya di Bintaro, dan Al-Falah berada di Cipayung – Jakarta Timur. Apabila jadi pindah, Athar harus berangkat pukul 06:30 setiap harinya.

Ada hal besar yang membuat saya tertarik pada sekolah ini, namun seribu alasan lain menghalangi saya. Sambil berkonsultasi dengan suami, kami akhirnya memilih untuk survey dan berangkat ke Al-Falah sambil berharap-harap cemas. Sejauh apa sih, perjalanannya? Seberapa besar sih effort-nya untuk berangkat kesana?

athar3

Ternyata hanya membutuhkan satu kali survey saja untuk akhirnya kami mendaftarkan Athar. Semua yang ada di sekolah tersebut sesuai dengan ekspektasi saya. Saya merasa, semua yang Athar butuhkan, dan amunisi yang diperlukannya untuk mengejar apapun yang sempat tertinggal, ada disana. Sebagai Orang Tua, saya juga merasa sangat dipandu dan didampingi. Sejak awal, Ibu Guru mengajak saya untuk bekerja bersama, berjuang untuk apapun yang dialami oleh Athar.

Dan disinilah.. cerita sesungguhnya dimulai. Disinilah Athar mulai memperjuangkan dirinya. Sungguh, saya hanyalah pendamping. Ialah yang sesungguhnya jungkir balik demi dirinya.

Saat masuk, Athar diobservasi melalui sekolah selama 1 bulan. Dan setelah 1 bulan berlalu, saya dipanggil oleh wali kelas Athar untuk dilaporkan hasilnya. Ternyata di atas kertas, Athar memiliki banyak delay dalam tumbuh kembangnya, salah satu yang paling terlihat adalah dari cara ia bicara, juga rentang fokus yang delay hingga 2 tahun usia sebenarnya.

athar2

Hati saya hancur. Saya merasa gagal menjadi Ibu. Merasa gagal memberi yang terbaik. Merasa tidak becus.. dan tidak tahu harus mulai darimana. Karena saya, anak yang tidak bersalah ini harus mengalami ini semua.

 

To be continued.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s