#prisyawrites – Memahaminya

Ternyata membutuhkan 12 tahun untuk membuat diri saya melihat apa sesungguhnya arti cerita kami. Mensyukurinya, menikmatinya, membatasinya, dan menyimpannya. Dan, berusaha untuk tidak bertanya-tanya.

Semua yang ada di kehidupan kami sudah sempurna. Tidak mungkin ada yang melangkah pergi. Ya, tak mungkin. Tak peduli seberapa hijau rumput yang tertanam di seberang. Tak peduli seberapa besar chemistry itu terasa saat berjumpa. Tak peduli berapa lama kami tak pernah bertemu namun tetap menyimpan nama. Membayang-bayangkan. Mengingat-ngingat. Mengkhayal-khayal momen yang akan terjadi saat tiba-tiba bertemu..

Memang ini bukan kisah yang indah, bukan tipikal akhir bahagia yang membuat para tokohnya berpelukan. Namun yang penting, rasa nrimo telah menghias lubuk hati. Damai telah menguatkan diri. Ikhlas telah menyempurnakan nurani. Dan pahit, telah diterima harga diri.

Saya berusaha memahaminya. Namun rasa mengerti masih jauh dari asa. Semrawut masih menjajah. Kusut masih terjamah. Melupakan pun, rasanya tak mungkin. Jiwa ini masih belum legowo. Bertanya dan terus bertanya. Bertanya sambil tertawa, namun kemudian kembali tertunduk dan berkata, “Apakah saya mencintainya?”

Sesekali saya mengingatnya di malam hari, atau saat berkendara, di antara waktu-waktu saya memandikan anak saya. Atau saat mengantarnya ke sekolah. Atau saat saya tertawa-tawa bersama teman-teman. Atau saat sisir blow tengah membenahi rambut saya yang sekusut sapu ijuk di pagi hari. Saya kerap mengaduk saus spageti yang saya buat sambil berusaha menghindari panasnya, sambil kemudian mencicipi sedikit yang sudah matang sambil membayangkan apabila ia mencobanya. Apakah ia akan menyukainya, atau tidak. Apakah ia akan makan dengan lahap sambil memuji-muji kemampuan memasak saya. Atau mungkin akan tertawa sambil mengejek karena terlalu asin rasanya. Saya membayangkannya sambil menahan diri, berusaha tidak berakting dengan diri sendiri. Berusaha tidak mengucapkan monolog seakan-akan ia ada di hadapan saya. Melawan logika yang seakan membakar kepala.. yang di tengah-tengahnya kemudian memunculkan wajah anak-anak saya.. dan suami saya.. dan kemudian bayang-bayang mereka semua akan hilang karena perasaan kembali merajalela. Dan saya akan membayangkan wajahnya kembali.. saat ia tertawa, saat ia bergumam, atau melamun.. membayangkannya dan membayangkannya..

..bahkan ketika suami saya mengajak bercinta.

Cinta bukanlah sesuatu yang absolut. Tiada yang bisa mendefinisikannya. Setidaknya, saya telah memahaminya. Atau, apakah saya salah? Bagaimana menurut Anda? Apakah saya telah memahaminya?

Ataukah saya hanya tersesat?

Saya hanya bisa tersenyum.

Apabila saya harus mendefinisikan perasaan saya.. saya akan mengatakan bahwa mungkin saya mencintainya. Tapi, saya lebih memilih untuk bersama suami saya. Suami dan anak-anak saya. Darah daging saya yang tak ternilai harganya. Apalah arti kebahagiaan saya dibanding ketiga anak saya?

Namun apakah artinya saya tak bahagia dengan suami saya? Tidak juga. Saya juga bisa saja hanya mencintai suami saya. Bisa saja saya hanya butuh pemikiran lain selain suami saya. Pujaan hati saya. Seorang yang tak dapat saya bayangkan hidup tanpanya.

Suami saya. Pria yang luar biasa. Ia bisa membuat saya tertawa. Ia bisa membahagiakan saya. Meski kadang, saya tak tahu apa arti bahagia. Manusia begitu klise saat berusaha memberi definisi.. mereka berlagak seakan mereka mengerti, padahal mereka pun kadang tak tahu artinya. Sama seperti cinta, bahagia itu relatif. Saya sendiri tak tahu arti cinta, tak tahu arti bahagia. Yang pasti, saya merasa nyaman disini. Menikmati hari-hari saya mengurus ketiga anak dan suami saya yang begitu saya kasihi, meski tak luput dari sesekali mengingatnya. Ia. Yang saya tak tahu untuk apa perannya. Buruk atau baik. Pahit atau manis. Mengganggu atau justru memberi bumbu.

Saya, wanita berusia 35 tahun yang berbahagia. Menikah, dan memiliki tiga anak. Saya mencintai suami saya, dan bisa saja mencintai pula seorang pria. Pria yang juga memiliki keluarga dan tak saya ganggu-ganggu keutuhannya. Saya tak pernah bertemu dengannya, namun selalu mengingatnya di hari-hari saya. Namun, saya takkan pernah meninggalkan suami saya untuknya. Meski saya tahu persis dia pun mencintai saya. Semua hanya butuh manajemen. Perasaan, atau perusahaan? Apapun namanya, hingga saat ini, saya tak tahu apa arti cinta. Saya hanya bersyukur. Setelah 12 tahun, akhirnya saya mampu memahami ini semua. Ini yang tak saya tahu definisinya. Ini yang telah saya rasakan bertahun-tahun lamanya. Ini yang indah, sekaligus tidak indah. Ini yang manis, tetapi juga pahit. Ini yang membuat saya hidup, sekaligus mati.

Ini yang terjadi, dan saya takkan pernah lari.

3 Comments

      1. Abang Yusuf

        Saking terhanyutnya dengan cerita yang ditulis, sampai-sampai nggak baca judulnya. Fiksi yang baik akan membuat pembacannya berpikir kalau tokoh utama pada cerita tersebut adalah penulis itu sendiri.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s