Not So Thirty, Flirty, and Thriving

Kemarin, saya mendapat undangan dari sahabat saya Ashtra Effendy untuk mengikuti workshop Kreasi Lurik di pameran Bang Edo Hutabarat. Kami menggunting kain-kain perca Lurik yang diolah menjadi modular cantik, yang nantinya bisa dijadikan aplikasi hingga scarf.  Menjahit dan membuat prakarya sepanjang acara, membuat saya kembali mendapat waktu untuk ‘berinteraksi’ dengan diri sendiri.

Saya teringat beberapa hari sebelum menginjak usia 30, saya merefleksikan kembali hidup saya dan mencoba memastikan apakah saya telah berbuat cukup. Bagi diri saya, bagi orang-orang di sekitar saya. Sifat perfeksionis saya membuat saya seringkali merasa kurang, dan 24 jam dalam sehari seakan tak pernah cukup.

Well I thought, at least my transition to ‘thirty’ would be somewhat sweet, yang ternyata tidak juga. Di malam pergantian tahun itu, ternyata saya malah terbaring sakit. Sendirian di rumah sakit. Menyelami pukul 00:00 sambil bertanya-tanya pada Allah, what kind of message are you sending me? Saya seakan dipaksa beristirahat, dan disadarkan bahwa saya perlu bernafas; enjoy everything I do and tone down a bit.. because I did enough.

Saya kembali menjahit dan menyelami kain-kain kecil yang kini telah berubah menjadi modul bundar tadi. Tidak sempurna, namun cukup adanya. And it’s okay. Tuhan seakan terus mengingatkan saya bahwa ‘tidak sempurna’ itu baik-baik saja.

Meski diawali dengan pahit, saya pulang dari rumah sakit dengan keadaan bahagia. Selama disana, saya didatangi teman-teman terdekat dan membicarakan hal-hal berkualitas yang bebas basa-basi; a true ingredient of a happy life. Teman-teman yang mengingatkan saya untuk tenang dan menikmati setiap momen berlalu. Dan di sanalah saya menyadari bahwa hidup saya sangat jauh dari ‘contentness’. Selama ini, saya hidup di masa depan. Terus berlari mengejar mimpi dan cita-cita tanpa mengingat bahwa apa yang berada di saat ini sungguh layak untuk dinikmati. Ternyata benar adanya, saya memang lelah. Pikiran saya sungguh kelelahan.

It took me a while to realize that ‘the present’ is called ‘present’ for a reason.

Ashtra and her beautiful family.

Saya pun mencoba untuk mengurangi isi kepala saya dalam satu waktu, sedikit demi sedikit. Melakukan meditasi dan mengosongkan pikiran kapanpun saya mampu; di mobil, saat menunggu antrian – kapanpun saya mampu. Saya juga berusaha melakukan detoks smartphone, hanya mengeluarkannya dari tas saat ada telpon/notifikasi masuk atau saat saya ingin menghubungi orang lain. Media sosial juga hanya saya lihat sesuai jadwal, dan tidak mengikuti momen real-time seperti itu. Ya, saya memilih untuk live in the present.

 

Sungguh kali ini saya bisa menangkap pesan Allah untuk saya. Ia ingin saya lebih tenang, dan merasakan setiap nafas yang saya hirup. Everything can wait. Cita-cita boleh setinggi langit, tapi rezeki dan keberhasilan sudah ada yang mengatur. Tidak serta merta harus berlari, kok, untuk mencapai tujuan. And I will do everything differently this time.

 

Cheers,

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s