7 Hal Yang Perlu Disiapkan Sebelum Berlibur Tanpa Anak

Memulai topik ini rasanya bingung 😀

Di satu sisi, saya memikirkan banyak kondisi Ibu di luar sana, yang mungkin tidak terbiasa menitipkan anak pada orang lain, yang tidak merasa ada yang cukup dipercaya untuk dibiarkan ‘memegang’ anaknya selama lebih dari 24 jam, dan sebagainya.

Kedua putra saya, Atharjahja dan Bhamaskaja.

Namun, saya yakin setiap Ibu tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri dan juga anaknya. Saya disini hanya memberikan gambaran situasi yang saya miliki. Dimana akhirnya saya mengetahui, for my own sanity, saya butuh waktu ‘away’. Waktu kontemplasi dan berpikir, apa yang terbaik bagi saya, dan juga anak-anak saya.

Ada banyak momen rasa bersalah yang saya lalui, namun akhirnya saya memberanikan diri mengakui bahwa ada kalanya saya butuh menyendiri.

Beverly Hills, 2017

Liburan tanpa anak-anak saya mulai pertama kali di tahun ke-4 pernikahan saya. Saat rencana pergi berkeliling Spanyol itu disusun, saya tengah menyusui anak kedua saya, Bhamaskaja Satria. Rasanya campur aduk ketika Ibu saya mengajak saya turut menemaninya pergi, just because, Ayah saya baru saja meninggal dunia setahun sebelumnya, and that she needs a getaway, dan adik saya pun sedang dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk menemani beliau.

Si Kakak dan Ayah

So there, saya menyampaikan ajakan Ibu saya kepada suami, Adid Nugroho. Tak butuh waktu banyak baginya untuk mengiyakan, karena ia mengerti sudah berapa lama saya tidak intens bersama dengan Ibu saya setelah dua kali hamil dan punya anak.

Ada beberapa hal yang waktu itu saya perhatikan, sebelum saya pergi berlibur.

1. Tanyakan dirimu, apa alasanmu berlibur sendirian?
Ada seorang kenalan saya yang merasa baik-baik saja meski memegang 4 orang anak tanpa ART atau suster setiap harinya. Tak butuh me-time lama-lama ataupun liburan. Saat kamu merasa baik-baik saja dan tak bisa menghabiskan seharipun tanpa anak-anak, artinya kamu beruntung! Tak perlu dipaksakan berlibur sendirian apabila rasanya masih aman dan nyaman.
Sekedar informasi, saya sempat mengalami Postpartum Depression (PPD) yang tak berhenti hingga 4 tahun lamanya (cerita lengkapnya ada disini). Dan rasanya suami saya menyadari bahwa saya tengah membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar me-time.
Saya anggap ini semua pucuk dicinta ulam tiba. Ibu yang mengajak saya menemaninya pergi, suami yang legowo menjaga anak-anak, dan saya, yang (ternyata) pada saat itu mengalami PPD namun tidak pernah menyadari.

2. Pastikan waktunya sudah tepat.
Salah satu hal yang membuat rencana berlibur panjang itu terealisasi adalah karena Bhamaskaja sudah berusia 2 tahun. Artinya? Momen saya pergi tersebut memang terjadi exactly setelah ia disapih. Pada waktu itu si Kakak berusia 4 tahun 3 bulan, dan Bhamas 2 tahun. Apabila saya masih menyusui, sesungguhnya saya tidak akan terpikir untuk pergi tanpanya.

3. Siapkan support system yang dapat dipercaya.
Dalam kasus saya, support system terbesar adalah suami. Namun pada setiap keluarga tentu akan berbeda. Ibu saya adalah tipikal Ibu bekerja, sementara Ibu mertua sudah cukup berumur—saya tidak tega menitipkan anak-anak kepada beliau. Untungnya, ART yang sudah lama bekerja di rumah juga sangat membantu menjaga anak-anak.

4. Buat anak-anak kita sibuk.
Berikan kegiatan yang terencana setiap hari selama kita tak bersama mereka. Saat sibuk dan asyik dengan kegiatan, mereka akan lupa waktu dan merasa lelah – ini memudahkan mereka untuk istirahat dan menuju ke hari berikutnya.

5. Ceritakan tentang tujuan kita pergi, dan mengapa anak-anak belum bisa turut serta.
Setiap kali saya hendak berlibur cukup lama, saya selalu menyampaikan alasannya dari jauh-jauh hari. Karena setiap waktu libur selalu saya selipkan dengan menampung ide dan inspirasi (ya, pada saat libur pun saya tak pernah betul-betul mengosongkan pikiran, selalu ada saja inspirasi yang tertampung dan akhirnya memaksa saya untuk menulis dan lagi-lagi bekerja), saya selalu menyebut pada mereka bahwa saya akan pergi bekerja. Selain itu, saya sampaikan bahwa lokasi bekerja tersebut jauh dan membutuhkan waktu lama untuk dicapai dengan pesawat terbang – dalam kasus saya ini berhasil, karena anak saya tak betah lama berada di dalam pesawat, sehingga mereka mengerti kenapa mereka tidak bisa ikut. Untuk membuat mereka lebih tenang, saya pun selalu bertanya oleh-oleh apa yang mereka inginkan. Saya ingatkan mereka untuk memilih sesuatu yang unik dan tidak bisa ditemui di Tanah Air.

6. Siapkan ‘perbekalan’ yang bisa membuat kondisi rumah kita lebih nyaman.
Sebelum pergi, biasanya saya selalu belanja groceries lengkap, dengan semua hal yang disukai oleh anak-anak. Mulai dari beraneka daging sampai camilan. Akan lebih baik apabila kita menemukan katering yang cocok, sehingga siapapun yang memasak di rumah pun bisa lebih banyak membantu anak-anak.

7. Pastikan kita tetap bisa dihubungi, apapun yang terjadi.
Meski judulnya ‘liburan’ tetap saja kita harus terus mengawasi kondisi di rumah – namun jangan sampai parno ya, Moms! Biar bagaimanapun, kitalah yang paling mengerti solusi dari kondisi-kondisi yang tak terbayangkan sebelumnya.

Agak terlihat seperti mukjizat memang, karena liburan pertama saya bersama anak-anak memiliki durasi cukup lama: 2 minggu! Namun pada saat pergi itulah saya menyadari bahwa selama ini saya telah mengalami PPD–karena sepulangnya dari sana, I was healed. Anak-anak pun surprisingly baik-baik saja—dan karena inilah, saya memastikan bahwa harus ada waktu bagi saya di setiap tahunnya untuk berkontemplasi. Hanya karena saya benar-benar membutuhkannya, untuk jiwa saya, usaha yang saya rintis, juga Ibu tercinta yang tengah menikmati hari tuanya – well she’s my number one travel buddy after all.

Ingatlah, bahwa kita juga perlu mencintai diri kita sendiri. Saat sudah yakin akan berlibur, santailah! Buatlah afirmasi baik yang menyatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

 

Cheers,

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s