Membiarkan Mereka Berjuang

Life is so full of surprises – terutama saat kita berperan sebagai seorang Ibu. Sebuah profesi yang akan mengajarkan kita begitu banyak hal setiap hari, dan setiap momen bisa memberikan kita insight yang tidak kita sangka bisa didapatkan.

Coffee first, darling?

Kunjungan saya ke Kidzania bersama Atharjahja yang cukup spontan beberapa waktu lalu, menjadi sebuah titik yang menyadarkan saya lagi tentang makna menjadi orang tua. Sebuah pukulan telak yang rasanya bisa menjadi sesuatu yang begitu berpengaruh untuk well-being anak saya di hari depan. Satu pertanyaan yang sempat begitu sulit saya jawab.

Seberapa jauh saya akan membiarkan anak saya berjuang?

Kidzania adalah sebuah taman bermain besar yang berbentuk simulasi kota. Setelah membeli tiket masuk layaknya check in untuk melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, kami masuk ke kota mini tersebut dengan antusias. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk memilihkan profesi untuk Atharjahja.

Eh, jadi… tunggu dulu. Ini profesi untuk saya atau untuk anak saya?

Sambil mengantri di lokasi untuk bekerja sebagai pilot, saya membiarkan bocah kecil itu berlari kesana kemari dan mengobservasi tempat. Ia bosan mengantri, ujarnya. Dan saya lah yang berada disana untuk memastikan tempatnya tidak hilang. Begitu bangganya perasaan ini ketika ia masuk ke dalam cockpit tanpa saya, hingga saat ia terlihat di sebuah layar besar tengah mengemudikan pesawat. Norak, mungkin. Tapi air mata saya mengambang di pelupuk mata. Itu anak saya. Kebanggaan saya. Subhanallah.

Setelah menjadi pilot, saya mulai menahan diri untuk mengontrol keinginannya. Somehow saya sadar bahwa agar ia dapat menikmati dan merasakan semuanya, pilihan harus datang dari dirinya sendiri. Dengan yakin dan tanpa ragu, ia memilih untuk menjadi pemadam kebakaran. Duduk dan antri menunggu giliran sendiri. Saya sengaja menunggunya dari kejauhan, mencoba membiarkannya survive menunggu dengan bantuan sebuah buku, sekitar 30 menit lamanya.

11 Kidzos — mata uang Kidzania — telah didapatnya. Melihat adanya mobil-mobilan tak jauh dari lokasi firefighter, membuat keinginannya tetiba tak terbendung untuk menyetir mobil. Yang saya sukai dari tempat ini adalah, sungguh ada aplikasi dalam peraturan. Sebuah simulasi mini akan perjuangan sehari-hari yang kerap harus kita lakukan on a daily basis. Ternyata, anak-anak ini membutuhkan SIM untuk bisa menyetir mobil. Dan layaknya aplikasi SIM pada umumnya, mereka perlu melakukan tes kesehatan yang juga dipungut biaya. 10 Kidzos ia habiskan untuk check up. Dan saat kami mendaftarkan diri untuk mendapat SIM, ternyata ada lagi 20 Kidzos yang perlu dibayar.

Saat uangnya kurang, ia bertanya kepada saya, “Kita harus kerja ya, Bunda?”. Hati saya terasa berat. Rata-rata ‘wahana’ bekerja disini memberikan 5 Kidzos untuk anak. Itu artinya ia harus bekerja lagi sebanyak 4 kali untuk mendapatkan SIM. Namun setelah saya sampaikan situasinya dengan kalimat yang cukup sederhana, ia tidak mengurungkan niatnya. Dengan penuh semangat, anak ini berjalan dan memilih pekerjaan dengan antusias. Beberapa jam kami habiskan untuk mengantri, masuk ke wahana pekerjaan, berjalan mencari wahana, mengantri lagi, masuk lagi, dan seterusnya sampai tak terasa uang kami terkumpul sebanyak 30 Kidzos. Begitu bahagianya saya saat melihat anak berusia 5 tahun ini tersenyum lebar, melihat saya menghitungkan uangnya yang sudah terkumpul lebih dari 20 Kidzos. “Uang Athar sudah cukup, Bunda! Ayo kita bikin SIM!”

Satu lembar kartu kecil itu mengubah pandangan saya. Tentang cara mendidik. Tentang apa yang akan dihadapi anak kita nanti, dan bagaimana saya menyiapkannya untuk menghadapi hidup. We love them, for sure – tapi daya juang mereka adalah sesuatu yang patut dan harus kita perjuangkan. And if we love them, we better prepare them to survive. Parenting adalah bagaimana membuat anak kita berjuang. Merelakan mereka berusaha, dan menerima konsekuensi atas perbuatan mereka sendiri.

I know how hard it is, saya pun rasanya masih berat setiap kali membiarkannya berusaha sendiri. I mean… tell me, Mommies – how many times did you break the rules you make your own?

Jangan ragu untuk berbagi cerita di comment field berikut 🙂

 

Cheers,

2 Comments

  1. Astrie K.

    “Uang Athar sudah cukup, Bunda! Ayo kita bikin SIM!” — aku senyum sendiri baca ini.
    Athar sudah mengerti ‘If you want something, earn it’, ya?
    Dan aku tahu dari mana datangnya sifat semangat dan keuletannya Athar yang super ini 🙂

    Like

    1. Prisya

      Insya Allah Tante Cied.. Insya Allah! Karena nggak ada yang turun dari langit, we have to go for it (OMG that rhymes so well LOL) :* Thank you for stopping by!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s