When It Feels Quite Possible To Become Vegan

Beberapa waktu lalu saya sempat kontak kembali dengan seorang teman lama. Tri Haptiko Sukarso atau Tiko– seorang teman main sewaktu SMP yang kemudian kembali in touch lewat Instagram. Tiko bercerita bahwa ia telah memilih gaya hidup raw-vegan, alias tidak makan apapun yang diolah dengan panas berlebihan, serta tidak pula makan makanan apapun yang berasal dari binatang. Apabila pembicaraan ini terjadi beberapa tahun lalu, mungkin saja saya mengerenyitkan dahi. Ia mungkin bisa—well good for him. Tapi apabila dijalani sendiri rasanya tak mungkin!

Namun surprisingly, raw-vegan tidak lagi terlihat sebagai sesuatu yang impossible. Sesuatu membuat saya mampu mengerti sudut pandangnya. Beberapa tahun ini saya banyak mencoba mendengarkan tubuh dan mencari tahu apa yang sesungguhnya ia inginkan.

Kira-kira semenjak tahun lalu, saya sering sekali makan Sushi. Tak semata-mata karena menyukai makanan Jepang, tapi karena tubuh seakan ‘meminta’ makanan dingin yang minim olahan, hampir sepanjang waktu. Tidak vegan, memang, karena protein masih menjadi amunisi utama. Namun ada sebuah perubahan prinsip yang membuat diri lebih memilih sederet Sashimi dibanding Nasi Kebuli atau Red Velvet Cake. Pilihan snacking pun seringkali jatuh pada lalap sayuran mentah dengan sambal, sesuatu yang masih menjadi favorit hingga saat ini.

Processed with VSCO with hb1 preset

Sebenarnya alasannya sederhana: saya mulai memikirkan apa yang dirasa setelah mengonsumsi sesuatu. Jujur saja, gorengan dan makanan berminyak kerap membuat tubuh terasa ‘panas’. Sashimi yang dingin dan minim olahan namun berprotein tinggi, cukup membuat kenyang dan merasa ternutrisi. Selain itu, makan makanan minim minyak dan olahan serta lebih banyak plant-based food membuat saya merasa tidak lagi terlihat dekil meski sedang lelah atau tengah dihadang deadline pekerjaan. Mungkin ada benarnya sayuran bisa membuat kulit terlihat glowing!

Saya sangat berterima kasih kepada Tiko yang kemudian berbagi pandangannya tentang pola makan vegan. Ternyata sederhana saja sebabnya; saat ini industri dan pasar mengalahkan segalanya. Kita tidak lagi dapat menjamin aman atau tidaknya makanan hasil ternak yang dimakan. Tak bisa dipungkiri, hampir sebagian besar daging yang kita temui di supermarket telah melalui terapi hormon yang tujuannya adalah membuatnya super besar atau super gemuk, sehingga keuntungan lebih besar bisa diraih.

Dan disanalah saya mencoba untuk selangkah lebih dekat pada makanan vegan.

Processed with VSCO with hb1 preset

Processed with VSCO with hb1 preset
Saya baru mengerti, bahwa makanan Vegan pun bisa sungguh enak dan jauh lebih sehat!

Tiko menyarankan untuk mencoba makan di Burgreens, sebuah restoran vegan yang (ternyata) luar biasa enak. Suami saya Adid Nugroho adalah orang yang sangat JAUH dari clean eating, namun dia menghabiskan seporsi makanannya tanpa mengeluh. Meski awalnya skeptis, ia mengacungi jempol untuk Mushroom Steak (ya, tanpa daging!) yang dimakannya. Saya mungkin tidak langsung menetapkan diri sebagai seorang yang berpola makan raw-vegan, tapi keinginan untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan terasa makin kuat. Lebih banyak sayuran, dan lebih banyak makanan minim olahan. Saya juga ingin mulai mencari buku resep makanan vegan – setidaknya akan ada usaha lebih untuk memberi tubuh nutrisi terbaik saat sedang mood makan sehat.

Bagaimana dengan teman-teman? Apakah sudah ada yang mencoba ‘mendengarkan’ apa yang diinginkan tubuh? Stay tuned for more clean-eating stories.

 

Cheers,

Slide1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s