The Ugly Truth About Being an Entrepreneur

Beberapa hari yang lalu, seorang kenalan saya yang sudah lama tidak bertemu sempat menghubungi lewat Whatsapp dan bertanya apabila kami dapat ngopi bersama. Saya tentu senang. Namun saat saya tanyakan perihal pertemuan itu, ia menjawab:

Aku mau buat nursingwear, pengen nanya-nanya sama kamu.

Tetiba saya gamang, honestly at first I didn’t know what to say, pikiran saya merambah kemana-mana. Dan ‘a major flashback’ pun terjadi.

1069309_599868996720594_569627367_n
Lookbook pertama Matroishka, 2013

Matroishka ‘dilahirkan’ di tahun 2012, tepatnya di bulan November. Saya sendiri tidak tahu pasti tanggal anniversary-nya, namun yang saya tahu adalah pada bulan itu saya mulai berusaha mencari solusi dari sebuah masalah; bagaimana saya ingin mengenakan nursingwear yang benar-benar saya sukai, yang tetap stylish dan dapat mendukung saya menyusui dengan segala tantangan dan dinamikanya.

fb_img_1440210349674
Saya bersama Ayah, sekitar 2013

Dulu, saya masih memiliki Ayah. Ya, my great Daddy. Seseorang yang begitu saya kagumi, yang percaya akan apa yang saya cita-citakan. Ayah, tidak pernah ragu akan goals saya. Tanpa banyak tanya, Ayah memberikan saya modal usaha. Dan dengan pengalaman seadanya, saya memulai dengan membuat desain koleksi dan menghubungi web developer. Tentunya setelah membuat logo dan branding yang tepat di mata saya.

Tahun pertama Matroishka sungguh luar biasa, respon teman-teman dan customer benar-benar di luar ekspektasi saya. Penjualan di sebuah pameran Ibu dan Bayi di tahun 2013 pun meledak. Sungguh saya tidak menyangka, sesuatu yang diawali iseng-iseng berhadiah bisa begitu menghasilkan.

Namun, langkah awal hanyalah sebuah gerbang memulai bisnis. Setelah saya hamil di tahun berikutnya, semangat saya pun menurun drastis. Penjualan di tahun yang sama pun anjlok. Modal produksi tetap jalan, namun karena saya hamil sambil menyusui, rasanya tenaga dan pikiran saya tidak berfungsi untuk hal lainnya. Belum lagi karena adanya seorang kenalan yang menanyakan pada saya tentang bagaimana cara membuat nursingwear dan berakhir dengan meng-copy apa yang saya buat. Not to mention dengan harga super murah!

Hari-hari saya dipenuhi kegundahan. Produksi dan publikasi terus saya lakukan. Koleksi pun berganti koleksi. Namun followers Matroishka mandek di 800-an saja. Sempat saya merasa malu dengan teman-teman saya sesama pekerja fashion, betapa dulu saya memiliki karir potensial sebagai fashion stylist dan juga merchandiser Interior—dan ternyata hanya segini saja pamor brand yang saya ciptakan.

10628584_10152722245068728_5443644203282076668_n
Bhamas ketika newborn, dan Athar usia 2 tahun

Namun saya tidak menyerah. Di antara bayi yang baru lahir dan tenaga yang belum benar-benar pulih pasca melahirkan, saya tetap bersemangat mengerjakan Matroishka. Meski waktu itu saya mengurus 2 anak: newborn dan toddler sendirian karena sempat ditinggal nanny, saya terus mencoba melakukan sesuatu yang berbeda. Seringkali saya tidak bisa tidur karena berpikir. Mencoret-coret mind map dan brainstorming sendiri karena tidak punya tim. Karena semua masih saya lakukan sendirian.

Dan di sanalah Andra Alodita muncul.

Andra yang memang kawan lama saya, tengah hamil. Ia menanyakan pada saya apakah saya punya celana hamil yang nyaman untuknya. Waktu itu yang saya pikirkan hanyalah..

Andra Alodita mau pake baju gue?

And there she went, Selebgram pertama yang meng-post Matroishka! Dari satu post saja, followers saya bertambah hingga 300 orang dalam satu minggu. Sampai saat ini saya belum tahu bagaimana cara yang tepat untuk cukup berterima kasih kepada Andra.

Processed with VSCO with hb1 preset
Foto terbaru Andra mengenakan Matroishka

Semangat saya pun kembali. Begitu bersemangatnya saya hingga Matroishka terasa lebih padat hingga pekerjaan-pekerjaan kantoran yang pernah saya dapatkan dulu. Pada Juli 2015 tahun yang sama, sales kami dalam 1 bulan berhasil mengalahkan rekor yang kami pecahkan di Pameran Ibu dan Anak di tahun 2013. Di momen itu pula, beberapa publik figur mengepost foto mereka tanpa saya minta, tanpa memungut biaya atau pemberian. Dan setiap kali saya menerima post tersebut, followers saya bertambah ratusan. Semangat saya kian naik. Belum lagi saat Matroishka masuk ke media cetak berkat Mbak Ivy Aralia Nizar.

1508060_10152344994103728_2396133399501695018_n
Matroishka di majalah Ayahbunda, styled by Ivy Aralia Nizar

Namun, meski sudah dalam kondisi relatif aman, ibarat mesin, ini baru saja di tune-up. Eksterior harus dipoles dan interior harus divakum total. PR saya masih banyak. Followers belum menginjak 10,000 saat itu, masih amat sangat kurang di mata saya.  Kadang saya tergoda untuk mengunci akun Instagram dan membeli followers untuk memberi reputasi baik pada brand saya ini. Tapi saya pikir, buat apa? Buat apa pencitraan apabila tidak sebanding dengan sales yang saya dapatkan? There’s way something more than that… itulah yang saya percaya.

Dan di sana, saya mengerti bahwa perjuangan saya masih panjang. Ibaratnya sebuah perjalanan, saya baru saja menemukan jalan bebas hambatan yang begitu lama dicari. Perjalanan sempat lancar di awal, namun saya tersesat di tengah-tengah dan harus mencari lagi jalan tepat yang seharusnya saya lewati. Dan saat akhirnya saya menemukan arah yang tepat. Langkah selanjutnya adalah kembali menyalakan mobil dan mengikuti arah tersebut.

Kembali ke masa sekarang, saya rasanya tak percaya bisa melewati masa-masa itu. Melihat sekitar 15,700 followers organik Matroishka yang sesungguhnya masih jauh dari ‘banyak’ di mata saya, saya sangat bersyukur kepada Tuhan. Meski tak selancar jalan bebas hambatan, telah terjadi sebuah progress disini.

fb_img_1480470748506
Saat proyek isengmu bergeser menjadi pekerjaan sesungguhnya

Namun saat kembali mengingat kenalan saya yang membutuhkan insight tempo hari, saya masih ragu. Matroishka masih sangat berkembang dan saya belum pantas memiliki posisi sebagai seseorang yang ‘pro’. Ada sangat banyak bagian dari puzzle yang belum tersusun dengan baik—di antara sleepless nights yang sempat saya alami, kegundahan saat modal pernah mengucur dan tidak sebanding dengan penjualan yang masuk… dan begitu banyak momen lain yang pernah terjadi. Dan yang terberat adalah, momen-momen itu saya jalani sendirian. Tanpa partner, tanpa tim, tanpa siapapun di samping saya yang benar-benar mengerti apa yang saya lalui. Meski keadaan saat ini sudah jauh membaik, saya masih merasa belum mampu berbagi.

2016-07-11-02-27-45-1
Cordoba – Spanyol, Juli 2016

Di antara penuhnya kepala, saya teringat sebuah momen membuka mata yang cukup krusial, terjadi pada Juli 2016 silam. Saat itu, saya berlibur mengelilingi Spanyol selama 12 hari bersama keluarga dan sahabat-sahabat, yang semuanya belum memiliki anak. Mereka datang dari latar belakang berbeda-beda; di antara mereka seorang artis film sukses, ada juga yang pengacara, pengusaha… all from different backgrounds. Di antara kondisi liburan yang mayoritas hanya leha-leha dan melihat pemandangan, saya mendapat banyak sekali insight bisnis dan berbagai pengetahuan lain. Dan di sanalah, di antara cantiknya kota Madrid, Valencia, hingga Cordoba, saya menyadari apa yang seharusnya terjadi dengan Matroishka.

I had to catch my grip and form a team. This has to be bigger than this.

Dan setelah sebuah momen yang pernah terjadi di Montserrat (saya akan bercerita soal ini nanti), sebuah titik balik yang membuat saya ‘bangun’, saya pulang ke hotel saya di Barcelona dan melihat diri saya sendiri. Sesuatu yang tak pernah terjadi setelah sekian lama.

img_20160716_111109
Montserrat – Barcelona

Saya tersadar bahwa selama ini saya ‘hilang’ . Setelah saya menjadi Ibu, tak pernah ada ‘saya’ dalam hidup saya. Saya tersadar bahwa selama ini saya tak pernah benar-benar tahu apa yang harus saya pakai saat bepergian, tak tahu pasti cara menjalani hari-hari saya, dan kerap melakukan me-time ke berbagai tempat dan pulang ke rumah dengan perasaan hampa.

Di sanalah saya menyadari bahwa saya selama 4 tahun, saya mengidap postpartum depression. Semenjak saya melahirkan Atharjahja, saya tahu ada yang salah dalam diri saya—namun saya baru menyadari ini telah lama terjadi setelah saya survive. Setiap hari saya bangun dengan rasa takut dan gundah, yang seringkali membuat saya sangat mudah marah dan emosional – namun saya mencoba untuk mengalihkannya. Setiap hari. Selama 4 tahun lamanya.

Ya.

Lucunya, saya hanya tersenyum dan merenung. Bersyukur, dan tak lagi menangis. Cukup begitu saja. Saya pun merayakan pertemuan saya dengan diri saya lagi. Akhirnya.

Sesampainya di Jakarta, saya segera merealisasikan cita-cita yang saya tetapkan saat berlibur di Spanyol: memiliki tim. Alhamdulillah, tidak terlalu sulit bagi saya untuk menemukan tim yang cocok—saya sangat bersyukur atas ini. Formasi #matroishkateam pertama pun terbentuk; tim yang luar biasa, dan bersedia untuk berkembang dan belajar bersama Matroishka. Karena mereka pula, kami bisa merayakan ulang tahun ke-4 Matroishka yang begitu menyenangkan.

Processed with VSCO with hb1 preset
Matroishka’s 4th Anniversary High Tea – #mothersinbloom

Di sinilah mata saya kembali terbuka; seorang entrepreneur hebat bukanlah mereka yang mampu menjadi jack of all trades, namun mereka yang dapat me-manage teamwork.

Dalam 3 bulan, followers Instagram kami meningkat hingga 4000—not bad at all. Dan sekali lagi, ini bukanlah karena hasil kerja saya sendiri. Meski saya akui, butuh sesuatu yang berbeda dari yang biasanya saya lakukan untuk menjaga disiplin work flow tetap terjaga. Sejak awal, saya sudah memantapkan hati untuk mendukung para Ibu yang ingin full-time menjaga anaknya dan tetap berkarya. Dan inilah yang terjadi, mayoritas anggota tim adalah Ibu muda yang bekerja dari rumah. Kami bertemu 1-2 minggu sekali untuk meeting dan sisanya dilakukan melalui komunikasi mobile dan E-mail.

Setelah saya sembuh, saya tersadar betapa depresi pasca-melahirkan, dapat benar-benar mengunci kepala. Setelah sembuh, pikiran saya terbuka. Saya tak lagi merasa emosional. Saya bisa memetakan isi kepala dan bekerja dengan efektif. Tak hanya itu, saya juga dapat lebih baik membagi waktu antara mengurus keluarga, pekerjaan, dan juga networking – ya, menjaga hubungan dengan teman-teman sesama perintis enterprise sangatlah penting. Tak hanya untuk kepentingan pekerjaan semata. In fact, being friends with fellow startup-makers actually keeps you sane! Dengan bertemu dan berinteraksi dengan sesama pembuat startup hampir setiap hari, motivasi saya untuk selalu keep up terus muncul dan terjaga. Kami kerap berbagi cerita dan ups and downs, juga memberi dukungan moril satu sama lain. Tak jarang pula terjadi kolaborasi yang menyenangkan.

Processed with VSCO with hb1 preset
I adore these ladies big time.

Dan di sinilah saya merasa sangat bersyukur. Tiba-tiba saya merasa… terlepas dari mampu atau tidaknya saya memberikan insight, dan terlepas dari apapun yang dapat saya bagi kepada kenalan saya, setidaknya saya sudah membantu seseorang. Meski ya, sempat terjadi kontradiksi dalam pikiran saat mengingat plagiat yang sempat saya alami beberapa tahun silam. Namun rasanya tak adil apabila kejadian itu terus menjadi patokan saya.

Tanpa sadar, kenalan saya ini telah membuat saya berpikir dan belajar sesuatu yang berharga.

Apa yang saya alami di masa lalu—jungkir balik, perjuangan, kesulitan hingga bangkitnya Matroishka—justru menjadi alasan utama saya untuk berbagi. Satu pertanyaan itu membolak-balik diri saya, me-recall semua yang pernah terjadi dengan Matroishka, dan membuat saya sadar bahwa saat kita memiliki kekuatan, di sanalah tanggung jawab kita muncul.

Melihat Matroishka saat ini, inilah yang tertanam dalam pikiran saya—I want to do this forever. I want to keep making Mommies’ stylish and happy along their challenges of early Motherhood, and support the society by working for this cause. I want to grow with it – cherish all the good and the bad and let it ‘create’ this brand. And I know, our team will never stop learning from it. Saya masih jauh dari sukses–namun terpenting, setidaknya saya tak pernah lagi menanti-nanti weekend untuk melepaskan diri dari pekerjaan.

Untuk teman-teman yang ingin membuat usaha, just go for it. Just start somewhere. You’ll never know where it could bring you. Dan pada saat keadaan tak seindah ekspektasi, just promise yourself that you will still do it forever. Because there is no such thing as a wrong business—only a wrong market.

Processed with VSCO
With all the ups and downs, living the life YOU designed feels better than any other kind of life.

Semoga tulisan ini bermanfaat 🙂

 

Cheers,

Slide1

 

 

 

PS: Special thanks to Zhafira.

4 Comments

  1. Nana

    Mbak Prisya, luar biasa banget cerita dan perjuangannya. Dari pertama ngeliat (dan ngebeli) nursing wearnya matroishka di mother and baby fair 2013 itu aku dah ngefans! Semoga tetap semangat terus yaa buat bisnis dan everything else that you pursued!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s