Akhirnya pemirsa, saya (telah) menulis buku!

Sekian lama tidak me-update blog saya. Alasannya? Cukup sederhana–terlalu banyak yang harus saya selesaikan, saya benahi, saya atur dan selesaikan. Namun akhirnya, saya memberanikan diri untuk menulis dan mengungkap ekspresi yang telah tertumpuk sekian lamanya di kepala saya. Tak hanya melalui satu-dua frase atau ungkapan, melainkan melalui untaian kata yang terkemas rapi. Sebuah buku, lebih tepatnya.

Ya, akhirnya saya menulis buku! Dan buku ini saya selesaikan, dalam waktu kurang dari 48 jam. Haha!

Sejak dulu, menulis sudah menjadi bagian dari diri saya. Namun terkadang saya merasa tulisan saya terlalu gila, terlalu nestapa, terlalu heart-broken. Terlalu sulit untuk dicerna orang lain karena dalamnya lapisan yang ada di hati saya. Belum lagi tenaga yang perlu saya kumpulkan untuk menyatukannya dalam sebuah benang merah yang serumpun.

Namun, 4 November membolak-balik segalanya.

Di tanggal 4 November, saya terbangun dari tidur dengan pemikiran bertubi-tubi. Kepala saya diisi pemikiran tentang keluarga, pekerjaan—semua menjadi satu di tanggal 4 November… dan rasanya hampir-hampir membuat saya gila. Percikan-percikan tajam dari setiap aspek hidup saya bersatu di hari ini, dan menjadi tumpukan emosi yang menanti untuk diungkapkan.

Dan di pukul delapan pagi hari itu, saya menelepon suami saya yang tengah berada di luar kota. Saya berkata padanya tanpa ragu, “I’m gonna throw out all these emotions. This insanity. I’m gonna heal myself from these madness.”

“Izinkan saya meminta waktu satu hari saja untuk menenangkan diri—saya akan menulis buku. Ya, satu hari penuh. Sebuah buku berjudul 4 November. Dan saat kamu pulang dari dinas besok, kamu akan membaca sebuah buku yang sudah rampung.”

Suami saya yang tengah berada di luar kota untuk keperluan dinas itu sempat tak percaya, namun ia mengerti betul istrinya ini. Ia tahu, saya kerap menulis tanpa berpikir di saat terhanyut dalam emosi luar biasa. Ia tahu betapa mudahnya saya tenggelam dalam imaji dan khayalan ketika mengetik dan mengumpulkan buah-buah kalimat. Menyusun paragraf tanpa membiarkannya hilang dalam bayangan. Membiarkannya tertuang dengan begitu cepat seperti derasnya air terjun Niagara saat emosi itu terkumpul kuat dari hati nurani terdalam. Dan jadilah 4 November, sebuah kumpulan frase dan puisi yang saya tulis dan selesaikan selama 12 jam lamanya.

Ini, adalah ungkapan terdalam hati saya. Kisah nyata yang bercampur fiksi. Setiap kata, setiap kalimat, serta setiap titik dan koma, adalah senandung diri yang terpatri. Terolah dalam batasan realita dan mimpi. Membuat kalian para pembaca, merasa rancu dan berpikir akan apa yang sesungguhnya saya alami, dan apa yang tidak.

Awalnya, saya ingin menyelesaikan buku ini pada tanggal 4 November dan menamainya dengan judul yang sama. Namun pada akhirnya, saya banyak memberi sentuhan akhir di tanggal-tanggal berikutnya. Saya pun menamai buku ini Menggali Hati. Sesederhana karena berbagai tautan kata tertuang karena hati saya yang tergali sedemikian rupa,.

Kau akan membacanya saat kau tengah menikmati hujan, merenungi kehidupan, dan mensyukuri kenyataan. Memeranikan diri untuk mengaduk-aduk imajimu saat ia terpapar nurani. Berjanji untuk membuka hati dan pikiranmu saat membacanya, dan biarkan theater of mind-mu menari-nari dalam ketidakpastian.

Kau akan membiarkan dirimu tenggelam di dalamnya.

Saya, dan ilustrasi karya Ruth Marbun.

Sekarang, doakan saya segera mendapat ilustrator yang pas untuk mendampingi frase-frase dan cerita saya, ya!

 

Cheers,

Slide1

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s