About 5 Years of Marriage

Setiap tahun, saya dan suami selalu merayakan ulang tahun saya dan ulang tahun pernikahan kami dalam satu dinner date yang bersamaan. Sesederhana karena ulang tahun pernikahan kami terjadi di bulan Juli, dan ulang tahun saya di bulan Agustus. Mengapa bersamaan? Karena biasanya kami akan makan enak di sebuah lokasi fine dining yang memungkinkan kami untuk mengobrol panjang lebar, mendiskusikan hidup kami yang telah lalu dan rencana-rencana kami yang akan datang. Akhir minggu kemarin, kami sepakat untuk merayakannya di Akira Back, di kawasan Setiabudi Jakarta. Seperti biasa, kami akan berbicara dan saling bercerita. Berbagi rencana dan cita-cita. Saling membantu dan memberi masukan satu sama lain. Dan biasanya, sambil dinner date berjalan, diam-diam saya akan merenungi apa saja yang telah kami lalui.

2016_0828_10061000

5 tahun sudah usia pernikahan kami.

Saya bertemu suami di usia 23 tahun, menikah dengannya tepat satu tahun setelah ia mengajak saya bicara melalui Facebook, dan telah memiliki 2 anak berusia 2 dan 4 tahun pada ulang tahun pernikahan kami yang kelima.

Hingga saat ini, saya masih terus menanti-nanti waktu ia pulang ke rumah dari kantor. Hampir setiap hari, saya masih menanyakan akan makan siang apa ia setiap waktu menunjukkan pukul 12. Kami berpelukan setiap kali bertemu di rumah setelah beraktivitas. Dan setidaknya, kami mencoba untuk menyempatkan diri bepergian (jauh maupun dekat) dengan kedua anak kami tanpa bantuan pengasuh, dan mengimbanginya dengan kencan berdua di waktu-waktu tertentu.

Ya, saya akan berbicara tentang pernikahan, dan maknanya di mata saya setelah 5 tahun hidup bersama orang yang sama.

2016_0828_09102700

Pertama kali saya berjumpa dengan suami, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat saya yakin. Wajahnya begitu familiar dan terlihat mudah didekati. Tidak ada yang membuat saya takut sewaktu mengenalnya. Saya tak sama sekali merasakan gengsi. Ada sebuah perasaan tulus yang muncul setiap kali kami berinteraksi. Mungkin ia memang istimewa, sejak awal.

Di awal saling mendekati, tentu ada banyak rasa berdebar. Menunggu-nunggu kapan ia akan mengirim pesan singkat melalui Blackberry Messenger, atau kapan ia akan mengajak saya kencan.

Enam tahun, dan dua anak telah kami lewati bersama. Dan apakah perasaan-perasaan berdebar itu masih ada?

Saya akan berkata jujur.

Tidak 🙂

Namun bagi saya, ini bukanlah hal buruk.

Saya melihatnya hampir setiap hari, setiap waktu. Saya telah mengenal caranya melakukan semua hal—mencuci mobil, menonton televisi, marah besar, hingga saat ia meriang karena terserang virus. Suami saya berubah dari sosok Prince Charming yang menjemput saya dari istana untuk bersanding, menjadi seorang sahabat yang merangkap keluarga. Saat saya meraih tangannya untuk saya gandeng, atau saat saya merangkulnya sewaktu ia berjalan, apakah ada rasa berdebar? Memang tidak, tapi ada rasa ikhlas yang saya rasakan. Ada rasa mengerti dan ingin lebih mengerti. Setiap kali ia marah dan melakukan hal-hal ceroboh yang kadang membuat kemarahan saya menyeruak sampai ke ujung kepala, ada banyak hal yang membuat saya bungkam dan akhirnya memilih untuk menyendiri dibandingkan mempersoalkannya lebih panjang lagi. Ada keinginan yang memaksa saya (in a good way) untuk menjaga hidup dan hubungan kami berdua tetap baik… untuk selama-lamanya.

Menikah, telah merubah sudut pandang saya tentang cinta. Saya pun kini ragu, apakah cinta itu sesungguhnya. Apakah yang kau butuhkan hanya cinta untuk menikah? Tidak juga. Saling mencintai tanpa kecocokan, sama saja bohong. Namun di satu sisi, kita tak akan bisa menghilangkan rasa saat kita telah mencintai seseorang.

Namun saat debar itu hilang, apakah ini masih bisa disebut cinta?

2016_0828_09220200

Mungkin kita akan teringat masa-masa muda, sewaktu kuliah atau bahkan SMA. Mencari kesenangan yang pernah kita temui. Mencoba menghadirkannya. Atau bahkan, membandingkannya.

Menurut saya, itu wajar.

Cinta, adalah sesuatu yang muncul dari hati. Cinta, adalah anugerah Tuhan. Tidak ada yang bisa memaksa kita untuk mencintai siapapun. Dan sebaliknya, saat kita telah mencintai seseorang, tak akan ada yang dapat menghilangkannya.

img_4827
Ayah, saya, dan suami, Idul Fitri 2010. Momen dia ‘meminta’ saya.

Kata Carrie Bradshaw, cinta itu identik dengan zsa zsa zsu—debar yang kita rasakan saat menemui seseorang. Rasa yang muncul ketika mengingat seseorang yang kita ingat pertama kali dan terakhir kali setiap harinya. Dan ketika kita telah hidup dengan orang yang sama setelah bertahun-tahun lamanya dan tak lagi merasakan zsa zsa zsu, kita akan bertanya apa arti perasaan kita sesungguhnya. Namun di satu sisi, sebuah riset yang pernah dicantumkan di majalah National Geographic menyebutkan bahwa hormon yang melepaskan rasa ‘cinta’ hanya bisa bekerja selama lima tahun berturut-turut, dan setelah itu ia akan hilang.

Jadi, apakah saya sungguh mencintai orang ini?

Ketika pertanyaan itu muncul, biasanya saya akan memandangi kedua anak saya. Kedua anak lelaki saya yang masih balita. Di wajah mereka ada guratan garis wajah suami—dan juga saya. Tergabung menjadi satu. Mereka, adalah darah daging kami berdua.

Sewaktu saya dan suami masih pacaran dulu, saya akan berdebar setengah mati saat ia menjemput saya ke rumah, atau ketika kami boncengan naik vespa, atau ketika ia mengecup kening saya untuk pertama kali.

img_0716
Bali, 2012

Namun, kami tidak pernah menyangka apa rasanya mendengar tangis anak kami yang baru saja saya lahirkan, untuk pertama kali.

Dulu, kami tak pernah membayangkan rasanya melihat anak kami pentas di atas panggung, atau bahagia yang dirasakan saat dokter berkata ia sudah bisa pulang ke rumah sewaktu dirawat di rumah sakit.

Kami tidak pernah membayangkan perasaan bangga bekerja dengan jerih payah sendiri dan membiayai iuran sekolah anak-anak kami. Atau terenyuhnya hati kami saat mendengar mereka berdendang mengikuti irama lagu yang kami putar di mobil sewaktu sedang berada di dalam mobil.

Dalam pernikahan, ada sebuah pendewasaan yang terjadi. Sesuatu yang membuat kita pasrah, namun dalam keadaan tersenyum. Menyadari bahwa hidup akan bermakna saat kita menjalani peran kita, memahami diri kita dan fungsi kita hidup. Dan dalam kasus kita, sebagai seorang istri, dan juga ibu dari anak-anak kita.

Saya belum mendapat jawaban dari pertanyaan saya tentang cinta, namun saya sungguh bersyukur. Suami saya amat sangat mengerti saya, dan iapun merasa saya mengerti dirinya. Terlepas dari segala kekurangannya, ia adalah Ayah yang luar biasa bagi anak-anak saya. Ayah yang penyayang, yang bertanggung jawab. Kami bahu-membahu menghadapi semua kesulitan dalam hidup. Ia selalu berusaha ada untuk saya, seperti saya selalu ingin ada untuknya. Dan yang terpenting, ia selalu memahami kekurangan saya.

Terlepas dari ini cinta atau tidak, apa lagi yang bisa saya cari dalam hidup?

2016_0828_09115500

Sambil menikmati 48hrs Wagyu Short Rib dan Toro Sashimi yang kami pesan di Akira Back, saya menggenggam tangan suami saya. Sambil melihatnya tersenyum, saya memilih untuk mencintainya. Memilih komitmen sebagai jalan hidup kami berdua. Karena apapun dan bagaimanapun perasaan yang kami miliki, kekuatan akan muncul saat kami berjalan bersama-sama.

If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.

prewed

🙂

 

Cheers,

Slide1

 

12 Comments

  1. Keven

    Saya umur 29 tahun dan belum menikah. Saya sudah sering mendengar soal hormon cinta yg hanya akan bertahan beberapa tahun saja setelah menikah, dan terus terang itu sering membuat saya khawatir. Saya berasal dari keluarga yg tidak begitu harmonis dan saya sangat cemas akan masa depan pernikahan saya. Dapatkah saya, sebagai seorang kepala keluarga, menafkahi keluarga saya? Akankah saya mengulangi kesalahan Ayah dan Ibu saya? Tulisan Prisya membuat pikiran saya menjadi lebih terbuka dan rasanya saya sedikit lebih paham mengenai makna sebuah cinta dan perkawinan. Thanks for sharing =)

    Like

    1. Prisya

      Apa yang kita dapatkan di masa lalu justru bisa jadi kunci yang membuat kita tidak melakukan hal yang sama. Apabila dimulai dari rasa tertarik pada orang yang (memang) baik, I think you’re in a good start. Selanjutnya kita tinggal memahami dan menjalani peran kita. Terima kasih atas komentarnya 🙂

      Like

  2. Atta

    Ada Rasa ikhlas yang Kita rasakan….sama sih…
    Kalo sy sama Koko Ada perasaan tenang tanpa merasa kekurangan kalo liat anak beranjak besar?
    Happy anniversary Prisya Adid

    Like

  3. Dila

    Terima kasih sudah menulis ini, Mbak Prisya.. Saya jadi dapat insight soal cinta-pasca-pernikahan. Soal ini sempat jadi pembahasan dengan calon suami–yang sekarang sudah jadi suami. Pertanyaanku waktu itu, “apa iya aku masih akan cinta pada orang yang sama setelah lima, sepuluh, dua puluh tahun dan bahkan seterusnya? kalau rasa itu memudar, lalu apa yang dipertahankan?” Sekarang, pertanyaan itu belum menyeruak lagi karena pernikahan kami baru berjalan satu tahun, semua terlihat baik-baik saja. Tapi, kalaupun terjadi hal-hal yang kurang menarik suatu saat nanti, saya akan mengingat tulisan ini ???

    Like

    1. Prisya

      Saya seneng Mbak Dila menyebutnya ‘hal menarik’ dan bukannya ‘hal buruk’, karena memang hal negatif yang terasa pedas sekalipun bisa menjadi bumbu di pernikahan. Semoga Mbak Dila dan suami juga langgeng selalu ya 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s