Hari Merdeka, di Mata Atharjahja

Dahulu sewaktu mendiang Ayah saya masih hidup, beliau selalu mengingatkan saya untuk mencintai Indonesia. Memilih sekolah anak berbahasa Indonesia, mengingat dengan akurat sejarah Indonesia, dan menggunakan warisan budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Ayah juga selalu mengajak saya mengikuti perlombaan 17 Agustus-an, yang baginya memiliki makna tersendiri dan tak hanya sarat dengan tradisi.

Ayah pernah bercerita, arti dari lomba makan kerupuk adalah mengingatkan kita betapa sulitnya makan sewaktu zaman penjajahan. Dahulu, jangankan lauk pauk, mendapat kerupuk sebuah saja di antara perantauan sudah cukup beruntung. Biasanya kerupuk yang dibuat dari tepung tapioka itu dibawa di sebuah kantong dan dibawa untuk dibagi bersama-sama. Kerupuk juga tidak mudah rusak atau basi, sehingga sering dijadikan alternatif bekal saat perang.

Karena Athar sudah genap 4 tahun, saya pun bersemangat untuk mengajaknya ikut lomba tradisi 17-an. Kebetulan di perumahan kami memang diadakan beraneka lomba, termasuk kategori makan kerupuk untuk anak usia di bawah 5 tahun. Tak perlu absen menggunakan tangan, yang terpenting adalah siapa yang menghabiskan kerupuk lebih dulu. Bhamas pun ikut meski menjadi peserta termuda, hanya karena dia suka sekali kerupuk πŸ˜€

Siapa sangka, Athar memenangkan lomba makan kerupuk pertamanya? Ia mendapat juara pertama! Selamat, Athar!

Mungkin saat ini ia tidak terlalu mengerti arti dari lomba dan tradisi tersebut. Saat ini di mata Athar, Hari Merdeka berarti menikmati kerupuk bersama teman-teman. Menikmatinya, meski jauh dari rasa kenyang.

Namun, saya menganggap ini sebagai suatu awal mengenalkan nasionalisme yang pernah ditularkan sang Aki kepada saya. Sebelum ia mengenal apa itu budaya Indonesia, dan apa saja yang diwariskan leluhur kepada kita. Sebelum ia mengenal mendahulukan kepentingan bersama sebelum kepentingan pribadi. Sebelum ia mengerti bahwa pembangunan dan masa depan bangsa dimulai dari hati nurani dan perilaku kita sendiri.

Kalau kata Bung Karno, “Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah.”

πŸ™‚

Selamat Hari Merdeka, teman-teman!

 

Salam,

Slide1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s